Mental Health: Ancaman yang Nyata di Sekitar Kita – Terminal Mojok

Mental Health: Ancaman yang Nyata di Sekitar Kita

Artikel

Avatar

Berbicara soal mental health, aku teringat kalau dulu jaman SMP inget banget ada beberapa teman yang suka melukai tangannya sendiri dengan silet. Sebagai anggota Palang Merah Remaja (PMR) waktu itu yang harus aku lakukan ya memberikan pertolongan pertama seperti membersihkan lukanya dan kemudian dibalut dengan kasa. Eits, bukan aku sih yang melakukan pertolongan pertama itu tapi kakak ketua PMR, habis aku seringkali merasa bergidik kalau liat darah dan luka-luka semacam itu.

Bagiku dulu, itu hanyalah kecaperan-kecaperan remaja, dan bahkan semacam jadi tren—ya mungkin aja sih. Tapi saat hal semacam itu terlintas dalam pikiran sendiri beberapa waktu belakangan, aku menyadari bahwa potensi menyakiti diri sendiri bahkan mengakhiri hidup adalah sebuah ancaman yang nyata.

Triggernya bisa bermacam-macam, beda-beda tentu saja tiap orang. Hari ini pun sebelum aku menuliskan sebuah omong kosong yang kuharap punya isi, aku (sebenarnya) juga struggling untuk tidak njeder-njederin kepala ke tembok, mecahin piring-piring (yang padahal nggak punya banyak juga) di dapur, dan—tentu saja—melukai tangan dengan sesuatu yang tajam.

Tulisan ini sebenarnya nggak tahu akan berakhir bagaimana. Aku hanya mau sedikit menyumbangkan muntahan harianku di jurnal yang biasanya direkomendasikan oleh psikiater atau psikolog sebagai terapi bagi seseorang yang memiliki mental health issue. Dan ini yang kulakukan hari ini:

1.Matiin handphone

Baca Juga:  Hewan-hewan Ini Lebih Bucin dari Fiersa Besari

Seumur punya handphone jarang banget matiin handphone. Tapi entah kenapa hari ini tergerak untuk matiin aja handphone-nya. Bukan karena menghindari dikontak urusan kerjaan, dan lain sebagainya. Tapi karena nggak ada yang kontak itu lebih bikin sakit hati. Apalagi kalau udah kirim pesan terus cuma dibaca nggak dibales.

2. Take a deep breath

Sudah 3 jam sejak melek, aku belum juga beranjak dari tempat tidur. Padahal di kasur juga cuma ketap-ketip ngeliatin langit-langit. Nggak ada domba disana yang bisa dihitung. Tapi ya mau gimana lagi, ya gitu itu seringnya kalau pas lagi nggak punya motivasi hidup. Nah setelah matiin handphone, aku mencoba duduk di pinggiran ranjang, dan mencoba merasai sebuah tarikan dan hembusan nafas. 1 set aja cukup menenangkan, cukup mampu menghempaskan hasutan-hasutan negative yang stuck in our head.

3. Setel musik sekencengnya

Beberapa hari lalu aku sih nyetelnya lagu-lagu Indonesia tahun sekian yang melakonlis. Tapi hari ini aku merasa lelah dengan ke-melakonlis-an macam-macam, jadi kuputuskan untuk memenuhi ruangan rumah kontrakan nyumlik ini dengan mixing lagu-lagu oleh DJ Afrojack, Kygo dan Don Diablo yang pas mereka main di sebuah festival gitu. Ini cukup bikin tubuh bergerak bebas macam di dance floor ~yang suka dugem pasti paham rasanya. Keberuntungan hari ini, si Kakak cantik sedang kencan jadi di rumah sendiri dan bisa nyetel lagu apapun dengan suara seberapapun kerasnya. Nggak perlu dugem ngabisin duit, dan bahaya kalau pas labil dugem sendiri yekan.

Baca Juga:  Momen Pekok Kencan Pertama: Sok Mau Mentraktir di Resto Terkenal, Eh Malah Ditraktir Balik. Kencan Amburadul #3

4. Bebersih

Pertama-tama yang perlu dilakukan adalah bersihin tubuh sendiri. Terus mulai cuci perkakas di dapur yang kalau pas terkena zombie moment bisa nggak dibersihin selama seminggu atau bahkan lebih. Kali ini sih aku cuma 3 hari aja dan itu sih udah cukup mengeluarkan bau tak sedap di ruangan dapur 2×2

5. Nyalain dupa

Aku nyalain dupa, sambil nari-nari diiringin DJ Afrojack. Udah siap jathilan pokoknya. Wewangian itu kalau aku sih bikin makin semangat. Jadi abis mandi semprotin parfum yang biasanya cuma dipakai kalau mau kondangan atau pesta, terus nyalain dupa atau kalau nggak ada dupa, semprotin aja tuh parfum ke beberapa titik di ruangan. Biar seger. Biar aura pestanya dapet.

6. Persiapkan kencan ter-unch

Ini hari Sabtu, enaknya sih hang out apalagi kencan. Tapi pada keadaan habis keluar dari gua itu kadang masih males ketemu temen dan ditanyain macam-macam. Kupilih untuk dandan caem, terus cus ke tempat yang paling diinginkan. Kali ini pilihan jatuh ke tempat yang jual donat dengan avocado coffee-nya yang oke punya, biar makin semangat karena sugar rush. This is my favourite kencan, ditemani Minke dalam Jejak Langkah-nya Pramoedya Ananta Toer. Seru!

Stres itu nyata,

depresi itu nyata,

beratnya masalah yang kita hadapi itu nyata,

ancaman mengakhiri hidup kapan pun itu nyata.

Baca Juga:  Titik di UNS Solo, ISI, dan Sekitarnya yang Perlu Dihindari karena Bikin Muntab

Hari ini rasanya aku cukup berhasil keluar dari sangkar iblis-iblis kecil yang ngajakin nongkrong di neraka. Besok belum tahu, nggak perlu dipikirkan sekarang karena bahwasanya kesusahan sehari untuk sehari aja. Dan dari hati yang terdalam kutuliskan ini cuma pingin caper muncul di notifikasi kalian dan bilang, “you are not alone, never feel alone”.

Hal terindah dalam situasi kayak gini tuh emang cuma cukup tahu kalau ada seseorang yang berjuang bersama and celebrate it together with a champagne atau bahkan hanya mie instan goreng selera kita bersama aja. Iya nggak sih?

 

Bunch of bruises yet happy

Alit Mranani (*)

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.
---
9


Komentar

Comments are closed.