Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Barista yang Sombong dan Judes Mending Resign dan Fokus Kuliah Aja!

Riyanto oleh Riyanto
30 Oktober 2023
A A
Barista Coffee Shop yang Sombong dan Judes Mending Resign dan Fokus Kuliah Aja!

Barista yang Sombong dan Judes Mending Resign dan Fokus Kuliah Aja! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Barista yang sombong dan judes ke pelanggan coffee shop mendingan resign dan alih profesi jadi desk call pinjol. Atau mending stop jadi barista dan beresin tuh kuliah. Dah keteteran kan? Yok kelarin matkul yang masih C biar bisa skripsi!

Ada kan jenis barista yang kalo pelanggan lama pilih menu malah judes, sebel, dikode-kode biar cepet, dan tidak membantu memilih sama sekali. Padahal ada alasan kenapa si pelanggan lama milih menu. Bisa bingung karena kebanyakan menu. Bisa karena nyari yang dia mau tapi nggak nemu-nemu, atau sesimpel karena nggak tau mau pesen apa.

Harusnya tugas barista kan membantu mengarahkan pelanggan biar dapet menu yang paling pas kan. Bukan malah menganggap si pelanggan beban karena bikin lama proses pemesanan. Giliran si pelanggan tanya apa yang enak, minta rekomendasi, minta dipilihin, si barista malah jawab tergantung selera.

Lah, jawaban macam apa ini?

Konsep tergantung selera itu kan kalo si pelanggan dah tau rasa masing-masing menu. Gimana bisa tau mana yang sesuai selera kalo belum pernah nyobain semua?

Coffee Shop adalah industry hospitality

Setuju atau nggak, tapi coffee shop itu adalah industri hospitality. Bukan industri kuliner. Kalo kuliner, penjualnya judes mah bodo amat. Bahkan di industri kuliner ada anekdot kalo penjualnya makin judes, maka makanannya pasti makin enak. Dateng aja ke tempat gudeg yang terkenal enak. Penjualnya judes, kan?

Tapi hal ini nggak berlaku ke coffee shop. Baristanya judes, ya pelanggan nggak bakal balik lagi. Tempatnya enak, menunya enak, baristanya judes, nggak bakal betah yang dateng ke sana.

Barista itu wajib ramah. Nggak ada toleransi. Ujung tombak dari coffeeshop ya keramahtamahan dari barista. Itulah alasan kenapa barista ada kompetisi open service. Di kompetisi itu bakal diuji gimana barista melayani pelanggan dengan ramah sambil bikin kopi. Tujuannya bukan buat keren-kerenan. Bukan buat gaya-gayaan. Bukan buat gengsi-gengsian. Tujuannya ya agar yang ikut kompetisi, entah menang apa nggak, bisa seramah pas ikut kompetisi kalo balik kerja lagi.

Baca Juga:

Pengalaman Mencoba Coffee Gold Indomaret: Enak, Murah, tapi Bingung karena Kasir Indomaret Merangkap Baristanya

Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

Dulu salah satu konten reels yang saya buat sempat menggegerkan dunia perkopian, sampai-sampai saya dicap sebagai Rocky Gerung dunia kopi. Intinya saya membuat pertanyaan tentang juara kompetisi Barista Championship dan Brewers Championship gelar juaranya bisa dipertanggungjawabkan lewat apa. Banyak barista yang marah dengan pertanyaan yang konon menggiring opini kalo para juara gelarnya nggak bisa dipertanggungjawabkan.

Padahal jawaban dari pertanyaan itu sangat jelas, yakni gelar juara mereka dipertanggungjawabkan saat kembali bekerja. Sudah juara kompetisi open service, harusnya makin ramah ke pelanggan, dong? Bukan makin sombong karena sudah juara!

Barista itu bukan marketing

Di sisi lain, owner coffee shop juga kadang aneh. Merasa bahwa barista itu ujung tombak dari cofee shop, mendadak membebankan tugas promosi ke mereka. Diminta bikin konten, diminta nyebar brosur di pinggir jalan. Bahkan diminta membawa temen tongkrongan main ke coffee shop itu. Intinya barista juga diminta ngurusin marketing, dan itu adalah kesalahan besar.

Bukan tugas barista untuk mendatangkan pelanggan. Itu sudah ranah yang berbeda. Akan tetapi, tugas barista untuk memastikan pelanggan yang datang, akan kembali datang, dan terus datang di hari-hari berikutnya. Caranya bagaimana? Ya dengan keramahtamahannya!

Apa sih alasan pelanggan datang ke sebuah coffee shop? Selain karena jarak yang dekat, kopinya enak, wifinya kenceng, alasan lain adalah kedekatan dengan para baristanya. Barista itu kalo perlu harus hapal dengan para pelanggan. Nggak perlu sampai hafal nama. Cukup disapa dengan, “Woy, Mas!” atau, “Woy, Mbak!” setiap kali dateng lagi. Pasti si pelanggan akan merasa lebih senang kalau dikenali si barista.

