Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Belajar Radikalisme, Kedamaian, dan Kemanusiaan Lewat Hotel Mumbai

M. Farid Hermawan oleh M. Farid Hermawan
22 Juli 2019
A A
hotel mumbai

hotel mumbai

Share on FacebookShare on Twitter

Satu kata ketika  Arjun yang diperankan oleh Dev Patel berhasil sampai ke tempat keluarganya menggunakan motor. Air mata saya mengalir, walaupun sedikit, tetap ada bulir air mata yang menetes ketika menyaksikan film garapan Anthony Maras ini.

Jujur saya sangat sulit terbawa emosi ketika menonton sebuah film. Apapun filmnya mulai dari yang paling romantis hingga yang paling heroik. Bagi saya, film tetaplah film. Tidak ada yang lebih. Namun akhirnya saya harus pecah telur. Saya harus mengaku kalah dengan aktor dan aktris semacam Dev Patel si Slumdog Millionaire, Armie Hammer, Nazanin Bodiadi hingga Anupam Kher.

Film Hotel Mumbai hadir sebagai puncak dari rentetan dokumentasi tragedi serangan teroris Mumbai November 2008. Setelah sebelumnya ada beberapa film yang mencoba memvisualisasikan kembali tragedi tersebut lewat Terror in Mumbai (2009), Taj Mahal (2015), The Attacks of 26/11 (2013) hingga yang terakhir Mumbai Siege: 4 Days of Terror (2018). Dan tentu bagi saya yang terbaik adalah Hotel Mumbai.

Permainan emosi dan tempo aksi yang semakin meningkat hingga akhir film menjadi sebuah oase yang selalu saya cari-cari dari setiap film yang saya nikmati. Dan tentu standar film yang berlatar belakang teroris, aksi tembak-tembakan hingga bunuh-bunuhan selalu mengandalkan yang namanya adegan kematian, tangisan hingga derita-derita yang menyayat hati. Kadang pola-pola tersebut bisa hadir dengan hambar dan dipaksakan. Namun, film Hotel Mumbai mampu menyajikan drama, kekerasan dan kematian secara dramatis dan sistematis.

Karakter-karakter fiksi seperti Arjun, Vasili serta pasangan kaya Zahra dan David nyatanya tampil sebagai bentuk naratif yang sangat segar dalam film. Walau diakui Anthony Maras bahwa karakter-karakter tersebut adalah fiksi namun bukan berarti karakter tersebut dibuat sembarangan. Dari yang saya tahu, Karakter yang cukup menonjol yang diperankan Dev Patel adalah sebentuk karakter yang didasarkan dari peristiwa nyata yang diciptakan Maras menjadi sebuah tokoh bernama Arjun. Saya sebenarnya sempat cukup terkejut ketika mengetahu fakta yang sebenarnya bahwa karakter-karakter vital dalam film Hotel Mumbai adalah fiksi. Namun yang menariknya saya tidak peduli dengan hal tersebut, karena air mata saya telah berhasil ditarik keluar oleh karakter-karakter tersebut.

Hotel Mumbai hadir sebagai sebuah simbol pengingat betapa kejamnya radikalisme  serta sebagai pengingat betapa  penting arti kehidupan. Bahwa jualan-jualan agama lewat aksi radikalisme yang telah membunuh banyak manusia yang tak tahu apa salahnya adalah sebuah noda yang harus kita enyahkan dari muka bumi ini. Hotel Mumbai memberi sebentuk cermin kepada wajah kita sendiri. Memberi sebaskom air jernih yang menggambarkan kehidupan kita saat ini. Bahwa radikalisme berbalut agama serta iming-iming kekayaan adalah permainan yang sangat berbahaya.

Ketika pemuda-pemuda miskin di Timur Tengah yang tak tahu menahu tentang dirinya dan ingin kehidupan yang lebih baik menjadi ujung tombak teror yang mengerikan. Agama tidak bisa selalu disalahkan. Ada sisi-sisi unik dari film Hotel Mumbai yang mengekspos hal-hal yang sering kita lupakan dalam memandang sebuah aksi terorisme. Ada faktor kemiskinan, keluarga dan kepolosan berpikir anak-anak muda yang sangat mudah dipengaruhi menjadi pertimbangan yang menarik ketika saya menyaksikan Hotel Mumbai.

