Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Bus Bagong, Bus Ekonomi Murah Rasa Jet Tempur

Budi oleh Budi
26 Agustus 2025
A A
Bus Bagong, Bus Ekonomi Murah Rasa Jet Tempur

Bus Bagong, Bus Ekonomi Murah Rasa Jet Tempur (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sejujurnya saya pengin mengulang kembali pengalaman naik bus Bagong. Tapi dengan catatan nggak duduk di kursi paling depan lagi.

Ada satu momen yang bikin saya sampai sekarang masih ketawa getir setiap kali mengingatnya. Pagi itu udara Tulungagung masih agak dingin, langit pun enggan membuka tirainya. Jalanan kota lengang, hanya ada beberapa kendaraan lewat. Sesekali motor bebek yang terdengar knalpotnya memecah sunyi.

Saya berjalan melewati gang-gang kecil, sambil menyeret langkah ke Terminal Gayatri. Tujuan saya sederhana: pergi ke Surabaya.

Kedengarannya biasa saja, kan? Tapi ternyata perjalanan itu memberi saya pengalaman yang lebih dari sekadar “duduk di kursi, sampai tujuan”. Saya benar-benar jadi saksi bahwa naik bus ekonomi, terutama bus Bagong, bukan hanya soal transportasi murah, tapi semacam atraksi adrenalin yang layak didokumentasikan.

Tujuan pertama: Terminal Gayatri Tulungagung

Itu adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Terminal Gayatri. Jujur saja ekspektasi saya nggak tinggi. Saya pikir terminal ini bakal mirip terminal bus di kota lain kayak Kudus. Sepi, agak nggak terawat, dan penuh calo yang bikin penumpang malas untuk sekadar menoleh. Ternyata saya salah, Terminal Gayatri lumayan terawat.

Saat masuk, saya langsung disambut beberapa kru bus. Ada yang dengan ramah menawarkan bantuan untuk membawakan barang saya gratis, tanpa embel-embel. Rasanya agak aneh karena jujur saja saya terbiasa dengan suasana terminal yang lebih komersial agresif. Bungurasih, misalnya, yang lebih mirip hutan rimba ketimbang tempat berangkat bus. Nuansa Terminal Gayatri yang lebih manusiawi setidaknya bikin saya bisa bernapas tenang.

Di dalam terminal ada beberapa lajur. Saya perhatikan ada lajur yang diisi dua nama bus: Harapan Jaya dan Bagong. Semuanya terlihat terawat, bahkan armada ekonominya pun tampil meyakinkan. Cat masih mulus, kaca jendela bersih, tak ada yang tampak seperti besi tua berjalan. Sebagai orang yang sering juga mengamati bus di Semarang, saya langsung sadar, ini kontras banget.

Memilih bus ekonomi bukan karena pelit, tapi logika

Saya memilih naik bus ekonomi. Alasannya sederhana, takut tarif bus patas atau eksekutif bikin kantong jebol. Dari Tulungagung ke Surabaya, saya kira harganya bakal sebanding dengan Kudus–Jogja yang bisa tembus hampir Rp100 ribu dengan jarak hampir sama.

Baca Juga:

Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

Memang ada opsi lebih terjangkau naik kereta ekonomi. Murah, cuma Rp15 ribu. Tapi kursinya berhadap-hadapan, kaku, dan bikin pegal. Saya butuh perjalanan yang lebih “waras” buat duduk.

Dan puji Tuhan, ternyata, kejutan kedua datang saat saya bayar tiket. Hanya Rp33 ribu. Saya ulangi, tiga puluh tiga ribu rupiah saja. Kok bisa semurah itu? Untuk perjalanan sejauh Tulungagung–Surabaya, harga segitu rasanya absurd. Rasanya seperti dapat jackpot. Dan pilihan saya jatuh pada bus Bagong.

Plus minus bus Bagong

Bus Bagong yang saya naiki kalau nggak salah bermesin Hino, dengan konfigurasi mesin depan. Bagi yang sering naik bus pasti paham kalau mesin depan identik dengan kelas ekonomi.

Konfigurasi kursinya 3-2, artinya satu baris bisa menampung lima orang. Kursinya sendiri wajar. Nggak terlalu empuk, tapi juga nggak terlalu keras. Pas saja.

Tetapi yang jelas agak sempit. Saya nggak sampai menghitung jumlah kursinya, tapi intinya: banyak. Dari depan, tampak seperti bus yang penuh tekad memaksimalkan setiap jengkal ruang. Kalau ini rumah kontrakan, pemiliknya pasti tipe orang yang nggak mau rugi.

Meski begitu saya memaklumi. Namanya juga bus ekonomi, jangan harap punya kursi lebar dengan sandaran ala kursi bioskop. Toh saya naik bus Bagong ini bukan untuk tidur siang, melainkan untuk bisa sampai Surabaya dengan selamat. Atau setidaknya, itu yang saya harapkan.

Gaspol sejak Kediri

Bus Bagong yang saya tumpangi mulai melaju pelan keluar terminal. Awalnya, masih santai. Bus masih menaikkan beberapa penumpang di pinggir jalan. Tapi setelah itu? Gila!

Lintas Tulungagung–Kediri, bus Bagong berubah menjadi predator jalanan. Bus ini meliuk-liuk di jalur sempit, menyalip tanpa basa-basi. Ada beberapa calon penumpang yang terpaksa ditinggalkan karena bus terlalu kencang. Saya yang duduk di kursi depan langsung jadi penonton utama.

