Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Ngomong Lu-Gue dengan Logat Medok Itu Salahnya di Mana?

Yogaswara Fajar Buwana oleh Yogaswara Fajar Buwana
15 Maret 2023
A A
Ngomong Lu-Gue dengan Logat Medok Itu Salahnya di Mana?

Ngomong Lu-Gue dengan Logat Medok Itu Salahnya di Mana? (Pixabay.coM)

Share on FacebookShare on Twitter

Di internet banyak bertebaran video menyindir orang yang ngomong lu-gue tapi logat medok. Ada yang bilang nggak cocok, ada yang bilang jangan sok Jakarta, ada yang bilang aneh, dan lain sebagainya. Sebenernya penggunaan kata lu-gue bukan berarti yang mengucapkan sok Jakarta, tapi dia bingung mencari kata yang pas untuk tidak menggunakan dua kata itu.

Misalkan bila kita menggunakan saya-anda dianggap terlalu formal dan kurang friendly, lalu menggunakan kata aku-kamu malah terkesan jijik, coba bayangkan dua laki-laki ngobrol menggunakan aku-kamu. Lalu bagaimana solusinya? Ya solusinya gunakan kata lu-gue.

ADVERTISEMENT

Biasanya orang yang menyindir penggunaan kata lu-gue pada orang yang beraksen medok, karena mereka belum terbiasa dengan lingkungan yang menggunakan kata lu dan gue. Apabila mereka terbiasa, paling juga mereka kagok menggunakan kata aku-kamu, lalu secara terpaksa mereka akan membiasakan diri dengan kata lu-gue.

Mengapa mereka kagok? Ya karena rasanya sudah beda. Bukankah bahasa itu mengandung rasa? Oleh sebab itu, ketika kita ingin belajar bahasa, maka kita perlu belajar juga budaya asal bahasa tersebut guna dapat merasakan makna berbagai kata dalam bahasa tersebut.

Perasaan superior yang aneh

Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan orang yang terbiasa hidup di lingkungan lu-gue tapi juga nyindir logat medok yang bilang lu-gue? Ya, mungkin mereka merasa superior dengan kata lu-gue yang mereka anggap gaul dan modern. Tapi kemungkinan besarnya, mereka yang nyindir itu tidak memahami bagaimana perubahan rasa dalam berbahasa orang yang disindir.

Bayangkan mereka yang sebelumnya terbiasa ngomong aku-kamu, lalu sekonyong-konyong merasa aneh bahkan jijik, terutama ketika ngomong dari laki-laki ke laki-laki. Akhirnya ketika mereka ngomong lu-gue dengan logat medok langsung disindir nggak cocok.

Sepengalaman saya saat di Malang, saya sendiri lebih sering menggunakan lu-gue ketika ngobrol dengan teman satu kost. Mengapa? Karena teman kost saya saat di Malang memang kebanyakan non-Jawa. Dan entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba kos tersebut bernuansa Jakarta, padahal yang dari Plat B hanya dua orang.

Awalnya memang saya kagok menggunakan lu-gue, karena sebelumnya kata lu-gue hanya pernah saya lihat di TV. Namun akhirnya saya terbiasa juga. Saya juga tidak pernah terkena sindiran dari teman-teman kos saya karena menggunakan kata lu-gue dengan logat medok, mereka nyaman-nyaman saja.

Baca Juga:

7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya

11 Istilah Penyakit dalam Bahasa Jawa yang Terdengar Lucu

It’s okay to be medok

Nah, ketika di Depok, saya tidak bisa menghindari lagi untuk ngomong lu-gue. Meskipun memang ada saja teman yang sulit untuk ngomong lu-gue, dan pada akhirnya dia malah ngomongnya ane-ente. Kalau tidak ingin makai lu-gue atau ane-ente, ya biasanya langsung panggil nama saja. Dan saya juga tidak pernah terkena sindiran ketika ngomong lu-gue dengan logat medok selama di Depok, khususnya di lingkungan UI.

Sepanjang saya amati, teman-teman saya yang menggunakan kata lu-gue namun beraksen medok nyantai-nyantai saja ngomong lu-gue ke teman-teman mereka, dan teman-teman mereka juga tidak pernah mempermasalahkan soal aksen.

Mengapa teman-teman mereka tidak mempermasalahkan penggunaan lu-gue dengan aksen medok? Kalau dalam pandangan saya, itu karena alasan tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan kita, pikiran kita semakin terbuka terhadap perbedaan. Sehingga dengan aksen berbeda pun, kita masih bisa menerima dan memahami apa yang mereka katakan.