Film ini jugalah yang membuat saya berpikir keras, kenapa bisa-bisanya saya menitikkan air mata ketika Zahra ditodong senjata dan siap ditembak mati. Dan saya juga sempat geleng-geleng kepala ketika saya lagi-lagi menitikkan air mata saat Zahra dan anaknya akhirnya kembali bertemu dengan sang anak dengan selamat walau akhirnya tanpa suaminya, David yang tewas.

Baca Juga:

5 Bioskop Murah di Jakarta yang Harganya Masih di Bawah Rp35 Ribu

Hollywood Kulon Progo “Versi Sachet” Hollywood Amerika Serikat yang Sangat Merakyat

Fakta yang pada akhirnya telah saya ketahui bahwa Hotel Mumbai menghadirkan adegan yang penuh emosi dengan menggunakan karakter fiksi yang didasari dari kombinasi-kombinasi peristiwa para tokoh asli yang tidak ingin menguak luka lama adalah sebuah fakta yang menarik. Dan yang paling menarik adalah adanya satu karakter yang dihadirkan dengan latar belakang nyata. Chef Oberoi ditampilkan sebagai ketua chef yang bijaksana dan sangat tenang. Di tengah kondisi yang sangat kritis ketika dia dan para tamu harus terjebak dalam kepungan teroris selama tiga hari. Chef Oberoi yang ternyata adalah karakter nyata menjadi sebuah gambaran betapa dalam situasi genting manusia ternyata masih bisa berpikir jernih dan rasional.

Bagi saya Hotel Mumbai memang tidak se-hype film-film yang pakai embel-embel universe itu. Tapi walau tidak sebegitu heboh dibanding matinya seorang Iron Man. Hotel Mumbai telah membuat saya berhasil menitikkan air mata lewat kematian para tamu hotel yang dibantai oleh para teroris.

Hotel Mumbai menurut saya bukan ajang propaganda untuk menyudutkan agama manapun. Bagi saya film Hotel Mumbai lebih seperti sebuah wadah untuk kita berpikir kembali. Sebagai wadah untuk kita lebih membuka logika dan rasionalitas kita terhadap segala yang terjadi dalam hidup ini. Dan Hotel Mumbai telah memberi saya pelajaran yang cukup banyak tentang arti betapa ternyata  radikalisme bukanlah solusi bagi para pencari kemerdekaan absolut yang buta akan kemanusiaan, kedamaian yang ternyata harus disyukuri setiap bangsa yang telah merdeka hingga saat ini dan kemanusiaan yang nyatanya sebaiknya harus berjalan beriringan dengan yang namanya agama.

“We all are. But to get through this we must stick together.”

— Arjun

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: hollywoodhotel mumbaiNonton FIlmRadikalismeReview Filmterorisme
M. Farid Hermawan

M. Farid Hermawan

Saat ini aktif menangani proses rekrutmen harian serta seleksi kandidat.

ArtikelTerkait

setan

Film Ghost Writer: Meminta Bantuan Setan Merupakan Alternatif Untuk Menamatkan Naskah Novel yang Nggak Kelar-Kelar

18 Juni 2019
Review Elvis: Menyorot Sisi Kelam Sang King of Rock and Roll

Review Elvis: Menyorot Sisi Kelam Sang King of Rock and Roll

28 Juni 2022
dora

Review Film Dora and the Lost City of Gold dan Bukti Bahwa Dora Berzodiak Leo

23 Agustus 2019
Film 'The Devil All the Time', Agama dan Pergumulan Setan di Tubuh Manusia terminal mojok.co

Film ‘The Devil All the Time’, Agama dan Pergumulan Setan di Tubuh Manusia

11 Oktober 2020
film dubbing film hollywood film korea subtitle tidak suka film dubbing dubber profesional terminal mojok.co

3 Alasan untuk Tidak Menyukai Film Dubbing

28 Agustus 2020
Nonton Film di Bioskop XXI Premiere Nggak Lebih Eksklusif dan Nyaman dari IMAX

Nonton Film di Bioskop XXI Premiere Nggak Lebih Eksklusif dan Nyaman dari IMAX

15 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

Arsenal (Memang) Berhati Nyaman

20 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026
4 Kelebihan Kuliah di Samarinda yang Bikin Kuliah di Jogja Jadi Kelihatan Biasa Saja

Samarinda Tidak Ramah buat Mahasiswa yang Tidak Bisa Naik Motor karena Tidak Ada Transportasi Umum yang Bisa Diandalkan!

21 Mei 2026
Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan Mojok.co

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

19 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.