Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2: Catatan Perjalanan Menerima Diri Sendiri

Rina Purwaningsih oleh Rina Purwaningsih
30 September 2021
A A
I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2_ Catatan Perjalanan Menerima Diri Sendiri terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Judul: I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2
Penulis: Baek Se Hee
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 229 halaman
Harga: Rp99.000
Tahun Terbit: 2020

Pertama kali melihat judul buku ini, perhatian saya terpaku pada kata “die”. Kalimat “I want to die” seolah mengisyaratkan sebuah pergulatan besar dalam hidup seseorang sampai-sampai ia ingin mati. Padahal, mati lebih tepat dianggap sebagai sebuah keniscayaan daripada keinginan. Lebih aneh lagi karena keinginan untuk mati bersamaan dengan keinginan untuk makan camilan khas Korea bernama tteokpokki. Judul buku yang unik dan kontradiktif. Saya tersihir, dilanda penasaran dengan isi buku tersebut.

Tepat seperti dugaan saya, Baek Se Hee, tokoh sekaligus penulis buku, tengah mengalami perjuangan berat dan panjang sebagai penyintas distimia, depresi ringan jangka panjang. Depresi adalah gangguan mood yang menyebabkan seseorang kehilangan kesenangan secara persisten. Gangguan ini memengaruhi bagaimana kita merasa, berpikir, dan bertindak. Kondisi depresi Se Hee yang memuncak tak terkendali memunculkan keinginan untuk mati. Untuk mengendalikan impuls bunuh diri yang semakin menumpuk, dia wujudkan dengan cara menyakiti dirinya sendiri (self-harm).

Nama Baek Se Hee mulai dikenal setelah meluncurkan buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki jilid pertama. Dukungan dari K-Pop idol seperti RM BTS berhasil mencuri perhatian publik Korea sehingga buku bertema kesehatan mental ini menjadi best seller di Korea Selatan. Buku ini bahkan sudah dialihbahasakan ke berbagai bahasa di Asia termasuk Indonesia. Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2 adalah kelanjutan dari buku pertama yang merupakan catatan perjalanan seorang Baek Se Hee menerima dirinya sendiri dalam mengatasi depresinya.

Di buku keduanya ini, Se Hee masih menggunakan format yang sama dengan buku pertama, yaitu berupa wawancara konseling antara dirinya dan sang psikiater. Kisah buku ini dimulai dari minggu 13 sampai minggu 26 konseling, meneruskan konseling buku pertama. Bedanya, dalam I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2 ini Se Hee memutuskan untuk mengakhiri kisah perjalanan mentalnya hanya sampai pada konseling minggu ke-26. Namun, hal tersebut bukan berarti Se Hee sudah berhasil menyembuhkan depresinya. Proses yang sedang berlangsung—sedang dia perjuangkan saat ini—adalah bagian dari penerimaan diri itu sendiri.

Lantaran depresi merupakan kondisi gangguan kejiwaan yang begitu kompleks, maka penyembuhannya pun memiliki solusi yang tidak sederhana. Dalam praktiknya, depresi membutuhkan proses penyembuhan yang panjang dan melelahkan. Melalui konseling antara dia dengan psikiaternya, Se Hee memberikan gambaran nyata kepada pembaca tentang bagaimana rumitnya hidup sebagai penyintas depresi. Pembaca akan banyak menemukan lompatan-lompatan pikiran Se Hee secara random, seperti pada umumnya penyintas depresi alami.

Di bagian awal buku, yaitu minggu ke-13 Ingin Dicintai, Apa Salahnya?, Se Hee membuka kisahnya dengan pengakuan bahwa ia memiliki kepercayaan diri yang rendah. Dia sangat mudah terpengaruh dengan penilaian orang lain terhadap dirinya. Se Hee tidak bisa menerima penolakan dari orang lain, sehingga dia berusaha keras mengikuti apa yang orang lain inginkan padanya. Namun, pada akhirnya Se Hee menyesal dan menganggap dirinya pecundang, bahkan benci dan jijik terhadap dirinya sendiri yang dianggapnya terlalu lemah.

Psikiater menjelaskan kebencian itu dikarenakan Se Hee terlalu mengasihani dirinya sendiri. Se Hee menganggap apa pun dalam pikirannya selalu benar dan selalu dihubungkan dengan luka di masa lalu. Dia menginternalisasi pandangan orang lain sebagai pandangannya sendiri. Lebih jauh lagi, Se Hee telah masuk terlalu dalam sampai-sampai memperkirakan apa yang orang pikirkan seakan itu adalah pikirannya sendiri. Rasa bersalah yang muncul belakangan adalah bentuk dari kemarahan karena pikiran yang dia buat sendiri.

