Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Law of Attraction, Solusi untuk Generasi Muda yang Rentan Depresi

Fariza Rizky Ananda oleh Fariza Rizky Ananda
13 Januari 2020
A A
Law of Attraction, Solusi untuk Generasi Muda yang Rentan Depresi
Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini, perbincangan mengenai Law of Attraction (LOA) muncul di platform media sosial. Hal ini akhirnya membuat semakin banyak yang mengetahui konsep LOA ini, termasuk saya. Jujur, saya baru mengetahuinya setelah membaca sedikit-sedikit pengalaman orang lain di media sosial tentang LOA ini. Saya pun jadi tertarik untuk mendalaminya dengan membaca berbagai publikasi dan artikel. Dan ya, saya rasa LOA merupakan something special, novel, and magical.

Kalau kata komunitas global the Law of Attraction yang berdiri sejak 2014, LOA itu adalah sebuah kemampuan kita untuk attract atau “menarik” apa pun yang sedang kita fokuskan atau pikirkan ke kehidupan kita sendiri. “Whether we are doing it knowingly or unknowingly, every second of our existence, we are acting as human magnets sending out our thoughts and emotions and attracting back more of what we have put out,” katanya. Dilansir dari Finansialku, sederhananya, Law of Attraction adalah sebuah sikap mempercayai bahwa setiap peristiwa positif atau negatif yang terjadi dalam hidup bukanlah sebuah ketidaksengajaan, tapi itu terjadi karena individu itu sendiri yang menghendakinya.

Mungkin kalian pernah merasakan LOA ini, seperti ketika kalian kangen seseorang tiba-tiba orang tersebut menelpon atau chat kalian. Atau ketika kalian berharap kelas dibatalkan dan benar saja dosen kalian saat itu tidak bisa hadir ke kelas. Hal-hal sederhana tersebut adalah salah satu contoh konsep LOA ini bekerja di kehidupan kita. Apa yang kita pikirkan, semesta menghendakinya tanpa atau dengan kita menyadarinya.

Setelah saya paham dengan konsep LOA ini, saya pun sadar bahwa saya pernah merasakannya. Contoh LOA yang pernah saya alami yaitu saya bertemu dengan crush saya di sebuah tempat yang benar-benar pernah saya bayangkan beberapa bulan sebelumnya. Setelah sudah lama tidak bertemu dengannya, tentunya saya berpikir bahwa ini semacam dreams do come true. Sudah gitu, tempat dan kegiatannya juga beneran pernah saya bayangkan. Selain kejadian itu, saya juga merasakan LOA ini ketika saya ditawari sebuah jabatan di kepengurusan BEM, yang sebelumnya saya hanya kepikiran untuk daftar menjadi staf di sana. Dengan departemen yang saya inginkan pula. Magic bukan?

Law of Attraction, mungkin bisa menjadi salah satu jalan keluar yang bisa ditempuh para generasi muda yang rentan depresi dan galau. Saat ini ekspektasi life goals dan lifestyle semakin tinggi standarnya di masyarakat urban. Apalagi di masa depan mungkin bisa semakin meninggi standarnya, membuat generasi muda saat ini jadi cenderung work so hard to fulfill that standard. Padahal, standar yang ada tersebut diciptakan dari gengsi yang berkembang di masyarakat, tidak melihat bahwa kemampuan individu itu berbeda-beda. Hidup enak tuh seperti orang kelas menengah ke atas, punya rumah besar dan mewah, kendaraan pribadi, barang bermerek, liburan ke luar negeri secara berkala, dan lain sebagainya. Untuk masyarakat yang bukan kelas atas, melihat standar yang terpatri mengenai hidup enak tersebut berubah menjadi sebuah pressure bagi mereka.

Pressure tersebut menjadi ketakutan bagi mayoritas generasi muda yang saat ini masih menempuh pendidikan atau baru memulai kariernya. Mereka sudah memulai berpikir, akan seperti apa saya di masa depan? Beban pikiran tersebut terus berkembang dari hari ke hari tiada hentinya. Mereka akan terus berusaha untuk bisa hidup enak dengan bekerja keras. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bekerja keras untuk meningkatkan derajat hidup. Toh, memang sudah hakikatnya manusia menginginkan yang terbaik bagi dirinya sendiri. Hanya saja, yang menjadi masalah adalah mereka terkadang abai dan tidak memikirkan kesehatan mereka sendiri, baik itu fisik maupun secara mental. Pikiran negatif pun sedikit demi sedikit menelusup beban pikiran mereka yang ingin menikmati hidup enak dengan standar masyarakat urban, yang nantinya akan mengganggu kegiatan produktif mereka sendiri.

