Derita Orang Bekasi Seperti Saya Hidup di Solo, Dibilang Sok Jawa sampai Susah Nimbrung di Tongkrongan

Derita Orang dengan Logat Bekasi yang Hidup di Solo (Unsplash)

Derita Orang dengan Logat Bekasi yang Hidup di Solo (Unsplash)

Ada satu hal yang cepat saya sadari setelah merantau dari Bekasi ke Solo. Identitas seseorang kadang lebih dulu dinilai dari cara bicaranya.

Gimana tidak? Setiap kali bilang saya berasal dari Bekasi, respons orang-orang hampir selalu sama. Mereka tertawa, lalu muncul candaan soal “beda planet” yang entah kenapa tidak pernah pensiun dipakai.

Tapi setelah itu, biasanya muncul permintaan yang lebih melelahkan. Saya disuruh ngomong pakai logat Bekasi. Lucunya, orang Solo sering lebih penasaran dengan logat saya daripada kehidupan saya sebagai anak rantau itu sendiri.

Dari situ saya mulai sadar kalau hidup sebagai anak rantau ternyata bukan cuma soal menyesuaikan tempat baru, tapi juga soal menghadapi bayangan orang lain terhadap identitas kita sendiri. Terutama lewat bahasa.

Orang-orang Solo lebih penasaran dengan logat Betawi daripada kehidupan anak rantau

Setelah urusan beda planet selesai, biasanya mereka mulai penasaran apakah cara bicara saya benar-benar se-“Bekasi” itu. Masalahnya, orang-orang punya bayangan tertentu tentang cara bicara anak Bekasi. Pokoknya harus nyablak, keras, dan terdengar siap debat kapan saja. Kalau bicaranya biasa saja, mereka malah kecewa.

Bahkan ada juga yang heran karena cara bicara saya dianggap kurang “Betawi”. “Kok nggak ada Betawi-betawinya sih?” begitu kata mereka. Seolah-olah semua orang Bekasi harus punya logat yang sama dan langsung terdengar seperti karakter di sinetron Si Doel.

Padahal saya juga ngobrol normal seperti orang pada umumnya. Nggak setiap kalimat harus terdengar seperti anak tongkrongan pinggir jalan. Nggak juga kayak lagi mantun di palang pintu acara lamaran.

Kadang saya merasa bukan sedang diajak ngobrol, tapi sedang diminta tampil. Seolah-olah logat Bekasi adalah hiburan yang harus dipraktikkan di depan umum.

Pengen nimbrung tongkrongan, tapi bingung mereka ngomong apa

Salah satu momen paling awkward jadi anak Bekasi di Solo adalah ketika nongkrong bareng orang Jawa lalu mereka mulai ngobrol full bahasa Jawa. Awalnya obrolannya masih campur Indonesia. Saya masih bisa ikut nimbrung dan ketawa.

Tapi semakin lama tongkrongan berjalan, Bahasa Jawa-nya makin keluar natural. Saya yang tadinya ikut ngobrol perlahan berubah jadi pendengar. Kadang saya merasa mereka ngobrol seru banget, tapi saya cuma bisa senyum sambil pura-pura ngerti. 

Mau minta diterjemahin juga nggak enak karena takut memotong suasana. Akhirnya saya cuma duduk sambil ketawa telat beberapa detik setelah yang lain ketawa duluan.

Di situ saya sadar kalau jadi perantau bukan cuma soal pindah kota. Ada rasa asing yang muncul ketika semua orang di sekitar bisa nyambung satu sama lain lewat bahasa, sementara kita masih sibuk menerka-nerka arti obrolannya.

Ketika mulai medok malah dibilang: Jangan sok Jawa!

Karena tinggal cukup lama di Solo, pelan-pelan saya mulai terbiasa dengan cara bicara orang sekitar. Ada beberapa kata Jawa yang akhirnya ikut masuk ke percakapan sehari-hari tanpa sadar.

Menurut saya itu adalah hal yang wajar. Orang yang hidup lama di lingkungan baru pasti akan ikut menyesuaikan diri.

Tapi anehnya, ketika saya mulai mengikuti bahasa sini, agak medok, justru banyak yang komentar. “Jangan sok Jawa gitulah,” kata mereka. “Aneh dengernya. Pakai Bahasa Indonesia aja udah, kita tetap paham kok.”

Di situ saya mulai bingung. Saya tinggal di Solo dan mencoba beradaptasi, tapi ketika proses itu mulai terlihat, malah dianggap aneh. Rasanya seperti saya tidak diberi ruang untuk berubah. Orang-orang lebih menikmati versi “Anak Bekasi” yang ada di kepala mereka.

Tidak terlalu Bekasi, tapi belum jadi orang Solo, apalagi Jawa

Tinggal lama di Solo bikin saya sadar kalau identitas ternyata bisa berubah pelan-pelan. Cara ngomong berubah, kebiasaan ikut berubah, bahkan cara bercanda juga mulai menyesuaikan lingkungan sekitar.

Tapi lucunya, perubahan itu tidak selalu membuat seseorang langsung diterima. Ketika masih nyablak, saya dianggap terlalu Bekasi. Tapi ketika mulai medok, saya malah dibilang sok Jawa.

Pada akhirnya saya jadi berada di tengah-tengah: tidak terlalu Bekasi, tapi juga belum benar-benar jadi orang Solo, apalagi Jawa.

Dari situ saya mulai paham kalau sebagian orang sebenarnya tidak ingin melihat saya beradaptasi. Mereka hanya ingin saya tetap jadi “anak Bekasi” versi internet: nyablak, Betawi, dan siap dijadikan bahan candaan kapan saja.

Ya mau bagaimana lagi. Mungkin memang begitulah akibatnya kalau mengenal Bekasi cuma dari meme, Entong, dan Si Doel.

Penulis: Ridhwan Nabawi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version