Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Bukankah Beribadah di Masjid Adalah Hak Segala Usia, Ya?

Aly Reza oleh Aly Reza
22 Januari 2020
A A
Sebagai Muslim, Saya Risau karena Banyaknya Bangunan Masjid mojok.co/terminal

Sebagai Muslim, Saya Risau karena Banyaknya Bangunan Masjid mojok.co/terminal

Share on FacebookShare on Twitter

Jadi ceritanya beberapa hari yang lalu pas kebetulan saya pulang kampung di Rembang sana, saya menemui kasus yang sebenarnya sudah basi, sih. Tapi ini penting saya utarakan (gaya Gus Baha) biar kita nggak abai sama hal-hal kecil yang ada di sekitar. Oke, coba kita mulai….

Keadaan rumah masih tidak jauh berbeda, setiap sore ada saja anak-anak tetangga yang bermain di halaman rumah saya yang nggak luas-luas amat. Mereka biasanya bakal bubar kalau sudah terdengar qiraah dari corong masjid, tanda magrib sebentar lagi. Alasannya sederhana, biar bisa langsung mandi dan nggak telat jamaah. Bener-bener calon penerus bangsa yang relijies.

Tetapi berbeda dengan sore itu. Qiraah sudah lama bertalu, lha ini anak-anak kok malah masih pada asik tembak-tembakan air. Akhirnya saya dekati mereka sambil bertanya, “Kok nggak pada pulang? Nanti telat loh jamaahnya.” Salah satu dari mereka, yang tidak lain adalah adik saya sendiri menjawab setengah berteriak dari kejauhan, “Anak-anak yang belum balig sekarang nggak boleh ke masjid, Kak.” Lho kok bisa? Aturan dari mana itu?

Usut punya usut, minggu lalu waktu salat jumat, si khatib yang katanya baru lulus pesantren itu mengeluarkan fatwa sambil berbusa-busa. Ia bilang bahwa anak-anak yang belum masuk usia balig dilarang keras “main” di masjid. Begitu kurang lebih pengakuan adik saya.

Demi meminimalisir potensi tersebarnya hoaks (bahaya ini kalau tidak segera diklarifikasi) akhirnya saya tanyakan kepada salah seorang kawan yang malam itu mampir ngopi di rumah saya. Tidak jauh berbeda dengan pengakuan adik saya, kawan saya yang santri ini juga menuturkan hal serupa.

Saya kira nggak cuma masjid di kampung saya yang menerapkan aturan demikian. Problem seperti ini mesti sudah sampeyan jumpai di beberapa masjid di daerah-daerah lain, barangkali masjid di daerah sampeyan sendiri.

Jadi sebenarnya apa untungnya sih ngelarang anak-anak buat ke masjid? Kalau alasannya karena anak-anak ke masjid cuma buat main-main, hadeeeehhhh yakali pak, lumrahnya anak-anak itu ya main-main. Kalau mikir hutang itu mah tugas sampeyan. Masih untung loh mereka mainnya di masjid. Lhah misalkan, ini misalkan loh ya, mereka mainnya di tempat-tempat prostitusi, pijat plus-plus, atau diskotik, ha nggak malah mumet to sampeyan? Makannya kalau mau bikin fatwa mbok ya dipikir dulu ngapa.

FYI aja nih, saya waktu masih seumuran adik saya (kira-kira kelas 5 SD) pernah punya pengalaman juga soal diusir dari masjid. Waktu itu bulan Ramadan, saya dan beberapa kawan lainnya diusir oleh Pak Takmir lantaran dianggap jadi biang kegaduhan. Biasa lah, saya dan kawan-kawan kalau nggak guyon ya bikin ricuh pas momentum bilang “amiiinnn”.

Baca Juga:

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

Gegara hal kayak gitu tuh, Pak Takmir merasa perlu buat bentak kami, marah-marah, sambil bawa sapu yang diacung-acungkan ke arah kami. Hari-hari setelah itu, mungkin ada beberapa kawan saya yang masih sregep ke masjid, bedanya kali ini mereka lebih anteng. Bagaimana dengan saya? Serius, sejak saat itu saya jadi males banget buat ke masjid. Males kena smprot lagi.

