Informasi
ADVERTISEMENT

Bom Waktu Arema FC dan Momentum Perubahan bagi Suporter Generasi Baru yang Menolak Tunduk

Bom Waktu Arema FC dan Momentum Suporter Generasi Baru (Unsplash)

Dari deretan peristiwa sejak Tragedi Kanjuruhan di awal Oktober 2022, kita sebenarnya sudah tahu bagaimana klub (dalam hal ini Arema FC) memosisikan suporter. Arema FC hanya menganggap suporter sebagai mesin uang, entah itu dari tiket atau merchandise. Arema FC seakan tak peduli dengan suporter dalam posisi sebagai seorang manusia. Suara-suara dari suporter yang diabaikan, bahkan dianggap angin lalu, memunculkan gelombang protes dan kemarahan yang lebih besar. Sebuah bom waktu.

Dan perlawanan itu muncul dari suporter generasi baru. Kemunculan suporter generasi baru ini seakan menjadi tamparan bagi dunia suporter, khususnya Arema FC dan Aremania. Nyatanya, selama ini wajah Aremania diwakili oleh mereka-mereka generasi tua yang problematik, mereka-mereka yang lebih memilih menjilat pantat klub alih-alih berdiri di sisi suporter, dan memperjuangkan hak-hak suporter. Pengkhianat.

Coba saja lihat wajah-wajah suporter Aremania yang muncul di media beberapa pekan selepas Tragedi Kanjuruhan. Mereka adalah suporter generasi tua problematis. Suporter generasi tua yang didominasi preman, anggota ormas, yang tak peduli dengan kepentingan suporter secara umum, dan tidak pernah terlihat ikut turun ke jalan (atau bahkan bersuara) menuntut keadilan dari klub dan federasi.

Mereka hanya memedulikan kepentingan mereka sendiri, bagaimana agar mereka tetap mendapatkan belaian manja klub. Sebuah sikap yang hina, pengkhianat, yang pantas dienyahkan, diganti oleh mereka yang menolak tunduk.

Yang muda yang lebih bijak

Dari aksi yang berlangsung Minggu (29/1) siang, suporter generasi baru ini juga menunjukkan sikap legowo mereka dengan meminta maaf kepada pihak-pihak yang dirugikan. Kepada masyarakat Indonesia, kepada masyarakat Malang Raya, kepada klub sepak bola lain, kepada pemain dan mereka yang bekerja di dunia sepak bola, kepada keluarga korban Tragedi Kanjuruhan, dan kepada seluruh suporter di seluruh Indonesia. Tak terkecuali kepada Persebaya.

Ini adalah secuil titik terang yang coba disebarkan oleh suporter generasi baru. Meminta maaf kepada klub rival atas apa yang terjadi adalah langkah besar hati yang harus diapresiasi.

Persebaya, melalui kelompok suporternya, juga menyambut hangat permintaan maaf ini. Sebuah tamparan bagi federasi atau siapa saja mereka yang masih ingin memelihara permusuhan dengan alasan bisnis belaka. Termasuk bagi kelompok suporter generasi tua yang tak menghendaki perdamaian.

Maka dengan kemunculan suporter generasi baru ini ke permukaan, sepertinya akan menjadi senjakala dan mimpi buruk bagi suporter generasi tua yang kolot dan nirempati. Sudah saatnya suporter generasi tua bermental jongos, pengkhianat, dan penjilat ini enyah, digantikan oleh suporter generasi baru yang berpendirian dan menolak tunduk pada tiran.

Kedamaian memang harus disemarakkan. Pengkhianat dan penjilat harus segera dienyahkan. Dan keadilan harus segera diperjuangkan dan ditegakkan. Jika tidak, bom waktu dengan ledakan yang lebih besar, menunggu di depan sana. 

Saya Aremania

Shame on you, Arema FC!! Alih-alih berada di pihak Arek Malang dan para korban, Arema FC malah memberi makan para penjilat. Para generasi tua penjilat dan problematis berkumpul di kantor klub tak tahu malu tersebut pada (31/1). Tak ada solidaritas terhadap korban. Yang ada hanya solidaritas kepada logo klub yang sehari sebelumnya dihancurkan. Ternyata logo leboh penting dari nyawa. Nurani memang sudah mati.

Sementara para penjilat dan pengkhianat diberi ruang, para pejuang dibungkam, dipolisikan. Dan solidaritas kini tertuju kepada para pejuang. Solidaritas untuk Sam Ambon Fanda dkk yang sedari awal selalu menyuarakan usut tuntas Tragedi Kanjuruhan. Mereka pejuang, bukan kriminal, bukan penjilat, dan bukan pengkhianat.

Jika mereka, generasi tua penjilat, menyebut diri mereka sebagai Aremania, maka boleh lah kita memisahkan Aremania dengan Arek Malang. Kita Arek Malang, generasi baru, adalah pejuang, bukan pengkhianat, bukan penjilat. Saya dengan bangga melepas identitas saya sebagai Aremania yang sudah melekat selama ini. Saya tak sudi bergabung dengan para penjilat berjubah Aremania, yang alih-alih bernurani dan berperikemanusiaan, malah menunjukkan sikap pengkhianat, penjilat, dan abai, sama seperti Arema FC.

Sebab penjilat selamanya hanya akan berada di bawah pantat!

Maka, mengakhiri tulisan ini, sekaligus untuk menjaga agar api perlawanan tetap menyala sampai keadilan didapat, izinkan saya mengutip lirik lagu “Tantang Tirani” dari Homicide.

Ini adalah monumen tenggat kesabaran dan angkara

Satu barisan, ribuan mimpi

Titik berangkat yang tak pernah dapat kami datangi kembali

Terbuang serupa fotokopian pamflet aksi di setiap perempatan

Harapan kami akan berakumulasi menyaingi nyalak senapan kalian

Kami merayap dalam lamat menyaingi hantu-hantu pesakitan

Hingga waktu kalian mencapai tenggat

 

Kebebasan yang datang saat kau tak memiliki lagi harapan

Saat opsi tersisa adalah berdiri menantang para tiran

Saat momen terhidup dalam hidupmu

Adalah memasang badan di tengah medan

Kawan, mana kepalan kalian

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Yang Belum Tersentuh di Tragedi Kanjuruhan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 Februari 2023 oleh .

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.