Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Sudah Lulus Kuliah, Kok Masih Harus Ikut Wisuda?

Nick Bash oleh Nick Bash
7 Agustus 2019
A A
jurusan madesu, lulus kuliah

Gimana sih Rasanya Kuliah dan Lulus dari Jurusan yang Katanya “Madesu”?

Share on FacebookShare on Twitter

Wisuda sarjana sering dianggap menjadi sebuah tonggak keberhasilan, baik bagi mahasiswa maupun orang tuanya. Sayangnya tidak bagi saya dan orang tua saya. Meskipun kami tetap hadir di acara tersebut. Jauh-jauh hari sebelum saya resmi lulus kuliah, saya sudah sempat bilang pada beberapa teman bahwa saya tidak akan datang ke acara wisuda saya. Wisuda bagi saya adalah sebuah acara yang sangat membosankan. Sama halnya dengan acara penyambutan mahasiswa baru oleh pihak kampus.

Saya memang sejak lama kurang tertarik dengan acara berbau ceremonial. Acara yang apabila tidak diadakan pun tetap tidak menghilangkan esensi dari kegiatan atau pencapaian sebelumnya. Seperti acara wisuda yang tidak mempengaruhi kelulusan kita dari perkuliahan. Atau resepsi pernikahan yang tidak menambah keabsahan pernikahan sang pengantin.

Orang tua saya juga punya sikap yang hampir sama dengan saya—mungkin karena saya mewarisi sikap itu dari beliau-beliau ini. Mereka kan lebih dulu hadir di dunia yang serba ceremonial ini. Tapi seperti yang saya tulis di awal tulisan ini, mereka hadir di acara wisuda sarjana saya.

Sekitar 2 semester sebelum saya wisuda, mereka sempat dibuat khawatir dengan datangnya sebuah surat dari pihak kampus. Saya malah tidak menerima surat itu, karena saya tidak tinggal bersama mereka. Surat yang berisi himbauan atau peringatan bahwa sisa masa studi saya tinggal satu tahun lagi. Apabila tak menyelesaikan tugas akhir dan lulus sidang akhir maka dipastikan saya akan DO alias drop out.

Sayangnya—entah karena kurang detail saat membaca atau memang karena salah memahami isi surat—orang tua saya hanya membaca bagian tentang DO saja dari surat itu. Tentu saja tak lama setelah menerima surat itu, mereka segera menelepon saya. Dan pertanyaan dari mereka jelas sangat tidak terduga sebelumnya oleh saya.

Alih-alih memarahi atau menasehati saya, mereka justru bertanya, “ngapain aja kok masih disana kalo udah DO dari kampus? Sini pulang ke rumah.” Saya yang tak paham asal muasal berita bahwa saya DO tentu saja kaget. “Lho siapa yang udah DO? Masih lama kok batas akhirnya 12 semester. Ini aku baru beres semester 10.” Dan jawaban dari mereka datar saja, “oh, ya udah. Kalau udah DO cepetan pulang ya.”

Tanggapan yang sangat memotivasi sekali bukan? Supaya kita jangan berlama-lama pura-pura masih kuliah. Nikmat mana lagi yang saya dustakan? Udah punya orang tua super positif kayak gini.

Ketidaklaziman gaya bersikap orang tua saya memang sudah saya tahu sejak saya masih kanak-kanak. Tapi tanggapan dari mereka tetap saja buat saya tak habis pikir. Memang tiap orang tua punya cara sendiri untuk memotivasi anaknya. Jangan-jangan ini memang bukan cara mereka memotivasi saya. Ini cuma supaya saya cepat pulang.

Baca Juga:

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

Sebenarnya saya telah menyelesaikan semua mata kuliah sejak semester 8. Jadi selama 4 semester atau dua tahun terakhir perkuliahan saya hanya mengambil satu mata kuliah yaitu tugas akhir. Bukannya saya bermalas-malasan hingga tak kunjung lulus. Dalam dua tahun itu, setiap tahunnya saya menyelesaikan masing-masing satu tugas akhir dan mengikuti sidang akhir. Beruntungnya sidang yang terakhir saya lulus kuliah. Karena sidang setahun sebelumnya saya gagal.

Akhirnya setelah saya menuntaskan habis jatah waktu kuliah saya sebanyak 12 semester, tiba pula saya menghadapi saat wisuda. Sebelumnya tentu saya sudah memberi kabar bahwa saya telah lulus kuliah kepada orang tua sesaat setelah menghadapi sidang tugas akhir. Sekali lagi, tanggapan mereka datar, “Oh, nggak jadi DO ya. Udah selesai berarti kuliahnya kan?”

“Masih ada satu lagi, wisuda bulan depan.” Saya tentu harus memberitahukan bahwa akan ada acara wisuda setelahnya. Bukan karena saya ingin hadir—tapi semata karena ini sebuah informasi yang harus saya sampaikan kepada orang tua saya. Mereka pun menanggapi, “oke. Kabari aja tanggal pastinya.”

Mendengar jawaban seperti itu dari mereka, saya berprasangka bahwa mereka ingin hadir di acara wisuda saya. Meski ini agak aneh dan di luar kebiasaan mereka. Saya akhirnya mendaftarkan diri untuk mengikuti wisuda dan mendapat dua tiket tambahan untuk pendamping wisuda. Tak lupa saya memberi tahu jadwal wisuda kepada orang tua saya.

