Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Cabut Kuliah Ekonomi, Masuk Sastra, eh Malah Ingin Jadi Pengusaha

Akbar Malik Adi Nugraha oleh Akbar Malik Adi Nugraha
13 Juli 2020
A A
karya fiksi UT kuliah ekonomi kuliah sastra kuliah online mahasiswa s-1 dan s-2 Sebagai Penulis, Saya Sering Disangka Romantis dan Bisa Menjadi Sekretaris kuliah online

kuliah ekonomi kuliah sastra kuliah online mahasiswa s-1 dan s-2 Sebagai Penulis, Saya Sering Disangka Romantis dan Bisa Menjadi Sekretaris kuliah online

Share on FacebookShare on Twitter

Kuliah adalah jalan ninja untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Saya nggak bilang menuju kesuksesan karena nggak semua orang yang lulus kuliah hidupnya sukses, tapi seenggaknya lebih baik.

Karena kuliah punya kontribusi cukup penting terhadap peningkatan kualitas seseorang, maka pemilihan jurusan pun penting. Saking pentingnya milih jurusan, banyak mahasiswa yang ngerasa salah jurusan. Ada yang milih untuk cabut dan masuk jurusan yang lebih cocok, ada juga yang ngejalanin dengan keterpaksaan dan yang penting lulus.

Dulu, saya termasuk orang yang terjerumus pada jurusan yang menurut saya salah. Saya masuk jurusan ekonomi. Karena ketika SMA rajin ikut olimpiade dan kejuaraan ekonomi, saya mantap memilih ekonomi sebagai jurusan kuliah yang akan mengantarkan saya pada kehidupan yang membahagiakan.

Ketika berkuliah selama dua semester, saya ngerasa anggapan ketika SMA itu keliru. Pada awalnya saya ngira kalau kuliah hanyalah mencari nilai dan ijazah, selepas lulus mencari kerja dan uang. Ternyata, perkiraan itu sangat salah. Saya telat menyadari bahwa tujuan kuliah lebih dari itu. Dalam pandangan saya, kuliah haruslah memberikan value dan kebahagiaan, nggak cuma peluang kesuksesan.

Pas kuliah ekonomi, saya belajar banyak, sih. Poin dari ilmu ekonomi kan gimana caranya kita ngatur rumah tangga keuangan, biar keadaan finansial stabil dan cenderung meroket. Gitu kan. Nah, pola pikir yang ditanamkan seperti itu justru ngebuat saya males. Saya nggak mau jadi orang yang materialistis (sok-sokan banget sih emang).

Setiap hari kuliah tentang duit, saya jadi hampa. Saya ngerasa kuliah nggak menuhin kebutuhan batin saya pada saat itu. Kantong kebahagiaan saya kosong. Nilai-nilai kebahagiaan terasa sangat mahal. Kebahagiaan digambarkan dengan pencapaian materi, kepemilikan barang yang megah dan mewah. Wah, pusing pokoknya.

Nggak mau ngebuang waktu untuk sesuatu yang saya nggak butuh, saya milih cabut. Keluar. Pindah jurusan. Setelah merenung, saya melabuhkan pilihan pada jurusan sastra. Walau banyak menyukai ilmu-ilmu sosial lain, saya berpikir ketika masuk sastra justru saya akan banyak belajar tentang ilmu lain. Sastra ibarat paket yang di dalamnya terdapat banyak ilmu, pikir saya.

Walau saya minat pada komunikasi, sosiologi, psikologi, atau filsafat, saya memilih sastra. Karena pada saat pencarian jurusan itu, saya mengetahui bahwa di sastra (dan bahasa) pun terdapat teori-teori dan mata kuliah komunikasi dan retorika, psikolinguistik dan psikologi sastra, sosiolinguistik dan sosiologi sastra, sampai filsafat bahasa dan filsafat sastra. Wuih, banyak kan.

Baca Juga:

Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manusia

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

Akhirnya saya pindah kampus dan jurusan. Kembali mengikuti ospek dan menjadi mahasiswa baru. Perkuliahan pun berjalan. Rasa senang dan bahagia itu perlahan masuk. Kebutuhan akan ilmu akademik dan ilmu kehidupan pun perlahan-lahan terpenuhi.

Menjelang masuk tahun ketiga kuliah di jurusan sastra, saya mulai berpikir akan melakukan aktivitas apa setelah lulus. Dari sekian banyak pilihan profesi, saya melihat kok banyak kating saya yang malah buka usaha ya? Beberapa kakak tingkat saya tanya mau ngapain selepas lulus, mereka menjawab akan buka usaha sambil terus menulis.

