Bumi Manusia For Millenials Jaksel Part III: Herman Mellema Is Dead

Artikel

Avatar

Baca ini dulu: Here’s Bumi Manusia for Millenials Jakarta Selatan

Sama ini: Bumi Manusia for Millenials Jakarta Selatan Part II: Nyonya Ontosoroh

Minke tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Calon mertuanya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di sebuah tempat pijet milik Koh Ah Tjong di daerah Kelapa Gading. Minke dan Nyonya Ontosoroh menemukan Herman Mellema sudah tak bernyawa dengan busa di mulutnya di kamar nomor 27. Saat karyawan Koh Ah Tjong membuka pintu, lagunya Ahmad Dhani yang “Madu Tiga” langsung menerpa pendengaran Minke dan Nyonya Ontosoroh.

Melihat Herman Mellema yang meninggal, ada pertanyaan muncul di kepala Minke. Mana yang lebih pathetic: mati di tempat pijet atau mati dengan soundtrack lagunya Ahmad Dhani yang misogynistic?

Sementara Nyonya Ontosoroh langsung marah-marah dan teriak-teriak ke Koh Ah Tjong dan karyawan-karyawan di situ, Minke can’t help himself to remember the first time he met Herman Mellema.

Waktu itu Minke pergi ke rumah Annelies untuk pertama kalinya. Setelah DM-DM-an lumayan intensif via Instagram, Annelies mengajak Minke untuk dinner di rumahnya. Minke tadinya mau mengajak Annelies ke kosannya, tapi mungkin ajakan itu terlalu cepat karena mereka baru kenal. Dan karena Minke sudah rindu, Minke mengiyakan.

Ternyata pada dinner itu mereka tidak sendiri. Ada Robert dan Suurhof yang juga ikut dinner. Robert menatap Minke dengan kesal. Sambil nge-vape, Robert berkata, “Like, what are you doing here, Man? Lo bukannya orang kampung? Lo emang doyan makanan orang Jakarta? Mendingan lo makan di warteg daripada nanti nggak doyan.”

Sementara Suurhof hanya tertawa mengejek, Annelies menjawab dengan cepat. “He’s my guest. So shut the fuck up.”

Minke kaget mendengar Annelies mengumpat di hadapan Nyonya Ontosoroh. Tapi sebaliknya, Nyonya Ontosoroh hanya diam saja. Dia malah lebih tertarik ngobrol dengan Minke dan membahas soal Brexit. Karena Minke emang kebetulan ngambil kelas political science di sekolahnya, Nyonya Ontosoroh sangat terpukau dengan jawaban-jawaban Minke yang sangat clear.

Baca Juga:  Masyarakat Indonesia yang Ramah dan Murah Senyum

“Tot, kita mau makan apa ngobrol sik?” tanya Robert kesal.

Dan saat itulah pembantu Annelies bermunculan dan menaruh makanan di atas meja.

“Silahkan, Minke. Kamu mau apa? Steak atau stew? Ini ada veal,” kata Annelies lembut.

Minke menaruh brokoli di atas piringnya kemudian berkata sambil tersenyum, “I’m sorry, Annelies. Aku lupa bilang kalo aku vegetarian.”

It’s like a film. Right after Minke said that, Herman Mellema muncul. He’s drunk af. Herman Mellema bahkan tidak bisa menyangga badannya. Badannya kayak sex doll tanpa angin di atas kursi. Butuh dua menit untuk dia duduk proper.

“Siapa ini?” tanya Herman Mellema ke Minke. Ada Suurhof yang baru pertama kali ke kediaman Mellema tapi hanya Minke yang mendapatkan perhatian Herman Mellema. Mungkin karena Suurhof make kaos Deus Ex Machina jadi Herman Mellema langsung mengambil kesimpulan kalo Suurhof temannya Robert.

“Halo, Pak Herman. Nama saya Minke,” kata Minke. Entah kenapa aksen Jawa dia keluar. Dia sering melakukan ini ketika dia sedang sangat gugup.

“Oh, wong Jowo…,” cemooh Herman Mellema. “What the fuck are you doing in my house?” tanyanya dengan aksen Amerika yang renyah. Sekarang Minke mengerti dari mana Robert mendapatkan kepribadiannya.

“Babe, please. Behave,” kata Nyonya Ontosoroh kasual sambil mengunyah steak.

Don’t tell me what to do, you dirty whore!” teriak Herman Mellema.

Minke melirik ke Robert. Robert tidak bereaksi. Dia terus makan steak meskipun sekarang telinganya disumpal dengan airpod dan samar-samar Minke mendengar lagunya Maroon 5. What a basic bitch.

Minke mengalihkan pandangannya ke Annelies. Dan Minke melihat air mata meleleh di pipinya. Annelies menatap Minke dan mengucapkan “I’m so sorry…” tanpa suara.

Baca Juga:  Bumi Manusia for Millenials Jakarta Selatan Part II: Nyonya Ontosoroh

Minke mengangkat tangannya ke udara, mengelap mulutnya dengan lap meskipun tidak ada apa-apa di sana, dan berkata “I’m fine…” tanpa suara.

Nyonya Ontosoroh meletakkan pisau dan garpunya kemudian menatap suaminya dan berkata dengan suara yang sangat tajam. “Look, I’m not going to make a scene. But I need you to go to your room and rest now.”

You fucking cunt.”

Meskipun Herman Mellema mendesis saat mengucapkan kalimat tersebut tapi Minke merasa bahwa suaranya terdengar sangat lantang sampai-sampai menyisakan gema.

“DARSAAAMMMM…,” teriak Nyonya Ontosoroh. Dan lima detik kemudian seorang laki-laki pendek kekar dengan kumis yang bisa menyaingi Adam Suseno muncul. “Get him out,” kata Nyonya Ontosoroh santai.

Darsam pun langsung menenteng Herman Mellema pergi. Herman Mellema sempat berontak tapi karena he’s too drunk, dia tidak punya kemampuan untuk melawan Darsam. Semenit kemudian, ruang makan kembali sepi.

I’m sorry for my husband, Minke,” kata Nyonya Ontosoroh sambil menyesap wine. “He means well but he’s not like he used to be.”

What happened?” tanya Minke. Dia tidak bisa menahan rasa keponya.

Well, another time, Minke. Another time,” jawab Nyonya Ontosoroh sambil tersenyum.

Dan sampai sekarang, bahkan setelah Herman Mellema menjadi mayat, Nyonya Ontosoroh masih utang cerita soal suaminya ke Minke. Tetapi Minke punya feeling bahwa tidak lama lagi, misteri tersebut akan segera terjawab.

Bersambung.

Follow Twitter Candra Aditya di sini.

---
825 kali dilihat

19

Komentar

Comments are closed.