Bayangkan, kaca depan lebar dengan pemandangan sopir yang menyalakan high beam tanpa ampun, menyalip truk, mobil plat militer, motor CB seakan itu sepeda mini. Deg-degan? Jelas! Tapi ada sisi adiktif juga. Rasanya seperti menonton Fast and Furious versi Jawa Timur, tapi kita ikut masuk ke dalam mobil balap.

Beruntung, AC di dalam bus cukup dingin. Jadi meski jantung saya panas-dingin setiap kali sopir bus banting setir, hawa sejuk dari AC lumayan menenangkan.

Tol Jombang, saatnya bus Bagong ngebut sungguhan

Begitu masuk tol Jombang, drama makin gila. Jalanan lebar, mulus, dan lurus memberi kesempatan bagi sopir Bagong untuk unjuk gigi. Pedal gas diinjak seolah tidak ada hari esok.

Suara mesin meraung, bus melaju stabil di kecepatan tinggi. Di momen itu, saya sadar bahwa bus ekonomi bermesin depan bukan berarti pelan. Justru sebaliknya, inilah kelakuan aslinya. Gaspol tanpa kompromi.

Saya bahkan merasa waktu berjalan lebih cepat. Saya tiba di Surabaya sebelum saya sempat benar-benar bosan. Alih-alih capek, saya justru merasa sedang mengikuti wahana ekstrem di taman hiburan. Bedanya, tiketnya hanya Rp33 ribu.

Murah, cepat, deg-degan: kombinasi aneh yang membuat rindu

Naik bus Bagong dari Terminal Gayatri ke Surabaya meninggalkan kesan yang unik. Murah, cepat, tapi juga bikin jantung olahraga ekstra. Rasanya mirip-mirip naik roller coaster, hanya saja lebih panjang dan ada AC.

Saya jadi berpikir, mungkin memang inilah nilai plus transportasi darat di Jawa Timur: efisiensi yang liar. Di saat bus lain alon-alon, Bagong memilih jalan hidup berbeda. Gaspol tanpa ampun. Dan anehnya, saya suka.

Bagong bukan sekadar bus ekonomi

Kalau orang bertanya, apa kesan saya naik Bagong? Jawaban saya sederhana. Bagong bukan sekadar bus ekonomi. Ia semacam kendaraan yang merangkum tiga hal sekaligus: kecepatan, keberanian, dan keikhlasan dompet.

Dengan Rp33 ribu, saya bukan cuma mendapat kursi untuk duduk, tapi juga pengalaman yang tak akan saya temukan di kereta murah. Apalagi di bus kota tua yang berjalan pelan. Bagong adalah paket lengkap, bikin penumpang takut, bikin kagum, sekaligus bikin ketagihan.

Jadi, kalau ada yang bilang naik bus ekonomi itu menyiksa, mungkin mereka belum pernah mencicipi sensasi naik bus Bagong dari Terminal Gayatri. Karena jujur, bagi saya, ini salah satu perjalanan paling memorable yang pernah saya alami. Dan ya, saya rela mengulanginya. Dengan catatan nggak duduk di kursi paling depan lagi.

Penulis: Budi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Pertama Kali Naik Bus Bagong ke Malang Jadi Pengalaman Paling “Membagongkan” dalam Hidup.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Agustus 2025 oleh

Tags: Busbus AKAPBus Bagongbus ekonomi
Budi

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

ArtikelTerkait

Membandingkan Perjalanan Jogja-Banyuwangi: Naik Kereta Api Sri Tanjung Lebih Aman, Naik Bus Sama dengan Setor Nyawa

Membandingkan Perjalanan Jogja-Banyuwangi: Naik Kereta Api Sri Tanjung Lebih Aman, Naik Bus Sama dengan Setor Nyawa

26 Oktober 2023
Bus AKAP Solo-Jakarta Lebih Nyaman ketimbang Kereta Eksekutif (Unsplash)

Bus AKAP Eksekutif Solo-Jakarta Contoh Layanan Bus Tidak Kalah dari Kereta Api

25 November 2023
Bus ALS Medan-Jember, Bus dengan Perjalanan Terlama yang Jadi Penyelamat Mahasiswa Sumatra

Bus ALS Medan-Jember, Bus dengan Rute Perjalanan Terpanjang yang Jadi Penyelamat Mahasiswa Sumatra

25 Juli 2023
Perbedaan Bus Sugeng Rahayu Ekonomi dan Non-Ekonomi Surabaya-Jogja yang Perlu Diketahui Calon Penumpang

Perbedaan Bus Sugeng Rahayu Ekonomi dan Non-Ekonomi Trayek Surabaya-Jogja yang Perlu Diketahui Calon Penumpang

2 Maret 2024
Tips Aman Naik Bus Rosalia Indah supaya Terhindar dari Maling Mojok.co

Tips Aman Naik Bus Rosalia Indah supaya Terhindar dari Maling 

13 April 2025
Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat Mojok.co

Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat

30 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

29 Maret 2026
Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026
8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang Mojok.co

Suzuki Katana Adalah Mobil yang Menyalahi Logika, Banyak Orang Menyukainya walau Jadul dan Kerap Bikin Sakit Pinggang

1 April 2026
Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.