Canva: Dibenci Desainer, Dipuja Masyarakat yang Nggak Ngerti Desain

Artikel

Avatar

Banyak temen saya yang notabenenya adalah desainer grafis mengeluhkan kehadiran Canva sebagai platform desain yang tinggal tempel sana tempel sini langsung jadi. Mereka merasa lahan pekerjaan mereka akan diambil dengan kehadiran startup asal Australia ini. Ya gimana nggak merasa terancam, wong kalo desain pake Photoshop bisa makan waktu seharian, giliran desain pake Canva hanya perlu beberapa menit. Orang yang nggak ngerti-ngerti amat soal desain, bisa bikin desain yang kece-kece karena banyak banget template gratisan yang disediakan.

Canva menjadi begitu digandrungi karena belum pernah ada platform desain tempel sana tempel sini yang menghasilkan kualitas bagus. Yang bisa menghasilkan kualitas bagus biasanya kudu bayar. Yang bisa menghasilkan kualitas bagus dan gratis biasanya ada watermarknya. Nah, Canva? Fitur berbayarnya hanya pada beberapa template dan elemen gambarnya aja, padahal banyak juga template dan elemen gratis yang bisa digunakan.

Saya sendiri pengguna Canva yang lumayan mahir. Saya pake Canva buat bikin Instastory lucu-lucuan, bikin poster buat acara komunitas, kadang juga untuk feed Instagram. Saya yang dulu nggak terlalu bisa pake Photoshop atau aplikasi desain lainnya membuat teman saya heran, kok bisa-bisanya desain saya jadi bagus gitu. Lantas saya memberitahu dia bahwa saya pake Canva. Dia, yang belum pernah tau apa itu Canva, langsung syok ada platform semacam itu. Katanya, dia bikin desain aja bisa sehari, kadang sampai seminggu, eh pake aplikasi ini bisa jadi hanya dalam hitungan menit.

Dengan hadirnya aplikasi ini, pebisnis-pebisnis kecil jadi bisa bikin desain keren untuk materi promosi di media sosial. Teman saya misalnya, yang buka bisnis kuliner berupa nasi langgi di pinggir jalan, memanfaatkan Canva untuk desain feed Instagram sekaligus promosi lewat FB Ads.

Bayangkan, warung nasi langgi pinggir jalan bisa punya desain yang bagus dan dioptimasi dengan FB Ads. Semua itu bisa terjadi karena ada Canva di balik proses kreatif promosinya. Ya gimana, kalo mau iklannya dilihat dan bikin orang tertarik, desainnya kudu bagus. Kalo desainnya kudu bagus, harus bayar jasa desain grafis dong. Untuk bisnis sekelas nasi langgi pinggir jalan, menyewa jasa desain grafis itu pengeluaran yang lumayan berat. Mending buat kulakan daripada sewa desain grafis. Makanya, Canva datang membawa solusi itu.

Orang-orang yang berkepentingan mendesain sesuatu tapi kesulitan menggunakan aplikasi desain menjadi punya alternatif yang gampang dan gratis untuk bikin desain. Lagian, cuma mau bikin template Instastory masa ya kudu sewa jasa desain grafis?

Datangnya aplikasi ini yang mengobrak-abrik dunia desain grafis barangkali seperti datangnya ojol dan memorak-porandakan ojek pengkolan. Banyak tukang ojek pengkolan yang menentang hadirnya ojol beberapa waktu lalu, namun suara mereka mulai tak terdengar akhir-akhir ini. Mungkin masih ada, tapi tidak terlalu agresif seperti dulu. Apa yang terjadi? Rata-rata tukang ojek pengkolan juga beralih menjadi ojol. Tetapi untuk urusan Canva, sepertinya orang-orang yang bergelut di bidang desain grafis tidak akan pindah ke aplikasi ini. Kok pindah, wong ada yang nyebut nama Canva aja rasanya langsung seperti disayat-sayat, direndahkan, dan diinjak-injak harga dirinya.

Teman saya yang seorang desain grafis pernah mangkel bukan main sama bosnya. Dia disuruh bikin poster buat promosi kedai kopi, dan dalam waktu setengah hari desainnya belum jadi juga. Bosnya langsung tanya kok belum jadi, sambil bilang, “Kayak gitu aja pake Canva bisa cepet, kan?” Ya jelas mangkel lah, wong temen saya belajar bikin desain aja nggak ujug-ujug semalam bisa.

Canva memiliki ranahnya sendiri. Ada batas-batasnya sendiri yang membedakannya dari aplikasi desain profesional. Canva untuk kalangan pribadi, tidak dibisniskan, dan non profesional. Makanya saya heran juga kok sampai ada yang bikin kelas mengoperasikan aplikasi ini dan harus membayar untuk mengikutinya. Maksudnya, mengoperasikan Canva ya gitu-gitu aja, tinggal tempel sana tempel sini, gitu aja sampai ada kelasnya. Kalo kelas desain pake aplikasi desain macam Photoshop, AI, atau Corel Draw sih masih masuk akal. Lah ini Canva sampai dijadiin cuan, kan kurang ajar.

Kadang batas-batas antara mana yang etis dan mana yang enggak itulah yang sering dilupakan orang—khususnya orang yang ngerti desain. Maka dari itu banyak yang merendahkan bidang ilmu desain grafis karena desain pake aplikasi ini aja bisa. Debat bangsat macam itu bisa terjadi ya karena tidak mengenal batas-batas itu tadi. Ya kali punya kedai kopi cabangnya sampe lima tapi nggak mau hire desain grafis dan malah milih pake Canva, kan nggak lucu juga.

BACA JUGA Pengalaman Berurusan dengan Pak RT Overproud Jabatan dan Multipresence dan tulisan Riyanto lainnya.

Baca Juga:  Waspada! Kalimat-Kalimat Ini Menandakan Rencana Bakal Jadi Wacana

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
56


Komentar

Comments are closed.