Jangankan barista di coffee shop, kita kalo dateng ke angkringan, dan bapak angkringannya apal sama kita, pasti rasanya seneng, kan? Ya sesimpel itu bikin pelanggan merasa dekat. Apalagi kalo si barista sampai hafal menu pesenan si pelanggan. Itu bakal bikin si pelanggan makin betah dateng.

Saya kalau datang ke coffee shop, dan baristanya langsung bilang, “Yang biasanya, mas?” meski awalnya mau pesan menu lain, tapi pasti bakal pesen yang biasanya, untuk menghargai si barista karena bisa sampai sedalam itu mengenali pelanggan. 

Faktor yang membuat seseorang datang ke coffee shop

Keramahtamahan dan kedekatan si barista dengan pelanggan itu menurutku menjadikan alasan si pelanggan betah balik. Dulu awalnya saya mengira bahwa faktor utama sebuah coffee shop akan saya samperin adalah jaraknya yang dekat. Makin ke sini, ternyata nggak juga. Hal itu terbantahkan dengan saya yang lebih suka ngopi di Jogja Selatan, padahal saya tinggal di Jogja Utara. Ada apa di Jogja Selatan? Ada sebuah kedai kopi di kompleks pasar. Konsepnya yang unik, cerita penuh rintangan di balik berdirinya kedai kopi itu yang berbau politis dan seru dikulik, serta para tukang seduhnya yang ramah dan seru, semua itu menjadi faktor penting kenapa mau datang ke sana!

Celakanya, bahkan owner coffee shop juga nggak sadar mengenai betapa pentingnya hospitality dari para barista. Kalau tau ini adalah hal penting, pasti akan melakukan upaya agar hospitality para baristanya meningkat. Misal dengan mengadakan pelatihan rutin. Atau memberikan KPI untuk menghapal pelanggan sampai ke pesanan favoritnya. Atau meminta barista untuk ngajakin ngobrol pelanggan yang datang sendirian, atau semacamnya.

Jangan bilang nggak ada coffee shop yang melakukan hal-hal seperti itu. Saya bisa nulis ini karena tahu betul ada coffee shop yang menuntut baristanya punya hospitality yang luar biasa. Nggak mau saya sebut karena nanti dikira endorse! 

Oleh karena itulah, selain dari sisi barista, owner juga harus peduli. Bagi barista, kalau mereka melayani sesuka hati dengan arogansi, tapi nggak dapat sanksi, ya ngapain harus memperbaiki diri, kan? Owner coffee shop juga jangan cuma nyari barista good looking lah. Buat apa penampilan barista kayak super model kalo kelakuan kayak super villain?

Gaji barista dikit, tapi kok dituntut banyak?

Aku pernah mengangkat tema ini di konten reels, dan saking gegernya, justru menjadi ajang menyebut berbagai coffee shop yang pelayanannya buruk. Dari sekian banyak respons, yang paling bikin saya sebel adalah barisan barista yang nggak mau dituntut harus ramah karena gaji mereka kecil. Mereka mengeluh dengan gaji yang di bawah standar, tetapi banyak beban yang dipikul selama bekerja.

Jawabanku satu sih. Kalo keberatan dengan gaji yang kecil dan nggak mau ramah, yaudah nggak usah jadi barista!

Penulis: Riyanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Barista Jogja: Antara Seksi, Romantis, dan Upah Kelewat Rendah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2023 oleh

Tags: baristaCoffee Shopindustri hospitalityKedai KopiKopi
Riyanto

Riyanto

Juru ketik di beberapa media. Orang yang susah tidur.

ArtikelTerkait

4 Alasan Saya Lebih Memilih Ice Americano Buatan Minimarket ketimbang Racikan Barista Coffee Shop Mojok.co

4 Alasan Saya Lebih Memilih Ice Americano Buatan Minimarket ketimbang Racikan Barista Coffee Shop

4 Desember 2025
kopi mama

Mama, Kopi Memang Pahit

9 Juli 2019
3 Manfaat Kopi Hitam Bagi Kesehatan (Unsplash)

3 Manfaat Kopi Hitam Bagi Kesehatan yang Selama Ini Tidak Dipahami Banyak Orang

21 Desember 2023
Penikmat Kopi Daun Bawang Adalah Kaum Tersesat, Segeralah Bertobat! Mojok.co

Penikmat Kopi Daun Bawang Adalah Kaum Tersesat, Segeralah Bertobat!

12 Mei 2024
7 Dosa Coffee Shop yang Sebaiknya Dihentikan Terminal Mojok

7 Dosa Coffee Shop yang Sebaiknya Dihentikan

17 Juli 2022
Sobat Misqueen Nggak Perlu FOMO Ngopi di Harlan + Holden Coffee, