Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Bikin Bahagia Semua Orang Adalah Kemustahilan dan Kita Harus Menyadarinya

M. Farid Hermawan oleh M. Farid Hermawan
4 Desember 2019
A A
Bikin Bahagia Semua Orang Adalah Kemustahilan dan Kita Harus Menyadarinya
Share on FacebookShare on Twitter

Kebahagiaan dalam hidup ini sering digambarkan dengan beragam klasifikasi dan entitas yang berbeda antara satu individu dengan indvidu lainnya. Ada yang bilang bahwa bahagia itu sederhana, dengan bisa bernapas pun nyatanya adalah sebuah kebahagiaan. Ada juga yang bilang bahwa materi adalah sumber dari kebahagiaan. Kaya dan banyak uang, siapa yang tidak bahagia dengan itu? Perbandingan dari banyaknya pendapat menyoal kebahagiaan tersebut membuat saya bertanya-tanya, apakah manusia memang perlu bahagia dan setidaknya bisa membuat semua orang bahagia?

Manusia mana yang tidak ingin berbahagia dalam hidupnya? Bahkan orang yang paling berbahagia pun masih ingin mencari kebahagiaan. Albert Einstein sang penemu teori relativitas juga meluangkan waktunya untuk setidaknya mencoba menerjemahkan arti kebahagiaan dalam secarik kertas yang ia berikan kepada seorang kurir. Bunyinya begini,

“Hidup yang tenang dan sederhana memberikan lebih banyak kebahagiaan, dibanding mengejar kesuksesan yang terus terikat dengan ketidaktenteraman.” Einstein menggunakan pakem kesederhanaan untuk menjelaskan makna kebahagiaan.

Selain Einstein, Steve Jobs pun juga memakai pakem kesederhanaan untuk memahami arti kebahagiaannya. Itu bisa dilihat dari kebiasaannya yang cenderung sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai, di rumahnya sendiri pun perabotannnya terbilang minim.

Pakem-pakem bahwa kesederhanaan adalah kebahagiaan, memang sering ditonjolkan oleh orang-orang yang awalnya lahir dari sebuah proses yang tidak mudah dalam perjalanan hidupnya dan akhirnya berhasil mencapai kesuksesan. Jika melihat fakta, pola pikir bahagia itu sederhana memang tidak salah dan tidak benar-benar amat.

Tidak salah karena kebahagiaan itu abstrak dan tidak bisa dipukul rata. Kebahagiaan saya dan kebahagiaan kalian pastinya berbeda. Dan saya akui bahwa kumpul dan nongkrong bersama teman adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Terlihat sepele dan sederhana, cuma nongkrong. Tapi itulah kebahagiaan.

Tidak benar-benar amat karena ketika ada orang yang menganggap bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Padahal banyak orang tidak berbahagia jikalau tidak punya uang. Tapi kenapa kesederhanaan terus ditonjolkan untuk menggeneralisasi kebahagiaan?

Kalau dipikir-pikir lagi, kebahagiaan itu sebenarnya cukup rumit. Apalagi kita sebagai manusia adalah makhluk sosial. Konotasi bahagia tidak hanya untuk pribadi tapi juga sering menjadi tuntutan orang lain. Semakin maju zaman, manusia semakin sulit menunjukkan egoisme kebahagiaannya karena dituntut untuk membahagiakan orang lain. Manusia modern tidak hanya berperan untuk memuaskan kebahagiaannya sendiri, tapi ada orang lain yang juga meminta dibahagiakan. Dan akhirnya banyak muncul komentar-komentar pada diri kita terkait bentuk tubuh, pakaian, hingga berbagai aktivitas yang kamu lakukan.

Baca Juga:

6 Sisi Gelap Jurusan Psikologi yang Tidak Masuk Brosur Promosi

Lika-liku Sopir Jenazah: Sengaja “Mengantar” Hantu karena Gabut dan Sering Ditolak Jadi Talent Uji Nyali

Manusia lainnya melihat kita sebagai seseorang yang harus membuatnya bahagia. Ada orang yang bisa melakukan itu. Namun kebanyakan orang tidak bisa, yang akhirnya berujung stres, tidak percaya diri, insecure, hingga depresi. Makna bahagia itu sederhana, sudah semakin pudar di zaman modern ini. Kalau boleh saya sebut, saat ini bahagia itu rumit. Karena ada banyak orang yang juga menuntut untuk dibahagiakan.

