Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Fesyen

Dilema Kosmetik dan Jilbab Halal: Serba Halal dan Dihalalkan

Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi oleh Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi
20 Mei 2019
A A
kosmetik dan jilbab halal

kosmetik dan jilbab halal

Share on FacebookShare on Twitter

Pernahkah Anda mempertanyakan, apakah jilbab atau kosmetik yang Anda pakai setiap harinya tergolong halal? Jika tidak halal, apakah Anda akan menggantinya dengan yang halal? Ditanya tentang batasan halal, sebagai suatu hal yang diizinkan dan sesuai dengan syariat, perkara halal pada akhirnya menjadi keharusan bagi setiap Muslim, seiring dengan kesadaran beragama pada diri seorang Muslim guna menjalankan syariat sesuai agama Islam.

Mulai dari pakaian, makanan, jilbab, sampai pada kosmetik yang lengkap dengan label—bahkan sertifikat halal—seolah penanda bagaimana konsep halal mulai dijadikan patokan oleh masyarakat. Dua hal yang menjadi sorotan kali ini adalah kosmetik dan jilbab. Memilih kosmetik misalnya, tak ayal setiap perempuan akan memikirkan bagaimana bedak dan foundation yang disapukan ke wajah tentu harus terlindung sekaligus melindungi, mengandung bahan alami, serta tidak merujuk pada bahan penyusun yang dianggap haram.

Lengkap dengan tagline untuk menegaskan ke-halal-an suatu produk, sebut saja iklan pada salah satu brand kosmetik turut mempresentasikan visual dari sejumlah endorser melalui artis pendukung yang tampil secara muslimah. Seolah memunculkan indikator bahwa seorang muslimah dapat—dan harus—tampil secara cantik, mampu memilih dan menggunakan make up, lalu syaratnya adalah dengan make up yang halal.

Suka atau tidak suka, konstruksi ini yang secara nyata muncul untuk membuat sebuah iklan kosmetik berlabel halal menjadi memiliki kekuatan untuk pasaran konsumen yang dituju. Terlebih, terdapat salah satu brand yang mendapuk dirinya sebagai brand kosmetik halal tahun 2019 dan cukup memiliki posisi kuat dalam pasaran kosmetik di Indonesia.

Selanjutnya jilbab. Jilbab—atau hijab—menjadi penanda yang secara langsung mengkonstruksi identitas seorang muslimah dalam pakaiannya. Jilbab secara sederhana menunjukkan cara berpakaian seorang muslimah yang tentu dalam hal ini mampu membedakannya dengan laki-laki, sekaligus secara sosial menjadi bentuk atribut bagi perempuan muslim. Mengenakan jilbab tergolong dalam tuntunan. Namun demikian, apabila salah satu brand jilbab dicap dalam label yang halal, apakah ini berarti jilbab merek lain adalah jilbab yang tidak halal?

Sedikit menilik pada cerita salah seorang teman yang pernah mencoba meneliti tentang pemaknaan (resepsi) salah satu komunitas hijabers pada suatu kota terhadap iklan jilbab. Misi awal yang diusung sebenarnya muncul karena iklan pada jilbab tersebut memuat konten halal dan sarat atas kehalalan disampaikan secara eksplisit. Eksplisit melalui tagline, sekaligus eksplisit pula pada adegan yang ditayangkan pada iklan.

Merujuk pada konsep halal sebuah jilbab, tentu sebenarnya ini sah-sah saja. Mengapa demikian? Jika kemudian yang disasar adalah mayoritas muslimah guna mempertahankan brand awareness atas segmentasi iklan para muslimah tersebut, tentu ini sah untuk sebuah rivalitas pada sejumlah produk jilbab dan hijab.

Pasar memungkinkan adanya persaingan dan setiap brand sejenis guna berlomba untuk menawarkan produknya agar dikenal masyarakat. Syukur-syukur, masyarakat perhatian, tertarik, berekspektasi, dan pada akhirnya beraksi untuk membeli.

Baca Juga:

Kalau Kosmetik Punya Zodiak, Viva Itu Capricorn. Nggak Banyak Gaya, tapi Bisa Diandalkan

Membongkar Rahasia Viva Cosmetics yang Harga Bedak Sachet-nya Lebih Murah daripada Bayar Parkir 2 Ribu!

