Clubhouse Adalah Aplikasi Penunjuk Kelas Ekonomi Masyarakat – Terminal Mojok

Clubhouse Adalah Aplikasi Penunjuk Kelas Ekonomi Masyarakat

Artikel

Avatar

Akhir-akhir ini, jagat dunia maya sedang heboh membicarakan sebuah aplikasi baru bernama Clubhouse. Memang Clubhouse adalah primadona sekarang, ia mulai ramai ketika orang terkaya di dunia, Elon Musk, mempopulerkannya. Bahkan aplikasi ini juga dipakai oleh beberapa CEO besar dunia untuk melakukan sebuah percakapan di antara mereka. Tidak hanya di luar negeri, di Indonesia tentu saja aplikasi ini mulai digunakan oleh warganet. Para influencer, public figure, dan orang penting lainnya mulai menggandrungi aplikasi ini.

Untuk orang yang belum tahu, Clubhouse adalah sebuah aplikasi media sosial yang berbasis audio chat khusus undangan. Prinsipnya aplikasi ini memungkinkan para penggunanya untuk melakukan percakapan atau diskusi pada sebuah room yang disediakan, kayak dengerin podcast gitu lah, tetapi secara langsung. Sebab orang-orang terkenal mulai memakai aplikasi ini, akhirnya banyak orang yang tertarik untuk mendownload juga, kan orang Indonesia suka ikut-ikutan.

Masalahnya adalah, aplikasi ini hanya tersedia untuk perangkat iOS, jadi buat orang-orang yang pakai android, kalian nggak bisa tuh install aplikasi ini. Akhirnya banyak orang yang kecewa, bahkan mereka mengungkapkan kekecewaan mereka dengan memberikan komen dan penilaian negatif untuk aplikasi dengan nama Clubhouse di PlayStore, yang sebenarnya beda aplikasi.

Awalnya saya juga penasaran dengan aplikasi ini karena saya juga termakan dengan Instastory orang-orang terkenal yang pada bilang aplikasi ini seru banget, kita bisa dengerin obrolan orang-orang terkenal, para CEO, pokoknya keren deh. Setelah mengetahui jika aplikasi ini cuma bisa diinstall di perangkat iOS, akhirnya saya berpikir, Clubhouse adalah aplikasi yang sebenarnya cuma buat nunjukin bahwa orang-orang di dalamnya mampu beli perangkat iOS. Sedangkan ekonomi kelas menengah yang belinya android, minggir dulu. Jadi buat kalian yang HP-nya masih Xiaomi, Vivo, Realme, ntar dulu, sabar. Kita kelas ekonomi android jangan gegabah.

Munculnya aplikasi ini juga mendapat respons yang beragam dari masyarakat. Ada yang pengin langsung buat akun biar bisa jadi “seleb-house”, ada yang berharap aplikasi ini bisa secepatnya di-monetize. Menurut saya sih, kalau bisa Clubhouse jangan terlalu buru-buru buat ngembangin jangkauannya karena saya takut, aplikasi ini akan bernasib seperti aplikasi sosial media lainnya. Yaitu ketika semua orang bisa mengakses, lama kelamaan, konten yang ditawarkan perlahan jadi sampah.

Untuk saat ini, saya melihat perkembangan Clubhouse lewat Twitter. Isi kontennya cukup berat-berat, ada conversation tentang bisnis lah, tentang keuangan, pokoknya tema yang insightful lah. Saya takutnya ketika aplikasi ini dijangkau oleh semua orang, bahkan anak-anak, nanti akan muncul topik-topik pembicaraan yang nggak jelas gitu. Mungkin nanti bakal ada topik pembicaraan “pergosipan ibu-ibu”, kan bahaya gitu. Mungkin nanti juga ada semacam perang yang akan disebut war-house, mungkin nanti bakal muncul semacam sekte-sekte aneh di Clubhouse, dan kenorakan-kenorakan lainnya.

Saya dengar juga prinsip dari Clubhouse adalah, hanya memperbolehkan orang yang memiliki undangan yang boleh masuk, jadi bisa dikatakan cukup eksklusif dan kita nggak bisa sembarangan masuk room. Ketakutan lainnya dari saya, nanti pasti ada jual beli undangan Clubhouse, pasti. Kalau resmi sih nggak masalah, tapi namanya orang Indonesia, kalau bisa diduitin kenapa tidak.

Masalahnya nih, beredar kabar bahwa aplikasi ini terancam diblokir oleh pemerintah, katanya belum mendapat izin atau apalah gitu. Padahal di China aplikasi ini sangat booming, di saat media sosial lainnya dilarang. Nah masalahnya aplikasi ini akhirnya tetap dilarang karena banyak digunakan untuk membicarakan masalah-masalah yang bisa dibilang “nyrempet-nyrempet” lah.

Meskipun saya cukup sinis menanggapi kemunculan aplikasi Clubhouse ini, tapi saya berharap aplikasi ini akan bermanfaat. Toh di awal kemunculannya diperkenalkan oleh orang-orang yang punya pengaruh dan sampai saat ini manfaat yang bisa didapat cukup positif, saya berharap Clubhouse bisa menjadi sebuah platform untuk menambah wawasan kita semua. Saya juga cukup yakin aplikasi ini akan menjadi hal yang baik. Sebab, di awal kemunculannya, kesan yang ditampilkan cukup positif. TikTok aja yang di awal kemunculannya dianggap aplikasi sampah, sekarang malah sangat populer. Harusnya Clubhouse bisa lebih dari itu.

BACA JUGA Clubhouse Adalah Aplikasi Mirip Discord Versi Lebih Eksklusif dan tulisan Kuncoro Purnama Aji lainnya.

Baca Juga:  Kisi-kisi Jadi Open Minded Kayak Rakyat Twitter
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
7


Komentar

Comments are closed.