Pemberian apresiasi adalah kunci sukses dari penerimaan perbedaan aksen ini. Sebagai contoh saya pernah mendengar seorang dosen mengatakan, “Itu lihat, profesor sejarah asal Inggris yang kita undang kemarin, tidak pernah beliau menertawakan seorang penanya yang mengucapkan Raffles, padahal bacanya Reffles, kalian juga harus demikian.”

Oke mungkin kalian akan mempermasalahkan contoh tersebut, soalnya ini jatuhnya ke ranah pronunciation, bukan aksen. Tapi the point still stands, selama pesan sampai, apakah aksen jadi masalah yang perlu dipikir sebegitu dalam?

Nanti juga terbuka sendiri

Pada akhirnya kita jadi memahami bahwa orang yang menyindir penggunaan kata lu-gue dengan aksen medok berarti berpikiran tertutup atau close-minded. Biasanya orang yang close-minded kurang memiliki pengalaman hidup di lingkungan heterogen, sehingga pemahaman perbedaan budaya mereka kurang.

Oleh sebab itu dengan orang yang close-minded tidak perlu berdebat, karena akan menghabiskan waktu dan tenaga kita. Lalu bagaimana cara mengubah pemikiran mereka yang close-minded? Kalau mainnya makin jauh, nanti terbuka sendiri pikirannya.

Jadi daripada menguras tenaga berdebat dengan kaum close-minded, lebih baik kita memberikan pengertian secara perlahan, sambil mendorong mereka untuk menambah pengalaman baru. Seiring berjalannya waktu pemikiran close-minded pasti akan lebih terbuka. Toh kalaupun pemikiran mereka nanti tidak terbuka, itu urusan mereka sendiri dan tidak ada urusannya dengan kita. Jadi kita cukup memahami saja kaum close-minded tanpa memaksakan perubahan terhadap mereka.

Penulis: Yogaswara Fajar Buwana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Medok Sebagai Identitas Bahasa Ibu, Bukan untuk Diremehkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2023 oleh

Tags: aksenBahasalo guelogat medokPerbedaan
Yogaswara Fajar Buwana

Yogaswara Fajar Buwana

Seorang lulusan Ilmu Sejarah.

ArtikelTerkait

Alasan Kenapa Orang Pacaran Memacu Motornya Begitu Pelan terminal mojok.co

Bahasa Lisan Indonesia Timur Kalau Ditulis Kaya Gini

25 Juni 2019
Siasat Menaklukan TOEFL, Hal-hal Teknis Juga Perlu Diperhatikan Mojok.co

Siasat Menaklukan TOEFL: Tidak Hanya Jago Bahasa Inggris, Strategi Tes Juga Diperlukan

3 Agustus 2024
Lagu Malaysia, yang Dibenci dan yang Tetap Masuk ke Hati mojok.co

Bahasa Malaysia Lucu karena Banyak Kosakatanya Persis Bahasa Indonesia

9 Desember 2020

Tulisan Makin Ngaco, Aplikasi Wattpad Butuh Editor Kebahasaan

2 Juni 2021
Ajining Diri saka Lathi Pepatah Jawa yang Mendunia dan Implementasinya dalam Kehidupan Terminal Mojok

Ajining Diri saka Lathi: Pepatah Jawa yang Seharusnya Berlaku Universal

9 Februari 2021
Panduan Bahasa Korporat bagi Karyawan Baru di Jakarta supaya Nggak Syok

Panduan Bahasa Korporat bagi Karyawan Baru Jakarta supaya Nggak Syok

23 Januari 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Tradisi lek-lekan di hajatan perkawinan diam-diam bikin biaya bengkak  Mojok.co

Tradisi lek-lekan di hajatan pernikahan diam-diam bikin biaya bengkak 

18 Agustus 2026
Pengalaman 6 jam mampir ke IKN, saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya Mojok.co

Pengalaman 6 jam mampir ke IKN saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya

14 Agustus 2026
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

17 Agustus 2026
Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Warmindo akan selalu menjadi ruang pengaman sosial terakhir bagi kita yang dompetnya sedang sekarat

14 Agustus 2026
Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Sekolah swasta yang melarang gurunya mendaftar ASN itu aneh, ngasih gaji layak nggak mau, tapi seenaknya menghentikan impian seseorang

15 Agustus 2026
4 stereotip tentang orang Bumijawa Tegal yang sering saya dengar dari orang luar Terminal

4 stereotip tentang orang Bumijawa Tegal yang sering saya dengar dari orang luar

14 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.