Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Busuknya Kualitas Kapal Laut Zaman Dulu Pernah Hampir Bikin Saya Mati

Reno Ismadi oleh Reno Ismadi
7 Agustus 2020
A A
Busuknya Transportasi Laut Masa Lalu_ Pengalaman yang Hampir Membuat Saya Mati MOJOK.CO

Busuknya Transportasi Laut Masa Lalu_ Pengalaman yang Hampir Membuat Saya Mati MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Saya tidak tahu kapan tepatnya revolusi transportasi laut di Indonesia terjadi. Tapi jika menarik waktu ke belakang, tepatnya awal 2000an, pastinya banyak yang masih ingat busuknya transportasi pada masa itu. Terutama kereta api dan kapal laut.

Berhubung di Kalimantan tidak ada kereta api, saya tidak pernah merasakan berjejal di kereta atau bahkan duduk di atas gerbong seperti yang dilakukan para penumpang di zaman itu. Pengalaman pertama menaiki transportasi jarak jauh adalah dengan kapal laut.

Maklum saja, di masa itu belum banyak yang sanggup beli tiket pesawat. Dan pengalaman menaiki transportasi laut yang busuk itu saya alami ketika baru berusia 6 tahun.

Sekitar 2003, kami sekeluarga berencana mudik ke Jawa Tengah dari Kalimantan Barat, tepatnya Ketapang. Tujuannya adalah pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Waktu itu, transportasi yang paling masuk akal untuk dijangkau memang hanya transportasi laut.

Bagaimana tidak, harga tiket kapal laut hanya 1/5 dari harga tiket pesawat. Saya yang masih bocah sangat antusias menaiki besi raksasa yang bisa mengambang itu. Sejenak membayangkan kemegahaan kapal pesiar seperti di film-film. Membayangkan betapa serunya berada di laut lepas dengan lampu-lampu gemerlap di malam hari.

Tapi antusiasme itu akhirnya berubah menjadi malapetaka. Dan tanda-tanda malapetaka itu mulai terlihat bahkan sebelum kami naik ke kapal.

Kami sekeluarga sudah sampai di pelabuhan pada siang hari dan jadwal keberangkatan saat itu sore hari (mungkin pukul 3 atau 4), saya lupa tepatnya. Sampai waktu keberangkatan, belum ada tanda-tanda kapal akan bersandar di pelabuhan, suaranya pun tidak terdengar.

Terdengar kabar kalau kapal yang saya nantikan itu ternyata karam di dekat muara. Ya, pelabuhan di kota Ketapang memang berada di daerah sungai dan kapal besar rawan karam karena sungainya dangkal.

Baca Juga:

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

Pengalaman Naik Kapal Pelni Menuju Banda Neira: Berkawan dengan Kecoa, dan Berakhir Memahaminya

Kabar itu ternyata benar adanya, petugas pelabuhan meminta penumpang untuk menunggu sampai air pasang dan kapal bisa bergerak. Namun apesnya, hingga malam datang, kapal masih juga tidak bergerak.

Tidak kehabisan akal, petugas kemudian menyiapkan ide brilian nan jahanam yang kemudian saya sumpahi setiap teringat peristiwa itu lagi. Dan ide itu adalah mengangkut ratusan penumpang ke muara tempat kapal kandas dengan kapal tongkang. Ya, tongkang yang umumnya dipakai untuk mengangkut batu bara atau hasil tambang lainnya.

Ketika itu saya belum mengenal sumpah serapah. Kalau sudah tahu, pasti banyak sumpah serapah yang menyembur. Mungkin telinga petugas yang menggagas ide jahanam itu akan panas saya sumpahi.

Kalian bisa bayangkan, ratusan orang harus menyusuri sungai yang lebarnya lebih dari 100 meter hingga ke pinggiran Laut Jawa dengan besi berbentuk persegi panjang yang diciptakan bukan untuk mengangkut manusia. Belum lagi, tongkang tidak punya mesin dan bergerak karena ditarik kapal di depannya. Alhasil, butuh waktu lama untuk sampai di lokasi kapal.

Ketika gemerlap lampu kapal mulai terlihat dari kejauhan, jiwa anak kecil saya yang kampungan itu gembiranya bukan main. Tapi namanya ekspektasi, kadang memang diciptakan untuk bermusuhan dengan realita. Sekitar 50 meter sebelum tongkang yang kami naiki bersandar di lambung kapal, terlihatlah wujud asli kapal itu.

Kapal itu tidak ubahnya onggokan besi tua yang siap dikilokan. Jika diibaratkan manusia, kapal itu seperti nenek-nenek yang dipaksa berenang ratusan kilometer. Aroma karatnya saja mampu mengalahkan bau angin laut.

