Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan

Artikel

Avatar

Ketika bulan Ramadan, tadarus Alquran menjadi ibadah yang sangat dianjurkan. Toa di setiap masjid dan musala senantiasa saling sahut-menyahut melantunkan ayat suci Alquran. Yah, walaupun tahun ini banyak yang absen juga, sih. Tapi ibadah tadarus Alquran itu sendiri masih masih selalu diupayakan di rumah-rumah. Tentu banyak yang berlomba-lomba tadarus untuk bisa khataman Alquran di bulan Ramadan, bulannya Alquran. Sebagaimana sebuah hadis yang diriwayatkan Tirmidzi:

“Siapa yang membaca satu huruf dari Alquran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan. Semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf” (HR Tirmidzi dan disahihkan di dalam kitab Shahih Al-Jami’, no. 6469).

Hadis tersebut sangat cukup menggerakkan umat muslim untuk banyak-banyak bertadarus dan menghabiskan waktu lebih sering dengan Alquran. Belum lagi ditambah dengan ceramah-ceramah para ulama dan ustaz yang berbicara tentang pahala dan keutamaan mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadan. Hal tersebut cukup menjadikan khataman Alquran dalam bulan Ramadan merupakan suatu dambaan.

Sayangnya bagi sebagian perempuan, hal tersebut menyebabkan keresahan tersendiri. Bagi perempuan yang masih dalam masa subur, siklus haid yang rutin minimal sekali dalam sebulan ini membuat mereka harus berpikir ulang. Bagaimana caranya agar bisa khatam Alquran selama bulan Ramadan ini?

Mungkin, bagi orang-orang yang telah terbiasa dalam mengeja bahasa Arab, hal ini tidak menjadi persoalan besar. Dua juz dalam sehari bahkan tidak akan terasa. Namun bagi mereka yang hanya bisa maksimal membaca satu juz dalam sehari, khatam Alquran dalam sebulan akan menjadi perjuangan yang tentu sulit. Selain itu, lingkungan juga pasti sangat memengaruhi kegiatan ibadah kita di bulan Ramadan.

Persoalan seperti ini yang juga hampir selalu saya alami setiap tahunnya. Sejak lulus dari pesantren, mengkhatamkan Alquran sekali di bulan Ramadan merupakan suatu kemewahan sekaligus perjuangan tersendiri. Lingkungan dan kegiatan sehari-hari yang berbeda dengan sewaktu di pesantren dulu, benar saja cukup menyita waktu. Yah, walaupun hal tersebut juga sebenarnya nggak bisa dijadikan alasan yang tepat, sih.

Pernah saya memperkirakan jadwal haid ketika bulan Ramadan. Ketika itu, jadwal haid jatuh di minggu pertama bulan Ramadan. Setelahnya, saya berusaha ngebut tadarus membaca Alquran, berusaha bisa khatam tepat waktu. Paling tidak bisa khatam sekali selama bulan Ramadan. Namun lagi-lagi realita mematahkan, minggu terakhir di bulan Ramadan tamu itu datang lagi. Alhasil, pupuslah harapan khataman Alquran di bulan Ramadan.

Dan begitulah, siklus haid yang tidak terprediksi juga menyebabkan keresahan perempuan semakin bertambah. Kodrat perempuan yang seharusnya disyukuri, terkadang berubah menjadi objek makian kepada diri sendiri. Astaghfirullah, padahal kan nggak boleh kayak gini.

Hingga pernah saya berpikir, apa memang sesulit ini perjuangan untuk bisa khataman Alquran ketika bulan Ramadan bagi perempuan? Yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain, memang sebenarnya tadarus membaca Alquran itu harusnya bagaimana, toh? Apa banyaknya jumlah khataman ketika bulan Ramadan bisa menjadi tolok ukur Ramadan Goals, gitu?

Kemudian jawaban itu datang dari sebuah channel YouTube Mbak Nana. Iya. Konten Ramadan di channel YouTube bersama abinya, Prof. Quraish Shihab. Salah satu kontennya yang berjudul, Tadarus: Berlomba Khatam atau Baca Sedikit tapi Paham. Mana Lebih Baik? cukup memberikan penjelasan tentang keresahan ini.

Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa tadarus berasal dari kata darasah, dalam bahasa Arab yang artinya berulang-ulang atau lapuk. Lapuk juga ada kaitannya dengan berulang-ulang, berulang-ulang ditempa matahari sehingga dia menjadi lapuk.

Tadarus artinya mempelajari Alquran secara berulang-ulang dan dilakukan bersama orang lain, jadi bukan sendiri. Karena tadarus menunjukkan keterlibatan dua pihak, jika kata darasah biasa menunjuk satu orang, maka tadarus menunjukkan dua orang saling belajar dan mengulang-ulang sampai paham.

Prof. Quraish Shibah mencontohnya jikalau dua orang belajar atau tadarus 10 ayat dalam satu hari atau satu bulan itu lebih baik daripada orang yang khatam Alquran tanpa dia paham. Boleh jadi apa yang dilakukan selama ini, membaca saja tanpa memahami, meskipun merupakan hal baik, tetapi bukan itu yang dimaksud dengan tadarus.

Menurut beliau, Alquran itu seperti alam raya. Alam raya dari dulu sama, bumi dari dulu sama tetapi rahasianya bisa bermacam-macam diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang mempelajarinya. Sehingga bisa ada rahasia baru yang orang lain belum tahu, begitu juga Alquran, dan seperti itulah tadarus.

Tentu kita tidak perlu merasa dinomorduakan hanya karena kodrat yang dialami perempuan. Kita bisa lebih baik dari sekadar khatam Alquran selama bulan Ramadan. Yakni dengan memanfaatkan hari-hari suci kita dengan mengulang satu ayat ke ayat yang lainnya, tentu disertai pemahaman terhadap ayat tersebut.

Tidak khatam Alquran di bulan Ramadan bukanlah menjadi masalah jika kita paham benar arti tadarus Alquran itu sendiri. Toh, Alquran tentu tidak memberi syafaatnya hanya untuk orang-orang yang khatam paling banyak, bukan?

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Baca Juga:  Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
1


Komentar

Comments are closed.