Lima Karakteristik Jamaah Salat Tarawih yang Pernah Saya Temui

Artikel

Firdaus Al Faqi

Banyak hal-hal yang bisa diamati ketika sedang salat tarawih. Mulai dari jumlah rakaat sampai pada tingkat kecepatan penyelesaian salat tarawih tersebut. Ada yang cepat, ada yang moderat, dan ada yang lambat. Orang-orang yang ada di dalamnya pun, bisa juga diamati. Mulai dari imam hingga jamaah yang melaksanakan salat tarawih. Paling menarik bagi saya adalah perihal jamaah salat tarawih dengan karakter yang heterogen. Ada jamaah yang sering protes, ada yang pendiam, ada yang menggerutu di belakang, dan ada juga yang datang hanya untuk mendapatkan jajan yang dibagikan setelah salat tarawih usai.

Ketika mengingat-ingat tentang perilaku jamaah ini, tangan saya begitu geli untuk menuliskannya. Hanya untuk iseng-iseng saja, untuk mengenali heterogenitas jamaah, saya mencatat dengan membaginya ke dalam beberapa kategori atau golongan berdasarkan karakteristik mereka masing-masing.

Tapi perlu diingat, pembagian jamaah ini, hanya berdasarkan pada pengamatan pribadi dan hasil dari interaksi secara langsung antara saya dengan jamaah yang pernah ditemui. Kalau saya membaginya berdasarkan potret jamaah tarawih dengan skala nasional maupun internasional, bisa makan waktu dan makan tenaga. Maka dari itu, beberapa kategori ini bisa berbeda di tempat lain dan juga di pandangan orang lain. Oke, langsung saja, ya. Agar saya tak tambah bingung membuat paragraf pembuka.

Pertama, Golongan Arkais

Untuk golongan arkais ini, mereka adalah yang berumur lebih dari 50 tahun. Ciri umum yang bisa dilihat dari mereka adalah dari rambut. Ada yang berambut botak karena banyak pikiran dan ada juga yang rambutnya sudah memutih. Kalau di desa saya, biasanya mereka yang menempati saf paling depan. Selain karena mereka datang duluan, mungkin pertimbangan utamanya adalah agar mereka tidak merasa terganggu dengan ancaman kena hantam bokong jamaah yang di depannya. Ciri lainnya adalah gerak mereka yang sudah tidak sat-set-bat-bet lagi sebab jika terlalu cepat, mungkin tulang-tulang mereka akan sering bunyi kratak-kratak karena pelumasnya tak sebanyak pelumas tulang anak-anak muda.

Selain itu, mereka bisa ditandai dengan pembicaraan setelah salat tarawih usai. Tema pembahasan mereka biasanya tak jauh-jauh dari sakit pinggang, sakit punggung, rematik kambuh, dan penyakit-penyakit tua sebangsanya. Selain itu, mereka ini yang paling getol memprotes secara sembunyi-sembunyi jika imam membawa jamaahnya sampai akhir salat tarawih dengan kecepatan setara Shinkansen yang bisa berlari 300 km/jam itu.

Baca Juga:  Alternatif Pengganti Sahur on the Road

Kedua, Golongan Wreda

Pada golongan ini, diisi oleh orang-orang yang berada pada fase lagi matang-matangnya. Entah itu secara pemikiran ataupun secara perilaku mereka. Rata-rata dari mereka berumur sekitar 25-40 tahun. Ini adalah usia, yang menurut saya merupakan fase manusia dewasa paling sempurna. Mengapa dikatakan matang? Karena saya tak melihat dari mereka yang sambat perihal kecepatan salat tarawih. Mau banter monggo, mau lambat ya oke-oke saja. Katakanlah mereka golongan moderat yang bisa memahami dan menerima apa saja yang datang pada diri mereka. Mereka bisa memaklumi imam yang sudah tua dan tarawihnya lambat, dan mereka juga bisa memaklumi imam yang masih fresh dan tarawihnya cepat.

Mereka ini paling jarang melakukan hal yang aneh-aneh. Sebab mereka sadar bahwa bukan lagi pada fase remaja yang sering labil karena QLC-lah, insecure-lah, dan istilah semacamnya. Untuk penempatan, mereka bisa di mana saja. Kalau ada saf kosong ya mereka mengisi. Bisa di tengah dan bisa juga di belakang. Ini adalah jamaah tarawih yang paling tidak ribet dan jarang komplain ataupun berlaku yang tidak-tidak. Pokoknya paling seimbang, moderat, dan biasa-biasa saja.

