Psikolog adalah Cenayang dan Persepsi-persepsi Keliru yang Membuat Orang Enggan untuk Meminta Bantuan

Artikel

Avatar

Sebagian orang rupanya masih menganggap tabu permasalahan kesehatan mental. Orang-orang menganggap bahwa mental adalah ranah yang sangat pribadi sehingga malu untuk mengumbarnya ke orang lain, terutama psikolog. Sampai saat ini, sebagian orang menganggap pergi ke psikolog sebagai sebuah ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Sebagian masyarakat anehnya justru orang menganggap orang yang punya gangguan mental sebagai orang yang kurang beriman alias kurang dekat dengan Tuhan. Apalagi kalau mendatangi psikolog ke RSJ sudah dicap sebagai orang gila alias orang tidak waras. Berikut ini adalah beberapa persepsi yang keliru.

Cenayang

Banyak orang merasa tidak nyaman pergi ke psikolog karena menganggap psikolog sebagai cenayang yang bisa menebak pikiran mereka sehingga takut akan dihakimi macam-macam. Tidak seperti anggapan kebanyakan orang, psikolog sama sekali bukan peramal atau cenayang. Psikolog nggak bisa menilai orang dari pandangan pertama. Proses untuk memahami seorang individu tidak bisa hanya dilakukan dalam semalam.

Psikolog dituntut untuk senantiasa bersikap objektif, menghindari bias serta melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan kaidah keilmuan. Psikologi adalah suatu ilmu yang mengkaji manusia dari sudut pandang bilogis, sosiologi, dan psikologis. Tugas psikolog adalah membantu klien merumuskan masalah, menuntun klien untuk memahami apa yang menjadi penyebab permasalahan atau gangguan, dan merumuskan solusi untuk menangani masalah tersebut.

Pada dasarnya, dalam melakukan konseling dan/atau terapi, mereka menggunakan pendekatan yang berbeda-beda, seperti psikoanalisis, humanistik, dan cognitive-behavioral. Sama halnya seperti obat untuk penyakit fisik, terapi dan/atau konseling juga memiliki aturannya sendiri, tidak bisa one for all atau all for one. Beda masalah, beda cara menangani. Itulah mengapa kita seringkali menemui perbedaan teknik atau metode yang digunakan antara klien satu dengan yang lainnya. Jadi, mereka menangani klien bukan berdasarkan insting apalagi main tebak-tebakan.

Baca Juga:  4 Alasan Warung Kelontong di Desa Sulit Berkembang lalu Gulung Tikar

Takut aib terbongkar

Sebagian orang beranggapan bahwa mendatangi psikolog sama saja dengan membongkar aib sendiri. Faktanya, psikolog adalah suatu profesi yang terikat dengan hukum sehingga ada kode etik yang mengaturnya. Termasuk salah satunya adalah kewajiban untuk menjaga kerahasiaan identitas klien yang ditangani.

Seandainya mereka kebetulan juga berprofesi sebagai dosen, paling-paling yang diujarkan di depan mahasiswa hanya sebatas pengalamannya menangani klien, tanpa membawa-bawa nama atau identitas lainnya. Itu pun gunanya hanya untuk menjelaskan salah satu contoh real case untuk mahasiswa-mahasiswa psikologi sebagai salah satu bekal praktik setelah lulus.

Seandainya di suatu waktu klien tahu bahwa identitasnya bocor, klien punya hak penuh untuk melaporkan psikolog. Nah, nanti HIMPSI (Himpunan Psikolog Indonesia) yang akan menindaklanjuti, bisa dengan membekukan SIPP (Surat Izin Praktik Psikologi) sementara waktu, atau memberlakukan sanksi-sanksi lainnya, tergantung dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan.

Kurang nyaman

Ada sebagian orang yang merasa tidak nyaman karena harus memercayakan masalah pribadi ke orang asing, tidak terkecuali kepada psikolog. Apapun yang menyebabkan perasaan kurang nyaman, misalnya saja merasa terintimidasi atau khawatir akan ketergantungan, klien punya hak untuk pindah. Psikolog pun punya  tanggung jawab untuk mengalihkan klien ke psikolog lain apabila muncul suatu permasalahan yang sifatnya subjektif antara mereka dengan klien.

Buang-buang waktu dan uang

Sebagian besar orang nyatanya masih berekspektasi bahwa psikolog mampu memberikan solusi untuk permasalahan mereka hanya dalam satu kali pertemuan. Namun, faktanya tidak seperti itu, prosedur yang dilakukan panjang, ada langkah-langkah yang tidak bisa dikesampingkan.

Dalam satu kali sesi, konsultasi hanya dibatasi waktu sekitar lima puluh menit saja. Batas waktu tersebut telah disepakati oleh para ahli setelah dikaji secara ilmiah yang membuktikan bahwa durasi tersebut efektif. Lagipula, untuk bisa ‘sembuh’ dan menyelesaikan masalah, tidak bisa dilakukan dengan instan atau dalam waktu semalam. Tidak ada unsur magic dalam pengobatan psikologi.

Baca Juga:  Karena ke Psikolog Mahal, Saya Mencoba Maklum pada Mereka yang Tingkahnya 'Aneh'

Untuk masalah cuan, lagi-lagi kita kembali bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini. Psikolog independen atau yang membuka praktik sendiri, biasanya memberlakukan biaya tiap sesi. Ada juga yang bisa dibayar satu kali langsung, dari sesi awal hingga akhir. Prinsipnya hampir sama dengan dokter. Kisaran biayanya macam-macam, tidak sama antara satu dan lainnya. Biasanya sih, semakin tinggi jam terbangnya semakin besar biayanya.

Kalau tidak ingin terbebani dengan biaya, bisa menggunakan jasa psikolog yang berpraktik di rumah sakit atau klinik dengan menggunakan BPJS. Saat ini, BPJS tidak hanya mengcover biaya perawatan kesehatan fisik saja namun juga kesehatan mental.

Hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas adalah beberapa contoh alasan mengapa sebagian masyarakat masih enggan pergi ke psikolog. Padahal, kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jika saat ini kamu atau orang-orang terdekatmu mengalami beberapa masalah atau gangguan mental, jangan ragu untuk pergi mencari bantuan.

BACA JUGA Plus Minus Chattingan Pakai WhatsApp vs Telegram. Mana yang Lebih Bagus? dan tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.