Saya menemukan artikel menarik yang membahas bahwa sebenarnya manusia tidak dirancang untuk bahagia yang ditulis oleh Rafael Euba, seorang konsultan dan dosen. Ia menjelaskan bahwa manusia itu tidak dirancang untuk bahagia. Menurutnya manusia tidak bisa bahagia terus menerus. Sebaliknya ia mengatakan bahwa manusia dirancang untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Manusia akan dikatakan menjadi manusia ketika membentur yang namanya ketidakpastian.

Tentunya saya tidak menelan mentah-mentah apa yang Rafael Euba sampaikan, terutama di bagian manusia tidak dirancang untuk bahagia dan tugasnya cuma bertahan hidup dan reproduksi. Hanya saja saya setuju di bagian yang mengatakan bahwa manusia tidak bisa terus menerus bahagia. Memang hidup tidak hanya seputar bahagia. Ada gagal, menangis, tertawa, menangis lagi, dan tentunya banyak hal lain yang tidak pasti. Dan akan masuk akal ketika seorang manusia tidak bisa selalu bahagia untuk dirinya sendiri, apalagi membahagiakan semua orang terus menerus, itu adalah sebuah kemustahilan yang hakiki.

Ketika makna bahagia saja menjadi entitas yang katanya sederhana tapi ternyata seiring waktu menjadi sesuatu yang rumit. Sebagai seorang manusia biasa kita seharusnya sadar bahwa membahagiakan diri sendiri saja kita masih terseok-seok. Apalagi ketika berbicara membahagiakan semua orang. Mungkin saya rasa tidak ada yang mampu melakukannya. Sekalipun orang tersebut baik, berprestasi, dan ramahnya minta ampun. Tetap saja ia tidak bisa membuat semua orang bahagia. Ada saja yang merasa tidak bahagia dengan prestasinya, tidak suka dengan keramahannya dan curiga dengan kebaikannya. Manusia memang seperti itu dan kita semua harus menyadarinya.

Seperti yang dikatakan George Bernard Shaw,

“Kita tidak memiliki hak untuk menikmati kebahagiaan bila kita tidak mampu menciptakan kebahagiaan; sama seperti kita tidak berhak menikmati kekayaan, kalau kita tidak mampu menghasilkan kekayaan”

Jadi cobalah ciptakan kebahagiaan itu, jangan kebanyakan julid~

BACA JUGA Ngapain Nyenengin Orang Tapi Kita Nggak Bahagia? atau tulisan M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Desember 2019 oleh

Tags: BahagiadepresiHidup
M. Farid Hermawan

M. Farid Hermawan

Saat ini aktif menangani proses rekrutmen harian serta seleksi kandidat.

ArtikelTerkait

rumus hukum fisika yang berhubungan dengan cinta dan kehidupan mojok.co

6 Hukum Fisika yang Bisa Jadi Solusi Masalah Hidup Sehari-hari

25 September 2020
penyebab sariawan tanda sariawan alasan sariawan obat sariawan mojok.co

Sariawan Bisa Merupakan Tanda Stres atau Depresi

6 Oktober 2020
Tes Usia Mental: Ketika Hidup Membuat Mental Kita Cepat Tua ODGJ

Ketika ODGJ Harus Merawat Orang Sakit: Berusaha Tetap Tegar meski Diri Benar-benar Ambyar

7 September 2023
Kiat Hidup Bahagia meski Bokek dan Nggak Bisa Yang-yangan mojok.co/terminal

Kiat Hidup Bahagia meski Bokek dan Nggak Bisa Yang-yangan

12 Maret 2021
Hidup Bahagia ala K.H. Anwar Zahid: Bahagia Bukan Hanya Milik Orang Kaya

Hidup Bahagia ala K.H. Anwar Zahid: Bahagia Bukan Hanya Milik Orang Kaya

31 Maret 2023
kos murah 300 ribuan di solo

Hal-hal Absurd yang Hanya Terjadi di Kos Murah

22 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

Ironi Lumajang: Dekat dengan Laut, tapi Sulit Menemukan Seafood

25 Februari 2026
Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

26 Februari 2026
5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli terminal

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli

24 Februari 2026
6 Dosa Penjual Jus Buah- Ancam Kesehatan Pembeli demi Cuan (Unsplash)

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

26 Februari 2026
Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada Mojok.co

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada

21 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya
  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.