Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Betapa Sakralnya Akhiran Bunyi “o” dalam Dialek Pekalongan. Terminal Mulok #11

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
20 Maret 2021
A A
Betapa Sakralnya Akhiran Bunyi "o" dalam Dialek Pekalongan. Terminal Mulok #11 terminal mojok.co

Betapa Sakralnya Akhiran Bunyi "o" dalam Dialek Pekalongan. Terminal Mulok #11 terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Selepas membaca tulisan Mbak Utamy Ningsih berjudul “Kamus Bahasa Makassar Sehari-hari: Kenalan sama Partikel Mi, Ji, dan Ki,” saya, kok, jadi miris. Pasalnya, Mbak Utamy menunjukkan kalau bahasa Makassar itu tidak hanya dikenal orang Makassar, tapi juga orang lain. Bagaimana belio gamblang sekali menggambarkan orang luar Sulawesi yang mencoba mengakrabkan diri ketika bertemu orang Makassar dengan memakai bahasa Makassar. Contohnya dengan ditambahi partikel ji. Bagi saya, itu sudah cukup untuk bikin saya miris terhadap daerah saya sendiri: Pekalongan. Ketika saya ketemu orang luar, saya tidak mendapat pengalaman yang sama seperti Mbak Utamy. Orang-orang yang saya temui alih-alih mencoba mengakrabkan diri dengan menggunakan dialek Pekalongan, justru membombardir saya dengan bahasa yang sangat berbeda dari dialek Pekalongan.

Sampai di sini saya pun memaklumi, mungkin saja dialek Pekalongan begitu sukar untuk diucapkan oleh orang luar Pekalongan. Wong diucapkan saja sukar, apalagi dipahami. Salah satunya dalam dialek Pekalongan, ada penggunaan bunyi “o” di akhir kata.

Penggunaan bunyi “o” di akhir kata begitu sakral bagi masyarakat Pekalongan. Saya pikir, setiap orang asli Pekalongan tidak bisa tidak menambahi huruf vokal “o” dalam setiap dialog, terutama untuk menegaskan sesuatu hal (baca: ngotot). Itulah mengapa saya menyebutnya sakral, ya boleh jadi kedudukannya ibarat Tuhan.

Saking sakral dan begitu kuatnya menancap ke dalam diri setiap insan yang lahir di Pekalongan, akhiran bunyi “o” ini tak bisa ditiru orang daerah lain. Jangankan ditiru, ketika didengarkannya saja sudah seperti berbicara dengan makhluk asing. Bahkan bagi orang-orang asli daerah satu eks Karesidenan Pekalongan, misalnya orang Batang, Pemalang, Tegal, ataupun Brebes.

Imbuhan “o” di akhir kata dalam dialek Pekalongan juga memiliki fungsinya masing-masing. Ada yang berfungsi sebagai bahasa Pekalongan tulen. Yang artinya tanpa akhiran “o” kata tersebut bisa jadi sama sekali tidak bermakna.

Contohnya kata “kotomono”. Jujur, satu kata lengkap seperti itu saja saya susah memberikan maknanya, apalagi mungkin kalian yang baca. Tapi tak apa, saya akan coba jelaskan beberapa kata dalam dialek Pekalongan. Semoga kalian nggak puyeng bacanya, sebab saya sendiri juga sedikit pening ini nulisnya.

Oke, lanjut, kata “kotomono” jika tak diakhiri dengan huruf “o”, ia akan kehilangan makna. Orang Pekalongan sendiri juga tidak akan paham kata “kotomon”. Lain ceritanya dengan “kotomono” yang artinya kurang lebih “anggap saja”.

Contoh kalimatnya begini:

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

“Aku pak melu lomba badminton, kotomono iki sek latihan.”

Yang artinya:

“Aku ingin ikut lomba badminton, anggap saja ini sedang latihan.”

Sama halnya dengan kata “singoh-singoho”. Mungkin kalau akhiran kata tersebut tidak ada huruf vokal “o”, orang lain akan memaknai kata “singoh-singoh” sebagai bentuk jamak dari singa atau menunjukkan lebih dari satu singa, seperti kata “orang-orang”.