Ketiga, Golongan Yuwana

Pada golongan ini, diisi oleh mereka-mereka yang masih muda. Masih segar dan masih punya darah berapi-api. Karakter mereka bisa dilihat dari keinginan mendalamnya agar imam salat tarawih menyelesaikan salatnya yang kalau bisa melebihi kecepatan pesawat F-16. Pokoknya harus cepat. Kalau tidak mendapatkannya, ciri utamanya adalah mereka akan langsung badmood dan besoknya mencari tempat tarawih dengan imam sesuai dengan yang mereka inginkan. Selain itu, mereka ini yang sering menjadikan bulan Ramadan lebih hidup. Umur mereka yang berada di antara 15-25 tahun, menjadikan mereka lebih banyak ‘polah’nya. Pokoknya ada-ada saja.

Kalau tarawih usai, biasanya mereka akan langsung meninggalkan tempat untuk meledakkan mercon di tempat-tempat yang sebelumnya telah disepakati. Kalau dirasa aman dan tidak ada yang mengganggu, mereka akan melanjutkan prosesi peledakan mercon dengan sangat bringas dan terus-menerus. Tapi, kalau ada bapak-bapak bersungut yang keluar dengan arit, clurit, atau apa pun disertai dengan meneriaki, barulah mereka berhenti dan kabur terbirit-birit. Dalam golongan ini adalah mereka yang muda, beda, dan berbahaya serta membahayakan orang lain dan diri sendiri.

Keempat, Golongan Anarko

Pada golongan ini, umur mereka rata-rata yang berada di bawah 15 tahun. Dapat ditandai dengan tubuh yang masih kecil, suara cempreng, dan berada di barisan saf paling belakang. Bukan tanpa alasan. Teritori saf paling belakang itu dianggap sebagai area paling istimewa karena mereka bisa leluasa bermain. Selain itu, tempat paling belakang merupakan tempat yang tidak bisa dilihat oleh bapak mereka. Kalau kelihatan, ya tahu sendiri lah gimana. Selain itu, mereka ini yang biasa bilang ‘Aamiiin’ dengan volume suara setaraf petir yang 120 desibel itu. Selain bikin mangkel, mereka ini juga berpotensi bikin orang-orang golongan arkais jantungan.

Baca Juga:  Macam-macam Pembeli Warung dari Cara Mereka Teriak "Beliii"

Selain itu, mereka adalah yang khusus diturunkan ke gelanggang dunia pertarawihan untuk bikin kacau dan memecah konsentrasi jamaah yang sedang khusyuk-khusyuknya dan juga sering bikin darah tinggi dari mereka yang terganggu. Tapi, mereka inilah yang menghidupkan suasana Ramadan. Karena kebanyakan dari mereka ini yang sering ikut keliling desa untuk menabuh alat-alat sampai masyarakat kaget dan bangun dari tidurnya untuk sahur.

Kelima, Golongan Intelektual Sedjati

Untuk yang ini khusus bagi ibu-ibu kompleks yang saat siang hari menahan energi gibahannya agar pahalanya tak berkurang. Ketika malam, baru mereka melampiaskan hasrat dan bakat terpendam dalam focus group discussion bersama rekan-rekan sejawatnya. Pembahasannya adalah hal-hal yang memantik sense of curiosity ala-ala intelektual seperti  ngomongin orang, membahas model-model baju terbaru, di mana tempat beli baju yang murah, dan obrolan khas emak-emak lainnya. Pahala tarawih dapat, pengetahuan juga bertambah.

Biasanya, mereka ngobrolin itu semua ketika ngaso karena saking ngos-ngosannya saat tarawih atau ketika tarawih telah usai. Kalau biasanya di dalam masjid atau musala itu tadarus, nah, golongan ini biasanya berada di luar teritori tadarus. Selain agar pembicaraannya rahasia, mereka juga menjaga kesucian areal tadarus agar tidak terkotori oleh gibah santuy yang dilakukan.

BACA JUGA Kebiasaan Pilih-Pilih Masjid Saat Salat Tarawih Sebelum Ada Pandemi dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.