Nah, jadi itu hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum melarang lebih-lebih mengusir anak-anak dari masjid. Konsekuensinya dua; iya kalau si anak cuma kapok buat nggak guyon lagi pas sedang di masjid. Tapi kalau malah jadi seperti saya? Bener-bener kapok buat ke masjid, bisa repot kan? Secara hari ini banyak yang mengeluhkan perihal sepinya aktivitas remas. Bagaimana kita mau membentuk karakter remaja yang cinta masjid, kalau sedari anak-anak saja mereka sudah ditanamkan trauma sebegitu rupa.

Sudahlah nggak usah ngeluarin dalil ini-itu yang menjabarkan larangan ke masjid bagi anak yang belum balig. Apa ya masih kurang tindakan yang dicontohkan Kanjeng Nabi? Sebuah riwayat yang sangat populer mengisahkan Kanjeng Nabi saja membiarkan cucu-cucunya, Hasan dan Husein menunggangi punggung beliau saat beliau dalam kondisi salat. Beliau toh fine saja, nggak marah-marah ke mereka, nggak negur mereka, nggak ngacung-ngacungin sapu apalagi. Dan yang paling penting, kekhusyukan Kanjeng Nabi nggak terganggu sama sekali loh. Catat itu.

Maka kalau sampeyan  merasa kondusifitas dan kekhusyukan salat sampeyan terganggu karena anak-anak yang rame waktu salat jamaah berlangsung, jangan buru-buru nuduh anak-anaklah biangnya. Sebab jangan-jangan justru kadar keimanan sampeyan saja yang masih amatiran. Ha iyo to? Masak gara-gara anak-anak bilang “amiiinnn”nya kenceng terus sampeyan auto nggak khusyuk? Masak cuma gara-gara anak-anak guyon dan rame konsentrasi salat sampeyan seketika buyar? Kalau sudah begitu yang perlu sampeyan lakukan adalah membenahi niat dan iman sampeyan, bukan malah menjadikan anak-anak sebagai kambing hitam. Situ paham?

Terakhir, mungkin kita juga perlu mengadopsi kebijaksanaan yang diterapkan di Masjid Ahmat Hamdi Aksesi, Turki. Masjid ini menyediakan fasilitas bermain khusus buat anak-anak di area yang agak terpisah dari barisan salat, tapi tetap masih bisa terpantau. Dengan begitu para orang tua masih bisa khusyuk dan konsentrasi dalam beribadah, sementara anak-anak juga dapat merasakan atmosfer kenyamanan di masjid sejak dini.

BACA JUGA Cerita Diusir dari Masjid dan Misteri Skenario Allah Swt atau tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Januari 2020 oleh

Tags: Anak-AnakberisikMasjidsalat
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Kelas Sosial dalam Menu Pamongan Wetonan: Ultah Klasik yang Mulai Hilang terminal mojok.co

Kelas Sosial dalam Menu Pamongan Wetonan: Ultah Klasik yang Mulai Hilang

22 Januari 2021
3 Masjid di Jember yang Menyediakan Takjil Gratis

3 Masjid di Jember yang Menyediakan Takjil Gratis

25 Maret 2023
ICJ satuan waktu sak ududan perokok anak kecil djarum super mojok mulut asbak

Buat para Perokok, Apapun Alasannya, Plis Jangan Nyuruh Anak Kecil Beli Rokok

5 Agustus 2020
5 Masjid Terdekat dari Pantai Losari yang Bisa Ditempuh dengan Jalan Kaki (Oen Michael via Shutterstock.com)

5 Masjid Terdekat dari Pantai Losari yang Bisa Ditempuh dengan Jalan Kaki

20 April 2022
Hal Menyebalkan yang Saya Alami karena Punya Wajah dengan Tampang Kekanak-kanakan

Hal Menyebalkan yang Saya Alami karena Punya Wajah dengan Tampang Kekanak-kanakan

25 Januari 2020
Bagi Saya, Pesisir Utara Buleleng Bali Istimewa, Bukti Nyata Bhinneka Tunggal Ika bule

Bagi Saya, Pesisir Utara Buleleng Bali Istimewa, Bukti Nyata Bhinneka Tunggal Ika

10 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Bandung dari Kacamata Orang Lokal, Nggak Kalah dari Kampus Negeri Mojok.co PTN

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

23 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026
Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.