Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Desa Melikan Klaten, Sentra Penghasil Gerabah Putaran Miring Pertama di Dunia

Farahiah Almas Madarina oleh Farahiah Almas Madarina
29 Juni 2024
A A
Desa Melikan Klaten, Sentra Penghasil Gerabah Putaran Miring Pertama di Dunia  

Desa Melikan Klaten, Sentra Penghasil Gerabah Putaran Miring Pertama di Dunia (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tahu nggak sih di Klaten ada Desa Melikan yang terkenal dengan kerajinan gerabahnya. Uniknya, teknik pembuatan gerabah di sini beda dari yang lain! 

Berbicara tentang potensi desa wisata di Kabupaten Klaten memang tidak ada habisnya. Mulai dari keindahan alamnya, keunikan seninya, hingga keberagaman budayanya yang selalu mampu menarik minat para wisatawan luar.

Salah satu desa yang terkenal memiliki potensi luar biasa di bidang kerajinan gerabah adalah Desa Melikan di Kecamatan Wedi, Klaten. Desa ini berbatasan langsung dengan Kecamatan Bayat, sehingga banyak orang mengenal kerajinan tersebut sebagai “gerabah Bayat”.

Sejak dahulu kala, daerah Bayat dan sekitarnya memang sudah tersohor sebagai sentra kerajinan gerabah tradisional. Produksi gerabah yang sudah berlangsung selama ratusan tahun lamanya itu pun terus dilestarikan secara turun-temurun hingga sekarang. 

Akan tetapi ada satu keunikan dari kerajinan gerabah di Desa Melikan yang tidak dimiliki oleh kerajinan gerabah di daerah lain. Keunikan ini terletak pada teknik pembuatannya yang menggunakan papan putaran (perbot) miring sehingga disebut sebagai gerabah putaran miring. Teknik putaran miring dilakukan oleh perajin dengan cara duduk di sebuah dingklik atau bangku pendek dengan posisi kaki lurus menyerong dan salah satu (kakinya) mengayuh pedal untuk memutar perbot.

Keberhasilan para warga dalam menjaga dan melestarikan kerajinan gerabah di desa ini sukses menjadikan Desa Melikan Klaten sebagai desa wisata pada tahun 2020. Dan dua tahun setelahnya, yaitu 2022, “gerabah putaran miring” resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kemendikbudristek.

Asal-usul gerabah putaran miring Desa Melikan Klaten

Menurut cerita getok tular masyarakat setempat, kerajinan gerabah putaran miring sudah ada sejak kedatangan Sang Pangeran Mangkubumi, yaitu sekitar 600 tahun lalu. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan sejarah berupa Gentong Sinaga yang pada waktu itu digunakan sebagai tempat berwudu atau padasan.

Meskipun sentra produksi gerabah ini berada di Dusun Pagerjurang, Desa Melikan, Klaten, namun orang-orang lebih familier menyebutnya sebagai “gerabah Bayat”. Konon katanya, hal tersebut berkaitan secara historis dengan Sunan Pandanaran yang pada waktu itu tengah menyebarkan agama Islam di daerah Bayat dan mewariskan teknik putaran miring ini kepada masyarakat Desa Melikan.

Baca Juga:

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

Mulanya, teknik paling umum pembuatan gerabah di daerah tersebut adalah menggunakan perbot tegak. Teknik ini mengharuskan perajin duduk dengan posisi kedua kaki merentang atau terbuka lebar agar bisa mengoperasikan perbot tersebut. Padahal, mayoritas perajin gerabah di Desa Melikan adalah perempuan (ibu-ibu) yang di masa itu masih berkebaya dan menggunakan kain jarik.

Melihat kondisi tersebut, Sunan Pandanaran pun mewariskan teknik putaran miring untuk memudahkan perajin perempuan bekerja. Selain ditujukan untuk menjaga nilai-nilai kesopanan dengan tidak membuka kaki terlalu lebar seperti laki-laki, teknik ini juga memiliki keunggulan karena tidak memakan banyak tenaga dalam penggunaannya.

