Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Beasiswa LPDP: Diskriminasi yang Dialami Awardee Dalam Negeri yang Nggak Pernah Diajak Debat di Twitter

Adi Sutakwa oleh Adi Sutakwa
2 Agustus 2022
A A
Beasiswa LPDP Diskriminasi yang Dialami Awardee Dalam Negeri (Unsplash.com)

Beasiswa LPDP Diskriminasi yang Dialami Awardee Dalam Negeri (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tentang beasiswa LPDP lagi-lagi trending di Twitter. Masih nggak jauh-jauh soal alumni yang nggak balik ke Indonesia. Lebih dramatis kini dengan skenario suami selesai studi, gantian istri yang lanjut studi, anak bisa sekolah gratis di luar negeri. Dan netizen dapat bahan gunjingan lagi. 

Saya sendiri alumni awardee beasiswa LPDP. Dan saya selalu mangkel setiap LPDP jadi bahan bakar pergunjingan jagat twitwor yang selalu itu-itu saja.

Bukan karena setiap trending pada akhirnya citra LPDP jadi makin buruk di mata warga maya Indonesia, tetapi justru disebabkan oleh pertanyaan retorik “Kenapa awardee yang biasa-biasa saja, studi lanjut di dalam negeri seperti saya dan ribuan lainnya tidak pernah masuk dalam tuntutan publik?”

Tuntut juga dong kami. Kami ini iri, Bos. Tagih janji kami untuk “mengabdi pada negeri”. Apa kami, para awardee dalam negeri, sebegitu tidak pentingnya? 

Padahal saya yakin jumlah kami ini ribuan dibanding satu atau dua awardee populer yang kuliah di Oxford, Harvard, atau MIT. Ke mana uang pajak yang dihamburkan untuk membiayai para awardee dalam negeri ini? Apa nggak penting jumlahnya bagi kalian para pemirsa dan netizen budiman?

Oke, sebentar, mari saya ceritakan in chronological order. 

Perdebatan menjemukan soal beasiswa LPDP

Jadi, pada seputaran akhir Februari 2022 ini, pendaftaran beasiswa LPDP kembali dibuka. Seperti biasa, pembahasan di bilik media sosial nggak jauh-jauh dari “pada ke mana awardee luar negeri yang di Indonesia”. Nah, biasanya, habis itu, melebar ke topik banyaknya talenta Indonesia yang punya expertise di luar negeri dan pulang ke Indonesia tanpa menjadi apa-apa karena tidak ada lembaga pemerintah yang cocok untuk kepakarannya.

Pembahasan menjadi lebih liar dan luas. Para netizen yang nirnalar terus menuntut bahwa mestinya alumni awardee beasiswa LPDP ya punya basic entrepreneurship. Pandangan yang lebih luas kemudian menjalar pada topik Ainun Najib yang tempo hari diminta pulang oleh Bapak Presiden, hingga Ricky Elson yang selalu dibawa-bawa sebagai contoh “nelangsanya talenta diaspora yang pulang ke Indonesia”.

Baca Juga:

Beasiswa LPDP Terkadang Memang Tak Tepat Sasaran, tapi BIB Justru Jauh lebih Mengecewakan

5 Syarat “Terselubung” Beasiswa LPDP yang Jarang Orang-orang Bahas

Sebagai mantan penerima beasiswa LPDP yang selalu diulang-ulang oleh warga dunia maya berasal dari uang pajak, saya terkadang merasa bahwa ini tidak adil. Dan ketidakadilan tidak boleh dibiarkan dong. 

Masyarakat kita kayaknya terlalu cemburuan, terlalu posesif, atau bahkan terlalu megalomania pada prestasi yang didapat putra sebangsanya, apalagi di bidang akademik. Wes pokoke ora mutu blas.

Dikira kuliah di luar negeri itu prestasi. Ngawur! 

Banyak kampus luar negeri yang kualitasnya kalah dibandingkan UGM, IPB, UI, dan ITB. Mbok ya mending nuntut kami-kami ini yang kuliah dalam negeri (DN), hitung-hitungannya nggak kalah dalam “menggunakan uang pajak” kok. Saya tahu biaya kuliah S2 di UGM kira-kira Rp12 sampai Rp15 juta per semester, tentu saja tergantung program studinya.