Baca Juga:

6 Sisi Gelap Jurusan Psikologi yang Tidak Masuk Brosur Promosi

Perjalanan ke Kantor Lebih dari 60 Menit Meningkatkan Risiko Kena Depresi. Apa Kabar Pekerja Jakarta?

Di bagian Supaya Mereka Bisa Melihat Bagian Diriku yang Bercahaya, psikiater menyarankan Se Hee untuk tidak membuat standar ideal (sempurna) di dalam dirinya, untuk kemudian memaksakan diri memenuhi standar itu bagaimanapun caranya. Se Hee harus berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain karena hal itu justru menjadi alat untuk mempertegas rasa rendah diri. Se Hee juga perlu menikmati kelebihan yang dia miliki, tidak hanya fokus pada kekurangannya semata.

Perlahan-lahan Se Hee menemukan kepingan demi kepingan dirinya. Setelah melalui berbagai peristiwa yang tidak mengenakkan dalam menghadapi karakter orang yang berbeda-beda, tanpa disadari menjadi jalan baginya menemukan sisi indah yang dia miliki. Saat muncul kesadaran, pada dasarnya dia dilahirkan dengan hati yang baik, dia bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik dengan belajar dari pengalaman sendiri maupun dari pengalaman orang lain.

“Dibandingkan menerima kekurangan diri, aku memutuskan untuk tidak memandang negatif diriku sendiri. Aku juga punya banyak sisi yang bercahaya. Aku hanya menolak melihatnya, sampai aku jadi frustasi.”(hal. 213)

Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2 tidak ditujukan untuk orang yang mencari solusi cepat atau tips-tips mengatasi depresi secara instan. Untuk sesama penyintas, karya Baek Se Hee ini layaknya sebuah cermin yang memberi jawaban atas kekosongan-kekosongan yang sering dirasakan oleh penyintas depresi untuk sama-sama berjuang menemukan, menerima, dan mencintai diri sendiri. Buku ini juga tepat dibaca oleh siapa pun, menjadi semacam referensi, membuka wawasan untuk lebih memahami dan berempati alih-alih menghakimi dan memberi stigma pada para penyintas gangguan mental.

Sumber Gambar: Dokumentasi Penulis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 September 2021 oleh

Tags: Baek Se HeedepresiI Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki 2
Rina Purwaningsih

Rina Purwaningsih

Seorang ibu 2 putri spesial. Pemerhati, penyintas dan caregiver kesehatan mental.

ArtikelTerkait

Perjalanan ke Kantor Lebih dari 60 Menit Meningkatkan Risiko Kena Depresi. Apa Kabar Warga Jakarta? Mojok.co

Perjalanan ke Kantor Lebih dari 60 Menit Meningkatkan Risiko Kena Depresi. Apa Kabar Pekerja Jakarta?

22 Desember 2023
Ketika Tidak Kuat Lagi, Biarkan Psikolog Hadir dan Mendengarkan

Ketika Tidak Kuat Lagi, Biarkan Psikolog Hadir

16 Desember 2019
Buat Deddy Corbuzier, Luna Maya, dan Siapa pun yang Masih Anggap Remeh Kesehatan Mental terminal mojok.co

Buat Deddy Corbuzier, Luna Maya, dan Siapa pun yang Masih Anggap Remeh Kesehatan Mental

1 April 2021
Pentingnya Alokasi Pos Dana untuk Psikolog, Bukan Berarti Kamu Gila Kok!

Pentingnya Alokasi Pos Dana untuk Psikolog, Bukan Berarti Kamu Gila Kok!

7 Desember 2019
ariel tatum

Mari Mengenal Borderline Personality Disorder yang Diderita Ariel Tatum

23 Oktober 2019
Tes Usia Mental: Ketika Hidup Membuat Mental Kita Cepat Tua ODGJ

Ketika ODGJ Harus Merawat Orang Sakit: Berusaha Tetap Tegar meski Diri Benar-benar Ambyar

7 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026
Kotabaru Jogja, Kawasan Pemukiman Belanda yang Punya Fasilitas Lengkap, yang Sekarang Bersolek Jadi Tempat Wisata

Hidup di Kotabaru Jogja Itu Enak, Sampai Kamu Coba Menyeberang Jalan, Ruwet!

28 April 2026
Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Saya Orang Wonogiri, Kerja di Jogja. Kalau Bisa Memilih Hidup di Mana, Tanpa Pikir Panjang Saya Akan Pilih Jogja

24 April 2026
Cepu, Kecamatan di Blora yang Paling Pantas Dikasihani Mojok.co

Satu Dekade Merantau, Transportasi Umum di Blora Masih Gaib dan Jalanannya Bikin Cepat Menghadap Tuhan

24 April 2026
12 Istilah Hujan yang Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo” Mojok

12 Istilah Hujan yang Terdengar Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo”

30 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.