Hingga saat ini, ada dua macam perbot yang digunakan oleh para perajin di Desa Melikan Klaten, yaitu perbot tegak dan perbot miring. Perbot tegak digunakan untuk menghasilkan berbagai macam gerabah dalam ukuran besar, sedangkan perbot miring dikhususkan untuk gerabah-gerabah berukuran kecil dan tipis seperti piring, gelas, serta cobek.

Proses pembuatan gerabah putaran miring

Selain berfokus di perbot yang menggunakan teknik putaran miring, proses pembuatan gerabah di Desa Melikan Klaten hampir sama seperti tahapan pembuatan gerabah pada umumnya. Pertama, perajin mempersiapkan bahan baku gerabah terlebih dahulu. Bahan yang disiapkan antara lain tanah liat basah (lempung) yang terdiri dari campuran tanah hitam, air, dan pasir.

Ketiga bahan tersebut lalu digiling menggunakan mesin molen agar bisa menghasilkan tanah plastis dalam jumlah banyak. Adonan lempung inilah yang kemudian siap untuk dibentuk dengan berbagai teknik, baik teknik putaran tegak, teknik putaran miring, maupun teknik cetak menggunakan barang bekas seperti kemasan sampo.

Khusus teknik putaran miring, lempung diletakkan di atas perbot miring yang bahan dasarnya papannya terbuat dari kayu jati atau mahoni. Perbot ini kemudian dilengkapi sedemikian rupa dengan pedal, pegas dan tali hingga bisa beroperasi menjadi papan putar pembuat gerabah.

Setelah lempung selesai dibentuk dan dipoles, perajin lalu melumurinya dengan tanah merah sebagai pewarna alami. Proses finishing ini dilakukan dengan mengeringkan lempung yang sudah dipoles, dihaluskan, kemudian dikeringkan kembali hingga mencapai hasil akhir yang diinginkan. Setelah seluruh tahapan finishing selesai dan gerabah sudah dalam kondisi kering maksimal, perajin lalu membakarnya di suhu 600-700 derajat celcius selama kurang lebih 10-12 jam. 

Pembakaran ini merupakan tahap terakhir yang membuat gerabah kuat dan permanen sebelum dijual ke pengepul maupun pembeli. Selain penggunaan perbot miring, keunikan gerabah di Desa Melikan Klaten juga terletak pada tampilannya yang berwarna cokelat kemerahan setelah melalui proses pembakaran. 

Gerabah khas Desa Melikan Klaten semakin dikenal oleh masyarakat

Menariknya, keunikan gerabah khas Desa Melikan ini berhasil mengundang minat peneliti mancanegara. Di tahun 1992, Chitaru Kawasaki, seorang guru besar dari Kyoto Seika University datang jauh-jauh dari Jepang untuk meneliti gerabah putaran miring.

Dedikasi Chitaru pada kerajinan gerabah dan masyarakat lokal pun ia wujudkan dengan membuat Laboratorium Gerabah Putaran Miring agar bisa digunakan sebagai pusat belajar mengenai gerabah putaran miring khas Desa Melikan Klaten. Selain membuat laboratorium, Chitaru juga menginisiasi berdirinya SMK jurusan kerajinan pertama di Indonesia bersama Titian Foundation dan Qatar Foundation.

Pelestarian gerabah putaran miring di Desa Melikan ini tentunya tak luput dari dukungan pemerintah. Berbagai macam strategi promosi yang dilakukan berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan lokal maupun mancanegara. Berkat kemajuan teknologi, distribusi pemasaran gerabah dari Desa Melikan telah berhasil menembus pasar online dan diekspor ke berbagai negara lain. 

Ditambah lagi dengan adanya website resmi Desa Melikan, segala informasi mengenai desa ini bisa semakin mudah diakses. Mulai dari profil, sejarah, batas wilayah hingga visi dan misi Desa Melikan tertulis dengan jelas di portal Dilan (Desa Inovatif Lancar Administrasi) oleh Kominfo Klaten. Dilansir dari laman resmi Pemkab Klaten, portal website ini ditujukan untuk mendukung kelancaran arus informasi dan pelayanan publik di masyarakat desa. Menarik sekali, bukan?

