Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Cadel Adalah Segel Pengekang Nafsu untuk Jadi Preman dan Kader Partai

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
27 Oktober 2020
A A
Saya Mahasiswa Ushuluddin yang Masa Depannya Dipertaruhkan oleh Mulut Tetangga terminal mojok.co

Saya Mahasiswa Ushuluddin yang Masa Depannya Dipertaruhkan oleh Mulut Tetangga terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Dalam serial Naruto, Kurama sang siluman rubah ekor sembilan disegel di dalam tubuh Uzumaki Naruto. Tujuan sederhananya adalah mencegah Kurama membuat kekacauan. Awalnya saya memandang segel ini hanya sebagai bumbu cerita. Sampai saya menyadari bahwa saya juga disegel. Segel ini membatasi saya dalam mencari jati diri. Segel itu adalah cadel.

Masa kecil dan remaja adalah fase di mana seseorang mencari jati diri. Eksperimen pribadi sering dilakukan demi menemukan jati diri yang akan dibawa hingga mati. Beberapa bisa sebegitu liarnya bereksperimen dalam kenakalan remaja. Sisanya dibatasi berbagai faktor personal.

Saya termasuk dalam golongan yang terbatas dalam mencari jati diri. Keterbatasan ini didasari oleh “tersegelnya” salah satu bagian tubuh saya. Bagian sederhana yang bisa menentukan takdir hidup seseorang: lidah. Ya, lidah saya telah tersegel karena cadel.

Mungkin Anda berpikir “Ah cadel kan hal yang biasa”. Saya juga pernah berpikir demikian. Sampai pada akhirnya saya menyadari, cadel ini tidak pernah biasa saja. Cadel saya adalah rintangan utama bagi saya menikmati masa remaja yang penuh kenakalan. Hasrat nakal saya telah disegel dengan keadaan lidah sendiri.

Pertama kali saya menyadari lidah yang cadel ini adalah ketika SD. Normalnya, anak-anak seusia saya telah fasih mengucapkan huruf “r”. Namun, saya tidak pernah mampu mengucapkan huruf jahanam itu. Ketika mencoba, hanya keluar suara geraman yang tak jelas apa maksudnya.

Cadel ini mulai menjadi perhatian teman-teman saya. Dan sebagaimana individu yang berbeda dari umumnya, saya menjadi objek bercandaan yang menyebalkan. Dikenal sebagai orang cadel, bahkan mendapat panggilan “Pelo”. Sejak saat itu, saya tidak bisa lepas dari predikat yang tidak mengenakkan.

Memasuki masa SMP, saya baru merasakan keadaan lidah saya ini menghalangi kontak sosial. Setiap saya berkenalan dengan teman baru, mereka langsung menertawakan lafal huruf “r” saya. Bahkan, posisi ketua kelas tidak menghentikan mereka untuk menertawakan cadel saya.

Tekanan dari keadaan ini membuat saya tersisih dari kenakalan masa SMP. Jangankan mau nakal, baru bicara saja sudah ditertawakan. Saya tidak pernah dapat kesempatan untuk tampil “sangar” dan “preman”. Semuanya gara-gara lidah cadel yang selalu menjadi bahan tertawaan ini.

Baca Juga:

Wonosobo Memang Kota Preman, tapi Ada Sisi Positifnya

4 Keresahan yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Kelurahan Silaberanti Palembang

Masalah ingin terlihat preman, semua dikarenakan eyang saya. Blio memang dikenal sok preman atau istilah Jogjanya “nggentho”. Sebab menghabiskan masa kecil bersama blio, saya pun punya obsesi untuk “nggentho” juga.

Dan obsesi ini tidak pernah tercapai. Setiap mencoba sok sangar, selalu saja ada satu dua orang yang bersuara”rrrrrrrrr”. Saya pun mencoba terjun ke ekstrakurikuler karate, demi menambah kesan sangar. Dan lagi-lagi, saya ditertawakan jika sudah bicara.

Saya hanya bisa menelan kekecewaan dan insecure ini. Sambil berharap masa SMA lebih baik.

Kebetulan, SMA saya termasuk SMA negeri yang terkenal nakal dan rajin tawuran. Saya pikir, ini adalah kesempatan saya untuk menjadi anak nakal. Menjadi gentho seperti obsesi saya waktu kecil. Apalagi, kelas pertama yang saya masuki memang memenuhi kriteria sebagai kelas preman.

Awalnya, segala trauma masa SMP saya kesampingkan. Saya berharap, teman baru saya tidak peduli pada lidah saya. Dan yang terjadi tetap seperti biasa. Mereka menertawakan lidah saya yang cadel ini. Brengsek, masih saja lidah “pelo” ini mengekang hasrat saya untuk menjadi anak nakal.