Biaya yang ditanggung pemerintah 

Begini analoginya. Kalau ada 1.000 awardee dalam negeri, artinya, ada sekitar Rp30 miliar per tahun uang LPDP yang kami gunakan. Itu baru biaya kuliah. Belum biaya buku kurang lebih Rp10 miliar per tahun, biaya hidup bulanannya bahkan bisa mencapai Rp40 miliar per tahun. Udah, genepin aja jadi Rp100 miliar, barangkali sebesar itulah biaya yang dikeluarkan dari “dana abadi” pendidikan untuk awardee LPDP DN. Masak kami nggak ditagih juga, sih? Kan nggak adil dong.

Tuntutlah kami, para penerima beasiswa LPDP, meski nggak pintar-pintar amat, kami paham bahwa Indonesia masih negara demokrasi. Yang menang kan yang banyak, bukan yang pinter. Makanya kalau dari yang banyak ini, mayoritas merupakan orang baik, warga negara yang serius meningkatkan kualitas dan taraf hidup masyarakat sekitarnya, kan ya akhirnya ngefek juga untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Justru dengan jumlah kami yang ribuan tetapi biasa-biasa saja inilah, punya peluang yang lebih besar untuk memajukan bangsa. Masa nggak belajar dari sejarah? Butuh kurang lebih 32 tahun Mbah Harto berkuasa sampai Eyang Habibie masuk ke jajaran penentu kebijakan negara, lho. Yakin nggak bosen dengerin Pak Presiden Indonesia nanya-nanya nama ikan dan bagi-bagi sepeda selama seperempat abad?

Biar pemimpin itu makin pinter

Indonesia punya sejarah yang “kejam dan kelam” untuk para individu dengan prestasi akademik yang moncer. Kalah kaya ketimbang lulusan jurusan sosial yang lebih meyakinkan dalam hal jual-menjual. Kalah kesempatan ketimbang anak para taipan yang tentu saja juga bisa kuliah di kampus-kampus terbaik Amerika dan Eropa.

Dan kalian para netizen yang paling sopan berharap Indonesia punya pemimpin negeri dengan prestasi akademik atau keterampilan teknik kelas dunia? Nonsense. Ingat, Ukraina yang sedang jadi magnet heroisme dunia saja, presidennya merupakan mantan orang media.

Jadi ya, jangan heran kalau nanti saat 100 tahun merdeka, presiden kita juga masih itu-itu saja. Yang paling sering muncul di media, yang paling banyak buzzernya. Bedanya, barangkali pada saat itu popularitasnya ganti genre, bukan lagi televisi atau sosial media, tetapi metaverse yang makin ngawang-awang wujudnya.

Penulis: Adi Sutakwa

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Pengalaman Jadi Emak-emak Penerima Beasiswa Monbukagakusho (MEXT) dari Pemerintah Jepang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 Agustus 2022 oleh

Tags: awardee LPDPbeasiswabeasiswa LPDPLPDPTwitter
Adi Sutakwa

Adi Sutakwa

Kelas pekerja dari Pemalang yang menghabiskan separuh hidupnya sebagai perantau di Solo, Jogja, Jakarta, dan Serang. Kritis pada isu pangan, industri, pendidikan, politik, sepakbola, seni, hingga animanga.

ArtikelTerkait

Beasiswa KIP Kuliah Bukan Tanda Mahasiswa Pecundang (Unsplash)

Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP Kuliah Bukan Pecundang, Mereka Sama Seperti Anak Lain yang Punya Pilihan Hidup

6 April 2024
maia estianty twit viral kritik pemerintah donasi kitabisa apd rumah sakit tes untuk masyarakat sosialita arisan tempey twitter mojok.co

Bunda Maia Estianty Jangan Ikut Memperkeruh Suasana ya, ya?

11 April 2020
Twitter, Tempat Orang Berlomba Menjadi Jahat jerome polin elon musk akun base twitter

Twitter, Tempat Orang Berlomba Menjadi Jahat

10 November 2022
julid

Julid Online: Maraknya Auto Base Twitter yang Mewadahi Julid Together

7 Oktober 2019
Bisnis Saya Lahir setelah Nekat Pakai Uang Beasiswa (Unsplash)

Nekat Pakai Uang Beasiswa untuk Membangun dan Membesarkan Bisnis Saya Bernama Nastaria

23 April 2025
twitter

Twitter adalah Rumah dari Media Sosial

22 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.