Jaga kelestarian budaya kita

Nah, tunggu apa lagi! Mari kita rencanakan kunjungan wisata ke Desa Melikan Klaten bersama keluarga atau teman-teman terdekat. Dengan berwisata ke Desa Melikan, kita tidak hanya membantu perekonomian masyarakat daerah, tetapi juga berkontribusi dalam memajukan UMKM Klaten.

Sebagai warga negara yang baik, kita perlu mengambil peran untuk menjaga kelestarian budaya negara kita. Warisan budaya Indonesia bukan hanya tanggung jawab masyarakat lokal dan pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Saya, kamu, kita semua wajib turut serta dalam menjaga, mendukung dan memastikan industri kerajinan ini terus berkembang secara berkelanjutan.

Penulis: Farahiah Almas Madarina
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Klaten Nggak Melulu Candi Prambanan dan Umbul Ponggok, Ada Desa Kemudo yang Tak Kalah Istimewa!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juni 2024 oleh

Tags: desa melikan klatengerabahgerabah putaran miringkabupaten klatenklaten
Farahiah Almas Madarina

Farahiah Almas Madarina

Magister Sosiologi yang banting setir ke dunia digital marketing. Menulis di Terminal Mojok sejak 2021 dan saat ini aktif menjadi remote worker di sebuah business architecture studio.

ArtikelTerkait

Saya Yakin Nggak Akan Ada Razia Mi Ayam Wonogiri, sebab Kami Cinta Damai dan Memilih Fokus Mengejar Rezeki kabupaten wonogiri mie ayam wonogiri

4 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Orang Jogja kepada Perantau Asal Kabupaten Wonogiri

28 Januari 2025
Water Gong di Klaten: Sungai Impian para Ikan terminal mojok.co

Water Gong di Klaten: Sungai Impian para Ikan

16 November 2021
Tips Menikmati Soto Garing Klaten bagi Kalian Penyuka Soto Berkuah Mojok.co

Tips Menikmati Soto Garing Klaten bagi Kalian Penyuka Soto Berkuah

11 September 2025
Angkringan Sering Disalahpahami dari Cawas Klaten atau Jogja, padahal Cikal Bakalnya dari Desa Ngerangan Klaten Mojok.co bogor

Angkringan Sering Disalahpahami dari Cawas Klaten atau Jogja, padahal Cikal Bakalnya dari Desa Ngerangan Klaten

10 Mei 2024
Menerka Alasan Klaten Nggak Punya Bioskop

3 Lokasi Ziarah Fenomenal di Klaten

21 Juni 2023
Kepel, Kuliner Unik dari Pedan Klaten yang Bikin Ketagihan. Nggak Cukup kalau Cuma Makan Satu!

Kepel, Kuliner Unik dari Pedan Klaten yang Bikin Ketagihan. Nggak Cukup kalau Cuma Makan Satu!

21 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

Mewakili Warga Tegal, Saya Ingin Menyampaikan Permintaan Maaf kepada Pemudik

28 Maret 2026
Penilai Properti: Profesi "Sakti" di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

Penilai Properti: Profesi “Sakti” di Balik Kredit Bank yang Sering Dikira Tukang Ukur Tanah

31 Maret 2026
Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026
10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata Mojok.co

10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata

26 Maret 2026
Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

Kata Siapa Tinggal di Gang Buntu Itu Aman dan Nyaman? Rasakan Sensasinya Ketika Gang Buntu itu Ditumbuhi Kos-kosan

1 April 2026
ASN Rajin Adalah Tempat Sampah Buat Atasan (Shutterstock)

Kalau Kalian Masih Ingin Jadi ASN di Era Ini, Sebaiknya Pikir 2 Kali. Tidak, 3, 4, bahkan 100 Kali kalau Perlu

28 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.