Sering kali kita menemukan seseorang yang kesehatan mentalnya terganggu karena pressure dari masyarakat. Karena kerasnya dunia kerja dan standar gaya hidup yang tinggi tersebut, mereka mengalami penurunan motivasi, cemas, dan bahkan putus asa karena merasa dirinya tidak mampu untuk meraih apa yang diinginkan.

Overthinking, adalah salah satu kebiasaan yang bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan atau anxiety disorder atau lebih parahnya lagi depresi. Overthinking biasanya berkaitan dengan negative thought. Mayoritas orang pasti cemas dengan sesuatu yang buruk yang akan terjadi, atau yang sudah terjadi. Berdasarkan konsep LOA ini, pikiran negatif tersebut bisa menjadi sesuatu yang nyata. Apa yang individu pikirkan, baik atau buruk, akan menentukan apa saja yang individu tersebut terima di kemudian hari.

Baca Juga:

Lika-liku Sopir Jenazah: Sengaja “Mengantar” Hantu karena Gabut dan Sering Ditolak Jadi Talent Uji Nyali

Hidup Bahagia ala K.H. Anwar Zahid: Bahagia Bukan Hanya Milik Orang Kaya

Terlepas dari apakah LOA ini mistis atau saintis, saya rasa ini bisa mengubah persepsi dan kebiasaan kita sebagai generasi muda yang suka sekali overthinking dan rentan depresi. Jika kita percaya, kita mau tidak mau akan “terpaksa” untuk menghentikan kebiasaan overthinking kita tersebut yang dipenuhi oleh pikiran negatif. Kita tentunya takut pikiran negatif kita menjadi kenyataan, bukan? Karenanya, tidak salah bagi kita untuk percaya akan LOA ini, untuk menjadikan kehidupan kita lebih positif lagi ke depannya. Jika kita positif terus, kemungkinan kita menjadi lebih bahagia akan semakin besar. Karena bagi saya, hidup bahagia itu adalah life goals!

BACA JUGA Beberapa Tren Gaya Hidup Kekinian yang Patut Kita Tiru atau tulisan Fariza Rizky Ananda lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Januari 2020 oleh

Tags: BahagiaLaw of Attraction
Fariza Rizky Ananda

Fariza Rizky Ananda

ArtikelTerkait

Kiat Hidup Bahagia meski Bokek dan Nggak Bisa Yang-yangan mojok.co/terminal

Kiat Hidup Bahagia meski Bokek dan Nggak Bisa Yang-yangan

12 Maret 2021
Miskin, tapi Bahagia, Tetap Saja Miskin

Mantra Jogja Bilang Miskin asal Bahagia, tapi Tetap Saja Miskin

25 Januari 2023
Hidup Bahagia ala K.H. Anwar Zahid: Bahagia Bukan Hanya Milik Orang Kaya

Hidup Bahagia ala K.H. Anwar Zahid: Bahagia Bukan Hanya Milik Orang Kaya

31 Maret 2023
4 Orang yang Lebih Berhak Bahagia Selain Rachel Vennya terminal mojok

4 Orang yang Berhak Bahagia selain Rachel Vennya

17 Oktober 2021
Relevansi Berpikir Positif di Era ‘Positive Vibes Only’

Relevansi Berpikir Positif di Era ‘Positive Vibes Only’

15 Desember 2019
bahagia

Ngapain Nyenengin Orang Tapi Kita Nggak Bahagia?

7 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co magetan

Magetan dan Magelang: Dua Kota Beda Provinsi yang Sering Bikin Lidah Terpeleset dan Dompet Tersesat

9 Juni 2026
Pengalaman Orang Semarang Kaget Menemukan Sisi Lain Solo (Unsplash)

Pengalaman Orang Semarang yang Kaget Menemukan Sisi Lain Kota Solo

6 Juni 2026
Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

3 Juni 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

8 Juni 2026
4 Mitos Seputar Skripsi yang Bikin Mahasiswa Stres magang skripsi kuantitatif

Tips Cepat Lulus Skripsi Kuantitatif Tanpa Jadi Tumbal Statistik dari Dosen, Dijamin Waras!

4 Juni 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Para Pengendara Motor di Jogja Itu Terkenal dengan Santainya, kecuali Orang Bantul Selatan

9 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.