Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Betapa Tak Istimewa Kurban yang Sebatas Nyembelih Kambing

Aly Reza oleh Aly Reza
31 Juli 2020
A A
idul adha makna penjelasan lebaran haji lebaran kurban khotbah ceramah mojok.co

idul adha makna penjelasan lebaran haji lebaran kurban khotbah ceramah mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Malam terakhir sebelum Misbah menyerahkan kambing kurban darinya ke Kiai Asmuni, dengan sangat dramatis dia menyodori si kambing helai-helai rumput dengan mata berkaca-kaca. Pemandangan yang membuat Kang Salim jadi tergelitik.

“Kamu ini, loh, mbok ya nggak usah terlalu mellow gitu pisahan sama kambingmu,” goda Kang Salim. “Hla, kalau nggak rela ya nggak usah dikurbanin aja tho, Mis. Daripada dikurbanin tapi kamunya ganjel? Malah nggak ikhlas ibadah ujung-ujungnya.”

“Loh, loh, loh, enak aja dibatalin,” sahut Misbah setengah merengut. “Saya itu terharu bukan karena nggak rela mau ngurbanin kambing ini, Kang. Dari awal kan emang udah saya niati buat berkurban. Jadi, saya ikhlas lillahi taala.”

“Lantas, terharu karena apa, dong?”

“Saya itu terharu karena alhamdulillah aja gitu, Kang. Akhirnya setelah sekian lama nabung, eh bisa beli kambing buat kurban,” jawab Misbah kali ini dengan wajah semringah. “Akhirnya bisa netepi perintah Allah.”

Kang Salim manggut-manggut mendengar penuturan dari Misbah. Beberapa saat dia hanya diam sambil kebal-kebul mengisap kreteknya. Barulah pada isapan keempat, Kang Salim mulai bersuara.

“Kalau kurban hanya soal nabung, beli kambing atau sapi, terus diserahin buat disembelih, rasa-rasanya kok biasa-biasa saja, ya?”

“Loh, Kang?” potong Misbah nggak terima.

Baca Juga:

Menjadi Haji Mabrur di Madura Itu Susah, Harus Berani Menentang Kultur yang Mengatur

Umroh Gratis Malah Jadi Beban Gara-gara Tuntutan Sosial yang Mengharuskan Bawa Oleh-oleh!

“Sik tho, saya belum selesai.” Seperti biasa, Kang Salim menanggapinya dengan santai. “Ibadah syariat itu, Mis, kalau cuma dirasakan sebatas pada aspek luar dan bukan nilainya, maka rasa-rasanya akan biasa-biasa saja. Nggak istimewa sama sekali.”

“Ya katakanlah gini, Mis. Sekarang itu kalau cuma beli kambing, nabung setahun toh udah dapet. Kalau orang kaya ya H-1 Lebaran aja udah langsung bisa beli. Jadi kalau udah kebeli, kasarannya itu bisa bilang gini, ‘Oh cuma gini aja, tho, yang namanya berkurban? Enteng.’ Haji sekarang kasusnya juga gitu. Kalau urusannya cuma berangkat ke Arab, kayaknya ya bakal biasa-biasa saja jadinya kalau sebatas itu yang kita pahami. Mestinya juga berlaku untuk ibadah-ibadah syariat yang lain. Kalau cuma puasa sebulan, oh enteng saja. Kalau cuma jungkar-jungkir lima waktu, halah kecil.”

“Kalau begitu, apa berarti kurban saya nantinya bakal sia-sia?”

“Sia-sia, sih, nggak lah, Mis. Minimal dari segi fikih niatmu udah dihitung pahala. Hanya saja jadi kurang istimewa kalau nilai dari kurbanmu atau ibadahmu yang lain nggak kamu aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.”

“Dengan kata lain, kalau masih di ranah formalitas, kayak puasa cuma nahan laper, haji cuma berangkat ke Arab, atau kurban cuma nyembelih kambing, itu enteng-enteng saja. Adapun yang berat adalah, mempraktikkan nilai dalam ibadah tersebut sebagai laku hidup sehari-hari. Gitu ta, Kang?”

“Persis. Saya punya cerita, Mis.”

Mendengar kata “cerita”, Misbah langsung merapatkan duduknya agar lebih dekat dengan Kang Salim. Maklum, Misbah memang suka dan lebih gampang menangkap maksud dari suatu ilmu itu lewat cerita-cerita kayak gitu.

“Dulu itu, Mis, ada seorang bernama Syekh Jangkung, hendak berguru kepada Sunan Kudus. Sama Sunan Kudus, dia disuruh melafalkan kalimat syahadat sebagai syarat yang harus dipenuhi. Tapi yang dilakukan Syekh Jangkung ini malah manjat pohon kelapa terus menjatuhkan diri ke tanah.”

“Terus, Kang, apa coba hubungannya antara ngucapin syahadat sama jatuhin diri dari pohon?”

“Pas ditanya sama Sunan Kudus, ‘Kok malah itu yang kamu lakukan?’. Dia menjawab, ‘Kalau syaratnya cuma mengucapkan syahadat, alangkah gampangnya. Anak kecil pun bisa. Tapi syahadat itu adalah kesaksian bahwa hidup dan mati kita hanya milik Gusti Allah. Untuk itu saya nggak mau sebatas formalitas mengucapkannya saja. Saya mencoba berkomitmen atas kesaksian saya tersebut dengan menjatuhkan diri dari atas pohon. Sebagai bentuk penyerahan hidup dan mati saya kepada-Nya.”