Namun demikian, makna awal yang disampaikan kepada masyarakat tentu tidak sejauh untuk sampai pada bagaimana kuasa iklan bekerja. Masyarakat tak terlalu peduli dengan apakah iklan yang disampaikan memuat wacana tersendiri atas pesan yang disampaikan, atau justru mengandung maksud tertentu di luar hanya sekedar informasi yang menghibur dan informatif.

Konsumen dalam hal ini cenderung dan cukup hanya sebatas tertarik serta berminat pada suatu merek barang tertentu dan lalu membelinya. Perkara puas atau tidak, itu urusan belakangan. Sesederhana bahwa masyarakat memilih barang atas pengaruh bahasa persuasi dalam promosi iklan, yang mana dalam hal ini, konsep dan istilah “halal” menjadi bumbu pemanis yang ada di dalamnya, namun justru menjadi pemikat minat yang luar biasa.

Lantas, apakah konsep halal pada sejumlah produk kosmetik dan jilbab hanya diperuntukkan bagi mereka yang masuk dalam segmentasi sasaran seorang muslim saja? Dalam konteks promosi, bagaimanapun juga sebuah merek ataupun brand pasti memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) tertentu yang sudah ditetapkan.

Menggunakan promosi melalui iklan boleh jadi adalah upaya komunikasi pemasaran yang biasa kita temui sehingga dengan menentukan segmentasi tertentu atas iklan yang dipasang, hal ini adalah sebuah keniscayaan. Namun demikian, jika segmentasi diperluas dari batasan yang ditentukan, perkara untung rugi boleh jadi menjadi challenge yang harus ditindaklanjuti. Singkat kata, sebuah perusahaan tidak akan membiarkan produknya hancur di pasaran dan tergerus produk lainnya, hanya karena salah sasaran target pasar.

Perkara kosmetik dan jilbab. Dua hal ini identik dengan perempuan dan muslimah. Dengan jenis ataupun merek apapun, konsep halal yang tersemat dalam kedua produk barang ini pada akhirnya menjadi sebuah pemakluman yang justru mengukuhkan kekuatan produk di mata masyarakat. Terlepas dari pro dan kontra yang ada, pada dasarnya memilih produk kosmetik dan jilbab yang sarat ke”halal”an adalah hal yang sah dan diperolehkan.

Namun demikian, tak ada salahnya jika sebagai konsumen, kita harus lebih cermat dan bijak dalam menghadapi “perang promosi” semacam ini. Jika segala sesuatu disemat dalam bentuk yang serba “halal”, bisa-bisa mukena ataupun pakaian koko pada akhirnya juga harus berlabel halal? Bahkan, pakaian dalam pun juga harus halal? Wallahu a’lam bis-shawab.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: DihalalkanHalalJilbabKosmetik
Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi

Rhesa Zuhriya Briyan Pratiwi

ArtikelTerkait

5 Brand Makeup Lokal Low Budget Cocok untuk Daily Makeup Terminal Mojok

5 Brand Makeup Lokal Low Budget, Cocok untuk Daily Makeup

14 November 2022
4 Dosa Besar Mixue yang Menyusahkan Pelanggan

Lagian Kenapa Kalau Mixue Belum Punya Sertifikat Halal?

7 Januari 2023
Membongkar Rahasia Viva Cosmetics yang Harga Bedak Sachet-nya Lebih Murah daripada Bayar Parkir 2 Ribu!

Membongkar Rahasia Viva Cosmetics yang Harga Bedak Sachet-nya Lebih Murah daripada Bayar Parkir 2 Ribu!

9 September 2024
5 Tips Belanja Barang Imut di Miniso biar Nggak Bokek Terminal Mojok

5 Tips Belanja Barang Imut di Miniso biar Nggak Bokek

10 September 2022
5 Sisi Gelap Dunia Makeup Artist Terminal Mojok

5 Sisi Gelap Dunia Makeup Artist

18 Agustus 2022
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma

13 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

12 Istilah Hujan yang Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo” Mojok

12 Istilah Hujan yang Terdengar Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo”

30 April 2026
Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan Mojok.co

Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan

25 April 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Saya Orang Wonogiri, Kerja di Jogja. Kalau Bisa Memilih Hidup di Mana, Tanpa Pikir Panjang Saya Akan Pilih Jogja

24 April 2026
Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026
3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang

29 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.