Tepat saat tongkang sudah menempel dengan kapal, ratusan penumpang berbondong-bondong berebut naik ke kapal. Orang tua saya tak kalah sigap dalam usaha berebut naik ke kapal. Namun nahasnya, ketika akan menaiki tangga, badan saya yang kurus kering terpental-pental ditabrak para penumpang lain, terpisah dari orang tua kemudian terhimpit di lambung kapal. Saya berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Dada saya sesak luar biasa dihimpit orang-orang berbadan besar.

Bajingan betul, tidak ada seorang pun penumpang yang peduli dengan bocah kerempeng itu. Rasanya mereka lebih peduli untuk berebut tempat yang nyaman dibanding menyelamatkan nyawa bocah yang kelak bisa saja menjadi menteri itu.

Waktu berfantasi soal keindahan kapal seperti di film, saya sepertinya lupa bahwa film-film tentang kapal sering berujung tragis. Untungnya, Tuhan sedang tidak mengamini fantasi itu. Saat nafas hampir menipis karena terjepit, orang tua saya lekas menyelamatkan saya. Selain sukses menyelamatkan anaknya, orang tua saya juga sukses menyelamatkan bangsa dari kehilangan sosok revolusioner macam saya.

Sampai di atas, rupanya ruang khusus penumpang nyaris penuh. Bahkan sudah ada penumpang yang tidur di geladak dan buritan kapal. Kami sekeluarga akhirnya menempati lorong dekat kamar mandi yang berarti harus bersandingan dengan bau pesing lebih dari 48 jam.

Emosi anak-anak saya memuncak dan kemudian bersumpah, ‘’Besok-besok tidak ada lagi ceritanya naik kapal. Kalau masih naik kapal laut mending tidak ikut.”

Tapi kondisi ekonomi memang bedebah. Tahun berikutnya dan tahun-tahun setelahnya toh saya tetap naik kapal yang busuknya tidak jauh beda. Ahh, saya gagal menepati sumpah pertama di hidup saya.

BACA JUGA Mempertanyakan Prinsip Syariah RSUD: Memangnya Nungguin Orang Sakit Bikin Kamu Horny? dan tulisan Reno Ismadi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

—

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2020 oleh

Tags: kapalKapal Lauttongkangtransportasi laut
Reno Ismadi

Reno Ismadi

Bachelor of International Relations, Master of Doing Nothing.

ArtikelTerkait

Pengalaman Naik Kapal Pelni Menuju Banda Neira: Berkawan dengan Kecoa, dan Berakhir Memahaminya

Pengalaman Naik Kapal Pelni Menuju Banda Neira: Berkawan dengan Kecoa, dan Berakhir Memahaminya

10 Juni 2025
Perbedaan Mendasar Nahan Berak di Bis dan Kapal terminal mojok.co

Perbedaan Mendasar Nahan Berak di Bis dan Kapal

28 Desember 2020
Pengalaman Pesiar Ala-ala Mengelilingi Pulau Lombok dengan Kapal Mesin Tempel 40PK terminal mojok

Pengalaman Pesiar Ala-ala Mengelilingi Pulau Lombok dengan Kapal Mesin Tempel 40PK

12 Maret 2021
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
Masyarakat Kasihan Bantul Sebaiknya Punya Kapal agar Selamat di Musim Hujan, sebab Jalannya Penuh Genangan!

Masyarakat Kasihan Bantul Sebaiknya Punya Kapal agar Selamat di Musim Hujan, sebab Jalannya Penuh Genangan!

17 Januari 2025
Pengalaman Mengajarkan Saya Mengatasi Sea Sickness alias Mabuk Laut terminal mojok.co

Menikmati (Mirisnya) Mudik Dengan Kapal Laut, Tapi Saya Tetap Suka

26 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026
Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna Mojok.co

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

18 April 2026
Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

22 April 2026

Di Balik Cap Manja, Anak Bungsu Sebenarnya Dilema antara Kejar Cita-cita atau Jaga Ortu karena Kakak-kakak Sudah Berumah Tangga 

17 April 2026
Konten Tutorial Naik Pesawat Nggak Norak Sama Sekali, Justru Amat Penting buat Mayoritas Rakyat Indonesia

Konten Tutorial Naik Pesawat Nggak Norak Sama Sekali, Justru Amat Penting buat Mayoritas Rakyat Indonesia

20 April 2026
Resign demi Jadi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

Resign demi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

18 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar
  • Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera
  • Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik
  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.