Saya waktu kuliah ekonomi nggak kepikiran buka usaha, sekarang kuliah sastra malah ingin buka usaha. Kok jadi terbalik gini? Wkwk. Setelah saya berpikir cukup dalam, beberapa kemungkinan jawaban saya dapatkan kenapa anak sastra justru ingin punya usaha.

Kultur di lingkungan sastra dan budaya membuat kami seakan-akan bebas berekspresi. Nggak biasa ada dalam kekangan yang mengikat kuat. Nggak suka kalau ada kekakuan yang rigid yang membuat ekspresi tertahan. Inginnya bebas sebebas-bebasnya menyalurkan kreativitas. Begitu.

Mungkin kultur “bebas” nggak dirasain semua anak sastra, ya. Ada juga yang tetap rapi, terstruktur, dan sistematis ngejalanin hidup. Tapi, saya kira, kebanyakan “orang seni” itu cair, fleksibel, dan cenderung kurang suka aturan yang terlalu ketat.

Nah, dari kultur itulah saya kira kenapa anak sastra banyak yang ingin merdeka berdiri di atas kakinya sendiri. Mereka nggak mau kebebasan berekspresi dan kemerdekaan bertindaknya direnggut oleh kebutuhan hidup yang bernama duit. Mereka memilih membuka usaha sambil terus berkarya. Syukur-syukur usahanya maju dan sukses.

Pola pikir yang dihasilkan dari perenungan dan kebiasaan itulah saya kira yang membuat anak sastra nggak terlalu suka diatur. Termasuk saya. Sulit sekali rasanya menjadi orang yang rigid dengan segala aturan kerja. Lebih bahagia dan leluasa menjadi pribadi yang merdeka, termasuk urusan dompet dan perut.

Mungkin, salah satu cita-cita saya di masa depan adalah membuka kafe yang terdapat perpustakaannya. Membuka usaha dan jasa untuk orang-orang yang ingin ngopi di tengah lautan buku. Di akhir pekan, di kafe-perpustakaan itu diadakan diskusi tentang seni dan budaya. Apa saja, termasuk sastra, musik, film, dan lain-lain. Mengundang para seniman dan budayawan untuk berkumpul dan berdiskusi.

Di samping itu, bisa juga membuka sayap usaha berupa jualan buku dan kaos band, atau atribut-atribut seni dan budaya lainnya. Wah, asyik sekali rasanya berimajinasi, hahaha. Doakan saja semoga bisa terlaksana agar semakin bahagia dan merdeka.

BACA JUGA Masa Depan Mahasiswa Sastra Indonesia yang He He He dan tulisan Akbar Malik Adi Nugraha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Juli 2020 oleh

Tags: ekonomiKuliahpekerjaanSastra
Akbar Malik Adi Nugraha

Akbar Malik Adi Nugraha

Mahasiswa Universitas Diponegoro

ArtikelTerkait

Akbar Faisal Profesi PNS Adalah Kebanggaan Orang Tua yang Masih Abadi terminal mojok.co

Pernyataan Akbar Faizal Super Relate bagi Pemuda yang Terus-terusan Dipaksa Jadi PNS

17 Oktober 2021
Unpopular Opinion: Belajar Bahasa Inggris lewat Lagu Itu Nggak Recommended

Unpopular Opinion: Belajar Bahasa Inggris lewat Lagu Itu Nggak Recommended

12 Agustus 2022
7 Barang “Agak Lain” yang Sering Dibawa Mahasiswa Jurusan Arkeologi Mojok.co

7 Barang “Agak Lain” yang Sering Dibawa Mahasiswa Jurusan Arkeologi

23 Januari 2024
Bukan Cuma Jago Ngomong, 5 Skill Ini Wajib Dikuasai Seorang Humas

Bukan Cuma Jago Ngomong, 5 Skill Ini Wajib Dikuasai Seorang Humas

6 Oktober 2023
44 Istilah Dunia Perkuliahan yang Wajib Diketahui Mahasiswa Baru Terminal mojok

44 Istilah Dunia Perkuliahan yang Wajib Diketahui Mahasiswa Baru

12 Maret 2022
pungli proyek pemerintah gaji PNS kerja 10 juta pejabat digaji besar tapi solusi minta rakyat mojok

Mempertanyakan Logika ‘Kerja Setara 10 Juta, Gajinya 3 juta. Sisanya Diganti Tuhan’ dalam Dunia Kerja

27 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Unsplash)

4 Ciri Nasi Padang Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan

8 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.