Teror perkara “r” ini tidak pernah berhenti. Sekuat apa pun upaya saya untuk cuek, tetap saja teman-teman memilih untuk menertawakan. Saya tidak menyerah, saya membangun karakter yang “gothic” dengan mulai belajar literasi satanisme. Hasilnya? Nihil! Tetap saja saya ditertawakan ketika harus menyebut huruf “r”.

Masa SMA malah menjadi masa paling menyedihkan. Tidak pernah berada di puncak rantai makanan menyebabkan saya berakhir sebagai badut kelas. Yah, siapa bilang masa SMA adalah masa paling indah. Coba saja jika anda cadel!

Akhirnya masa kuliah datang. Kali ini, keinginan saya untuk “nggentho” berganti menjadi keinginan menjadi kader partai. Entah apa penyebabnya, sepertinya keren saja jadi kader partai. Maklum, selain nakal, atletis, atau borjuis, ada satu jenis manusia keren di kampus: aktivis.

Saya pun mulai melirik BEM. Namun, trauma masa SMA menyerang saat melihat senior saya berorasi dengan lantang. Fix, saya tidak ingin dipermalukan lagi. Maka saya habiskan masa kuliah dengan menjauhi berbagai organisasi kemahasiswaan.

Lidah yang cadel ini benar-benar menyegel hasrat muda saya. Dan jangan bilang “cuek aja” atau “syukuri apa adanya”. Mungkin anda perlu memotong lidah anda dan merasakan bagaimana masyarakat kita masih menertawakan lidah yang cadel.

Namun, bukan berarti saya berpasrah dan mengikhlaskan diri sebagai bahan tertawaan. Sejak kuliah, saya mencoba membangun karakter yang lebih kuat. Selain itu, saya mulai menggeluti bidang yang minim kerja lidah. Contohnya menggambar dan menulis.

Tidak ada fase penerimaan cadel yang lebih baik dari keterlibatan saya dalam team outbound dan leadership training. Berbicara di depan peserta yang jumlahnya puluhan membuat saya lebih percaya diri. Dan akhirnya saya mulai berdamai dengan lidah saya sendiri.

Namun, bukan berarti saya tidak mencoba bersyukur dengan kondisi fisik saya. Saya menyadari bahwa lidah yang cadel adalah segel yang baik. Segel ini sukses mengekang hasrat muda yang meledak-ledak dan mengarahkan saya pada pilihan yang lebih menyenangkan, aman, dan bertahan lama.

Coba saja jika saya tidak cadel. Mungkin saya sudah terlibat geng remaja. Bisa jadi saya terjun dalam dunia hitam. Mungkin menjadi bandar narkoba? Syukurlah, saya terbebas dari itu semua. Mau bilang narkoba saja sudah keringatan.

Atau, bisa jadi saya sudah masuk partai politik. Dan dengan keberuntungan tertentu, mungkin saya telah menjadi anggota DPR. Untung, saya cadel. Jangankan membohongi rakyat, menyebut kata “rakyat” dengan baik dan benar saja tidak mampu!

BACA JUGA Tugu Jogja: Destinasi Wisata serta Destinasi Proyek Tahunan yang Minim Kreativitas dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Oktober 2020 oleh

Tags: cadelpreman
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

tato

Menggelar Acara Makan Gratis Memupuskan Stigma Negatif Saya pada Preman Pasar

6 Januari 2021
boso walikan mojok

Boso Walikan Mataraman: Sandi para Kriminal yang Beralih Menjadi Sapaan Akrab

8 Juli 2020
Pelabuhan Ujung Muncar, Tempat Nyore yang Paling Tidak Kondusif di Banyuwangi

Pelabuhan Ujung Muncar, Tempat Nyore yang Paling Tidak Kondusif di Banyuwangi

20 Oktober 2023
Daftar Preman Paling Mengesankan dalam Semesta Sinetron Indonesia terminal mojok

Daftar Preman Paling Mengesankan dalam Semesta Sinetron Indonesia

27 Agustus 2021
Menjawab Stigma Negatif yang Dilekatkan kepada Orang Palembang

Menjawab Stigma Negatif yang Dilekatkan kepada Orang Palembang

29 Juni 2022
episode terakhir preman pensiun 4 ending mojok.co

‘Preman Pensiun’ Mencerminkan Garut sebagai Kota Preman

27 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

22 Februari 2026
Bakpia Kukus Tidak Layak Pakai Nama Bakpia Asli Jogja (Unsplash)

Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja

21 Februari 2026
Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

22 Februari 2026
7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup Mojok.co

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

24 Februari 2026
Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor Mojok.co

Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor

23 Februari 2026
Jalan Kertek Wonosobo, Jadi Pusat Ekonomi tapi Bikin Sengsara (Unsplash)

Jalur Tengkorak Kertek Wonosobo Mematikan, tapi Pemerintah, Warga, hingga Ahli Klenik Saja Bingung Cari Solusinya

24 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan
  • Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang
  • Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer
  • Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa
  • Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini
  • Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.