“Lalu, apa yang bisa saya lakukan untuk berkomitmen dengan kurban saya, Kang? Biar nggak hanya formalitas nyembelih kambing aja gitu.”

Kang Salim tak langsung menjawab. Matanya menerawang jauh ke langit, seolah-olah sedang menunggu datangnya wangsit. Sesaat setelahnya, Kang Salim kembali menyulut kretek, sebelum menyambung obrolannya kembali.

“Saya kira, Gusti Allah udah sangat cetha wela-wela memberi isyarat kepada kita semua. Hanya kita ini terlalu dungu untuk menangkapnya,” suara Kang Salim terdengar agak gemetar.

“Mis, kenapa Gusti Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya sendiri? Anak yang bahkan kehadirannya udah dinanti-nanti sekian tahun. Anak yang sangat dicintainya. Itu berat banget, loh, Mis. Tapi Nabi Ibrahim tetep saja melakukannya.”

“Apakah itu maksudnya, sebagai komitmen dari kurban saya, saya harus jadi sosok yang ikhlas? Misalnya, kalau berbagi atau bersedekah dengan sesama, saya harus memberikannya dengan ikhlas, setulus hati. Dan adapun definisi ikhlas itu adalah sama seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim; memberikan apa yang justru malah sangat berharga dari saya. Seperti kata Allah juga dalam Q.S. Ali-Imran ayat 92: memberi ‘min ma tuhibbun’, dari yang kita sukai atau anggap berharga.”

“Betul, Mis. Dengan kata lain, kita harus bisa meng-Ibrahim-kan diri. Yang mampu menyembelih ego kecil dan kepentingan pribadinya atas Ismail hanya untuk menuruti apa perintah Allah. Opo wae yen iku Gusti Allah sing merintah, najan ndadikake aku rekasa lan keranta-ranta, mesthi bakal tak lakoni.”

“Yang dipandang Ibrahim ketika hendak menyembelih Nabi Ismail itu hanya Allah, Mis. mangkanya beliau ikhlas. Termasuk misalnya ada pengemis, kalau yang kamu lihat dari pengemis itu adalah Allah yang berfirman Q.S. Ali-Imran, jangankan cuma lima ratus rupiah, sepuluh ribu aja kamu kasih tanpa rasa getun di belakang. Dalam skala sosial lebih luas, komitmen tersebut bisa juga berupa sikap altruistik, memberi kemanfaatan dan suka membantu sesama tanpa memandang siapa atau apa agama mereka. Karena yang kita lihat dari mereka hanyalah Allah yang menyuruh kita untuk berbagi.”

“Sepenuhnya saya paham, Kang. Tapi bukan berarti kelak kalau saya punya istri cantik, terus sampeyan bisa nuntut saya agar ngerelain istri saya buat sampeyan, loh, Kang. Nggak usah bawa-bawa dalih, ‘Ngasihnya jangan lihat saya, Mis, tapi lihat lah Allah.’”

Keduanya tertawa sampai tubuh mereka terguncang-guncang.

*Diolah dari penjelasan Cak Nun

BACA JUGA Tak Bolehkah Saya Ikut Kurban Meski Hanya Mampu Kurban Ayam, Gus? dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2020 oleh

Tags: hajiidul adhakurbanlebaran kurban
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Elegi Sapi di Hari Raya Idul Adha MOJOK.CO

Elegi Sapi di Hari Raya Idul Adha

17 Juli 2020
Bubuk Kopi, Penghilang Bau Tak Sedap Setelah Menyembelih Hewan Kurban Terminal Mojok

Bubuk Kopi, Penghilang Bau Tak Sedap Setelah Menyembelih Hewan Kurban

10 Juli 2022
ibadah kurban

Ibadah Kurban dan Solidaritas Kemanusiaan

11 Agustus 2019
Kaum Anti Makan Daging Kambing Wajib Melakukan Hal Ini agar Idul Adha Tetap Merasa Gembira terminal mojok

Kaum Anti Makan Daging Kambing Wajib Melakukan Hal Ini agar Idul Adha Tetap Merasa Gembira

18 Juli 2021
Memahami Apa Itu Kuota Haji dan Kenapa Masa Tunggunya Begitu Lama kursi kelas bisnis

Jatah Kursi Kelas Bisnis untuk DPR, Bentuk Kegagalan Memahami Esensi Haji

15 Juni 2023
gelar haji

Asal Usul Gelar Haji dan Kebiasaan Penisbatannya

26 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Pahit (Unsplash)

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer

12 Maret 2026
Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Mempercepat Antrean di Psikiater

Mohon Maaf, Didikan VOC di Rumah Bukan Membentuk Mental Baja, tapi Menambah Antrean di Psikiater

14 Maret 2026
7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa (Unsplash)

7 Jajanan Indomaret Terburuk Sepanjang Masa, Jangan Dibeli daripada Kamu Kecewa dan Menderita

13 Maret 2026
7 Rekomendasi Drama China yang Bisa Ditonton Tanpa Perlu Mikir (Pexels) tiktok

5 Alur Cerita Drama China Pendek di TikTok yang Monoton, tapi Sering Bikin Jam Tidur Saya Berantakan

12 Maret 2026
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.