Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Karena ke Psikolog Mahal, Saya Mencoba Maklum pada Mereka yang Tingkahnya ‘Aneh’

Nar Dewi oleh Nar Dewi
11 Juli 2020
A A
gangguan jiwa psikolog Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan

https://unsplash.com/photos/i-ePv9Dxg7U

Share on FacebookShare on Twitter

“No one dies virgin, because life eventually will fuck everyone.” Begitu saya pernah membaca sebuah mim. Diterjemahkan, kalimat itu kurang lebih berarti “Tidak ada yang mati dalam kondisi perawan karena kehidupan pasti memerawani setiap orang!”

Kalau dipikir ya ada benarnya. Mungkin pengecualian dari mim itu cuma anak-anak yang meninggalkan dunia ini dengan segala kepolosannya. Sementara, saya, Anda, dan si anu sudah diobok-obok oleh ganasnya kehidupan.

Di tengah kegilaan dunia ini, muncul juga profesi psikolog dan psikiater. Keduanya bertugas untuk mengobati jiwa-jiwa yang tersakiti dan bermasalah. Tapi ayolah jujur, tidak semua dari kita mampu membayar konseling ke keduanya. Kalaupun mampu, tidak semuanya memiliki waktu dan keberanian untuk melakukannya.

Dan karena hal ini pula, saya pun akhirnya mengambil sikap yang lumayan toleran ketika melihat orang yang memiliki tingkah aneh-aneh. Huh, kok bisa? Sebelum Anda menghujat saya karena mengambil sikap ini, izinkan saya untuk bercerita mengenai tetangga saya dulu.

Hidup sepertinya tidak begitu ramah terhadap tetangga saya itu. Ia menikah muda dan kehilangan kedua orang anaknya menjelang usia 35 tahun. Kedua anaknya tewas tenggelam saat dibawa piknik di pantai oleh seorang saudaranya dari Jakarta. Setelah itu, seolah belum cukup, suaminya pun pergi meninggalkannya dengan wanita lain.

Tetangga saya akhirnya hidup sendiri. Di sebuah rumah limasan yang luas, ia hidup sendiri di sana tanpa sanak keluarga. Bukan itu saja, ia pun berubah dari sosok perempuan desa yang ramah, menjadi sosok janda yang galak dan ketus pada hampir semua orang. Ucapannya hampir selalu tanpa filter. Seolah ia sudah tidak peduli ketika kata-katanya menyinggung perasaan orang lain. Dan memang itu sering terjadi.

Mereka yang baru bertemu dengannya pasti menganggapnya tidak sopan dan kurang ajar. Akan tetapi, kami yang sudah tahu jalan hidupnya memilih untuk memaklumi itu. Tidak selalu memaklumi dengan senyum tentu saja, tapi memaklumi dengan mata yang memandang jengkel dengan kemangkelan yang dibatin dalam-dalam.

Kami sadar bahwa hidup sudah mengoyak-oyak pikiran dan hatinya. Tapi kami pun bukan sansak yang bisa menerima keketusannya setiap hari. Kami punya masalah sendiri dan tekanan tersendiri. Makanya, kami juga sering rasan-rasan soal beliau. Biasanya, setiap akhir rasan-rasan, akan ada yang menasehati bahwa kita harus maklum.

Baca Juga:

6 Sisi Gelap Jurusan Psikologi yang Tidak Masuk Brosur Promosi

Jurusan BK Adalah Jurusan Paling Dibutuhkan di Indonesia, karena Petinggi Negara Ini Hobi Bikin Warganya Pusing tapi Jarang Kasih Obat

Nah, sekarang coba lihat di sekitar kita. Kira-kira ada berapa banyak orang seperti tetangga saya itu? Saya yakin jawabannya tidak sedikit.

Ada yang akhirnya bisa bertahan dengan caranya sendiri. Ada yang kemudian mencoba bertapa dan melakukan hal yang aneh-aneh. Dan ada pula yang mencoba mendekatkan diri dengan Tuhan.

Tapi banyak juga yang tidak melakukan apa pun lalu membiarkan rasa sakit itu menggerogoti dirinya. Akhirnya sifatnya yang positif berubah menjadi negatif, kalimat-kalimat halusnya berubah menjadi nyinyiran dan lain sebagainya.

