Bikin Bahagia Semua Orang Adalah Kemustahilan dan Kita Harus Menyadarinya

Artikel

M. Farid Hermawan

Kebahagiaan dalam hidup ini sering digambarkan dengan beragam klasifikasi dan entitas yang berbeda antara satu individu dengan indvidu lainnya. Ada yang bilang bahwa bahagia itu sederhana, dengan bisa bernapas pun nyatanya adalah sebuah kebahagiaan. Ada juga yang bilang bahwa materi adalah sumber dari kebahagiaan. Kaya dan banyak uang, siapa yang tidak bahagia dengan itu? Perbandingan dari banyaknya pendapat menyoal kebahagiaan tersebut membuat saya bertanya-tanya, apakah manusia memang perlu bahagia dan setidaknya bisa membuat semua orang bahagia?

Manusia mana yang tidak ingin berbahagia dalam hidupnya? Bahkan orang yang paling berbahagia pun masih ingin mencari kebahagiaan. Albert Einstein sang penemu teori relativitas juga meluangkan waktunya untuk setidaknya mencoba menerjemahkan arti kebahagiaan dalam secarik kertas yang ia berikan kepada seorang kurir. Bunyinya begini,

“Hidup yang tenang dan sederhana memberikan lebih banyak kebahagiaan, dibanding mengejar kesuksesan yang terus terikat dengan ketidaktenteraman.” Einstein menggunakan pakem kesederhanaan untuk menjelaskan makna kebahagiaan.

Selain Einstein, Steve Jobs pun juga memakai pakem kesederhanaan untuk memahami arti kebahagiaannya. Itu bisa dilihat dari kebiasaannya yang cenderung sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai, di rumahnya sendiri pun perabotannnya terbilang minim.

Pakem-pakem bahwa kesederhanaan adalah kebahagiaan, memang sering ditonjolkan oleh orang-orang yang awalnya lahir dari sebuah proses yang tidak mudah dalam perjalanan hidupnya dan akhirnya berhasil mencapai kesuksesan. Jika melihat fakta, pola pikir bahagia itu sederhana memang tidak salah dan tidak benar-benar amat.

Tidak salah karena kebahagiaan itu abstrak dan tidak bisa dipukul rata. Kebahagiaan saya dan kebahagiaan kalian pastinya berbeda. Dan saya akui bahwa kumpul dan nongkrong bersama teman adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Terlihat sepele dan sederhana, cuma nongkrong. Tapi itulah kebahagiaan.

Baca Juga:  Rumah Pocong Sumi: Pengalaman Masuk Rumah Horor yang Sering Dipakai Uji Nyali

Tidak benar-benar amat karena ketika ada orang yang menganggap bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Padahal banyak orang tidak berbahagia jikalau tidak punya uang. Tapi kenapa kesederhanaan terus ditonjolkan untuk menggeneralisasi kebahagiaan?

Kalau dipikir-pikir lagi, kebahagiaan itu sebenarnya cukup rumit. Apalagi kita sebagai manusia adalah makhluk sosial. Konotasi bahagia tidak hanya untuk pribadi tapi juga sering menjadi tuntutan orang lain. Semakin maju zaman, manusia semakin sulit menunjukkan egoisme kebahagiaannya karena dituntut untuk membahagiakan orang lain. Manusia modern tidak hanya berperan untuk memuaskan kebahagiaannya sendiri, tapi ada orang lain yang juga meminta dibahagiakan. Dan akhirnya banyak muncul komentar-komentar pada diri kita terkait bentuk tubuh, pakaian, hingga berbagai aktivitas yang kamu lakukan.

Manusia lainnya melihat kita sebagai seseorang yang harus membuatnya bahagia. Ada orang yang bisa melakukan itu. Namun kebanyakan orang tidak bisa, yang akhirnya berujung stres, tidak percaya diri, insecure, hingga depresi. Makna bahagia itu sederhana, sudah semakin pudar di zaman modern ini. Kalau boleh saya sebut, saat ini bahagia itu rumit. Karena ada banyak orang yang juga menuntut untuk dibahagiakan.

Saya menemukan artikel menarik yang membahas bahwa sebenarnya manusia tidak dirancang untuk bahagia yang ditulis oleh Rafael Euba, seorang konsultan dan dosen. Ia menjelaskan bahwa manusia itu tidak dirancang untuk bahagia. Menurutnya manusia tidak bisa bahagia terus menerus. Sebaliknya ia mengatakan bahwa manusia dirancang untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Manusia akan dikatakan menjadi manusia ketika membentur yang namanya ketidakpastian.

Tentunya saya tidak menelan mentah-mentah apa yang Rafael Euba sampaikan, terutama di bagian manusia tidak dirancang untuk bahagia dan tugasnya cuma bertahan hidup dan reproduksi. Hanya saja saya setuju di bagian yang mengatakan bahwa manusia tidak bisa terus menerus bahagia. Memang hidup tidak hanya seputar bahagia. Ada gagal, menangis, tertawa, menangis lagi, dan tentunya banyak hal lain yang tidak pasti. Dan akan masuk akal ketika seorang manusia tidak bisa selalu bahagia untuk dirinya sendiri, apalagi membahagiakan semua orang terus menerus, itu adalah sebuah kemustahilan yang hakiki.

Baca Juga:  Terima Kasih Evan Spiegel, Sekarang Saya Tidak Jomblo Lagi

Ketika makna bahagia saja menjadi entitas yang katanya sederhana tapi ternyata seiring waktu menjadi sesuatu yang rumit. Sebagai seorang manusia biasa kita seharusnya sadar bahwa membahagiakan diri sendiri saja kita masih terseok-seok. Apalagi ketika berbicara membahagiakan semua orang. Mungkin saya rasa tidak ada yang mampu melakukannya. Sekalipun orang tersebut baik, berprestasi, dan ramahnya minta ampun. Tetap saja ia tidak bisa membuat semua orang bahagia. Ada saja yang merasa tidak bahagia dengan prestasinya, tidak suka dengan keramahannya dan curiga dengan kebaikannya. Manusia memang seperti itu dan kita semua harus menyadarinya.

Seperti yang dikatakan George Bernard Shaw,

“Kita tidak memiliki hak untuk menikmati kebahagiaan bila kita tidak mampu menciptakan kebahagiaan; sama seperti kita tidak berhak menikmati kekayaan, kalau kita tidak mampu menghasilkan kekayaan”

Jadi cobalah ciptakan kebahagiaan itu, jangan kebanyakan julid~

BACA JUGA Ngapain Nyenengin Orang Tapi Kita Nggak Bahagia? atau tulisan M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
15


Komentar

Comments are closed.