Kata “singoh-singoho” oleh masyarakat Pekalongan kurang lebih bermakna “bebas”, “terserah”, “yang mana saja”. Ini kalau dalam bahasa Jawa umum seringnya memakai “karepe”.

Contohnya begini:

Bapak: “Ke, Le, tak kei duet.”

Aku: “Nggo opo, Pak?”

Bapak: “Singoh-singoho.”

Artinya kurang lebih begini:

Bapak: “Ini, Nak, saya kasih uang.”

Aku: “Buat apa, Pak?”

Bapak: “Terserah.”

Imbuhan “o” bagi masyarakat Pekalongan sering dipakai pula untuk mempertanyakan sesuatu dengan tegas, dan memberikan penegasan pada satu pernyataan. Contohnya dialog berikut ini:

“Kowe rung adus’o?”

“Bebas’o”

Artinya:

“Kamu belum mandi, ya?”

“Bebas dong!”

Atau dalam contoh lain seperti ini:

“Kowe kok rung ndue pacar, sih?”

“Yo pak orak’o!!!”

Artinya:

“Kamu kok belum punya pacar?”

“Ya biarin, sih.”

Lantaran begitu sakralnya huruf “o” di akhir kata, maka sampai pada praktik-praktik yang bernuansa kapitalistik dan feodalisme, orang Pekalongan juga tak bisa terlepas dari pemakaian “o” di akhir kata.

Misalnya seperti:

“Kowe mbuk kerja’o sing bener men dadi wong sugih!”

Yang artinya:

“Kamu itu kerja yang bener supaya dari jadi orang kaya!”

Saya tidak tahu sejak kapan huruf “o” yang acap kali muncul di akhir kata ini menjadi bagian dari dialek Pekalongan. Kalau saya boleh mengira-ngira, mungkin saja cikal bakalnya dari masyarakat pesisir, atau bisa dikatakan Pekalongan bagian utara.

Kalau dirunut sejarah, perdagangan, kebudayaan, sampai bahasa Pekalongan, barangkali memang berasal dari daerah pesisir. Pasalnya, di daerah utara ini menjadi semacam titik awal para pelancong dari seluruh negeri datang ke Pekalongan melalui armada laut. Lantaran, Pekalongan konon memiliki pelabuhan terbesar di era Hindia-Belanda.

*Terminal Mulok adalah segmen khusus yang mengulas tentang bahasa dari berbagai daerah di Indonesia dan dibagikan dalam edisi khusus Bulan Bahasa 2021.

BACA JUGA Pekalongan Itu Nggak Cocok Dijadiin Kota Wisata, Pemerintah Jangan Ngeyel dan tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Maret 2021 oleh

Tags: Dialek Pekalongan. Terminal Mulok
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Upin Ipin, Serial Misterius yang Bikin Orang Lupa Diri (Wikimedia Commons)

Semakin Dewasa, Saya Sadar Bahwa Makan Sambil Nonton Upin Ipin Itu adalah Terapi Paling Manjur karena Bikin Kita Lupa Diri Terhadap Berbagai Masalah Hidup

17 April 2026
Nasi Uduk Itu Nostalgia, Nasi Padang Itu Strategi Bertahan Hidup (Unsplash)

Nasi Uduk Itu Nostalgia, Nasi Padang Itu Strategi Bertahan Hidup

19 April 2026
Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna Mojok.co

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

18 April 2026
Cerita Pahit 25 Tahun Hidup di Kabupaten Ngawi yang Aneh  Mojok.co

Ngawi Sangat Berpotensi Menjadi Kota Besar, Tinggal Pilih Jalan yang Tepat Saja

17 April 2026
Resign demi Jadi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

Resign demi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

18 April 2026
Selama Real Madrid Tidak Percaya dengan Strikernya, Lupakan Meraih Gelar UCL ke-16

Real Madrid Tanpa Trofi (Lagi), Saatnya Buang Vini

16 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja
  • Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti
  • 3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.