Dua hari sebelum jadwal wisuda, orang tua saya sudah sampai di Bandung. Ternyata mereka serius mau datang ke wisuda saya. Karena saya sempat berpikir untuk tak hadir saat wisuda apabila sampai sehari sebelum hari H mereka belum datang juga. Tak apalah meski biaya wisuda sudah terlanjur dibayarkan. Berhubung mereka akhirnya datang, berarti sudah resmi kalau saya harus mengikuti acara wisuda ini.

Hari wisuda akhirnya datang juga. Pagi-pagi kami harus sudah siap berangkat ke Gedung Sabuga—tempat diadakannya acara—agar tidak kesulitan untuk parkir kendaraan. Sesampainya di depan gedung, saya sempat bertemu dengan teman seangkatan—yang sama-sama lulus kuliah tepat di akhir waktu—didampingi oleh kedua orang tuanya. Kami berbincang sebentar. Kedua orang tuanya mengajak orang tua saya untuk masuk ke dalam gedung. Tapi orang tua saya menolak halus tawaran tersebut.

Orang tua saya beralasan bahwa acara wisuda baru akan dimulai satu jam lagi. Tapi sampai sekitar 10 menit sebelum acara dimulai, saya dan kedua orang tua saya masih saja berada di luar. Saya pun bertanya, “nggak masuk nih? Udah mau mulai lho.” Dan mereka serempak menjawab, “di sini aja enak. Bisa lihat juga kan dari layar.” Di luar memang disediakan layar besar dan juga tempat duduk, hal ini untuk mengakomodasi para pendamping yang terlambat datang setelah acara dimulai. Tapi saya tetap tak habis pikir dengan jawaban orang tua saya tadi.

“Lho ngapain dateng dari pagi kalo nggak masuk ke dalem? Katanya mau dateng ke acara wisuda?” Saya berusaha memastikan lagi kepada mereka. Mereka pun balik bertanya, “kirain kamu yang pengen dateng wisuda? Makanya ngasih kabar soal jadwal wisuda.” Saat ini lah saya baru tersadar bahwa telah terjadi kesalahpahaman di antara kami.

Saya yang berprasangka bahwa mereka memang ingin hadir di acara wisuda ini, ternyata mendapatkan prasangka yang sama dari mereka—mereka mengira saya yang ingin hadir. Saya pun merelakan mereka duduk di luar dan saya beranjak masuk karena acara segera dimulai.

Ternyata kami—baik saya dan orang tua saya—memang masih sama seperti dulu. Sama-sama tak suka acara ceremonial. Sama-sama sulit memahami alur komunikasi kami yang tak biasa ini. Dalam hati saya pun mengumpat, “Ngapain dateng kesini kalo sama-sama nggak pengen dateng, Bambang!1!”

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2022 oleh

Tags: CurhatDOdropoutKapan LulusKuliahLulus KuliahMahasiswaSkripsiwisuda
Nick Bash

Nick Bash

Saya saat ini berprofesi sebagai pengusaha paruh waktu, di sela-sela kesibukan saya menemani istri dan anak saya sambil terus belajar menyeimbangkan hidup.

ArtikelTerkait

Tidak Ada yang Namanya Liburan untuk Anak Persma

Tidak Ada yang Namanya Liburan untuk Anak Persma

7 Maret 2020
Tips Menjadi Mahasiswa dengan Keuangan yang Stabil terminal mojok

Tips Menjadi Mahasiswa dengan Keuangan yang Stabil

6 Juni 2021
ke toilet

Jangan Minta Saya Nganter ke Toilet

21 Agustus 2019
skripsi ratusan halaman data skripsi kutipan dalam karya tulis skripsi dibuang mojok

Kutipan dalam Karya Tulis Banyak, tapi Argumen Pribadinya Nol

24 Februari 2021
demonstrasi tolak omnibus law uu cipta kerja garut pt chang shan reksa jaya alasan buruh ikut aksi mojok.co

Bertanya Langsung Alasan Buruh Garut Ikut Demo Omnibus Law Cipta Kerja 

9 Oktober 2020
5 Kelemahan Tinggal di Kos Putri yang Jarang Disadari Banyak Orang Mojok.co

5 Kelemahan Tinggal di Kos Putri yang Jarang Disadari Banyak Orang

3 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

22 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak (Wikimedia Commons)

4 Ciri Angkringan yang Sudah Pasti Enak, Daya Tarik Penjual juga Nggak Kalah Penting

28 April 2026
5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

23 April 2026
LCGC Bukan Lagi Mobil Murah, Mending Beli Motor Baru (Unsplash)

Tidak Bisa Lagi Disebut Mobil Murah, Nggak Heran Jika Pasar LCGC Semakin Kecil dan Calon Pembeli Jadi Takut untuk Membeli

25 April 2026
Rasanya Jadi Orang Bangkalan Madura Belakangan Ini: Pilihan Toko Makin Banyak, tapi Tukang Parkir Ikut Merajalela Mojok.co

Rasanya Jadi Orang Bangkalan Madura Belakangan Ini: Pilihan Toko Makin Banyak, tapi Tukang Parkir Ikut Merajalela

23 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.