Kadang, perubahan sifat seperti ini berimbas sangat buruk pada orang-orang di sekitarnya. Sehingga kemudian muncul fenomena bola salju. Masalah tersebut bukannya terselesaikan tetapi justru semakin membesar.

Sayangnya, kesadaran mengenai kesehatan mental di Indonesia masih rendah. Di tempat saya, terdapat istilah “mlengse” dan “kurang” yang sering disematkan pada mereka yang dinilai memiliki masalah kejiwaan. Sering juga terjadi generalisasi di mana semua masalah kejiwaan disamakan dengan skizofrenia. Akibatnya, banyak orang yang merasa malu untuk ke psikolog dan psikiater.

Selain itu, ada pula kelompok yang suka “menyepelekan.” Di tempat saya, buanyak sekali orang seperti ini. Mereka ini orang-orang yang sering bilang “ming” (cuma) sehingga dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan istilah “ngemingke.”

Ada kasus depresi? “Halah mung depresi!” (Halah cuma depresi).

Ada kasus trauma? “Halah mung trauma!” (Halah cuma trauma).

Seperti itulah!

Kondisi ini diperparah karena layanan psikolog belum “ramah” kantong bagi kebanyakan dari kita. Ya memang BPJS sudah menanggung. Teorinya, kita yang merasa bermasalah bisa konsultasi dan mendapatkan penanganan medis.

Tapi untuk ke psikolog atau psikiater, Anda harus ke puskesmas atau dokter keluarga dulu. Prosesnya tidak sesederhana itu. Belum kalau kemudian ditolak untuk sekadar minta rujukan ke psikolog.

Pemakluman dengan sedikit rasan-rasan pun menjadi satu-satunya solusi bagi kami ketika berhadapan dengan mereka yang terguncang jiwanya. Memangnya selain itu, kita bisa apa lagi?

BACA JUGA Pentingnya Alokasi Pos Dana untuk Psikolog, Bukan Berarti Kamu Gila Kok! dan tulisan Nar Dewi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 11 Juli 2020 oleh

Tags: depresigangguan jiwapsikolog
Nar Dewi

Nar Dewi

IRT suka nulis

ArtikelTerkait

gangguan jiwa psikolog Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan

Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan

6 November 2019
ariel tatum

Mari Mengenal Borderline Personality Disorder yang Diderita Ariel Tatum

23 Oktober 2019
I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2_ Catatan Perjalanan Menerima Diri Sendiri terminal mojok

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2: Catatan Perjalanan Menerima Diri Sendiri

30 September 2021
fans kpop

Antara Kematian Sulli dan Ulah Beringas Fans Kpop Garis Keras

18 Oktober 2019
Bikin Bahagia Semua Orang Adalah Kemustahilan dan Kita Harus Menyadarinya

Bikin Bahagia Semua Orang Adalah Kemustahilan dan Kita Harus Menyadarinya

4 Desember 2019
Masak Pengabdian Santri di Pesantren Nggak Dihitung sebagai Pengalaman Kerja? Nggak Adil, Rugi dong!

Kalau Punya Anak Bermasalah, Bawa Ke Psikolog, Jangan Dikirim ke Pesantren

3 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Bekerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak Mojok.co

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

20 April 2026
4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya  Mojok.co

4 Tabiat Tukang Parkir yang Disukai Pengendara. Sebenarnya Sederhana, tapi Tidak Semua Tukang Parkir Bisa Melakukannya 

18 April 2026
6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi Mojok.co

6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi 

21 April 2026
Resign demi Jadi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

Resign demi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

18 April 2026

Di Balik Cap Manja, Anak Bungsu Sebenarnya Dilema antara Kejar Cita-cita atau Jaga Ortu karena Kakak-kakak Sudah Berumah Tangga 

17 April 2026
6 Tanda Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan Mojok.co

6 Ciri Penjual Nasi Ayam Semarang yang Harus Dikunjungi Lebih dari Sekali karena Rasanya Tidak Mengecewakan

22 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar
  • Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera
  • Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik
  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.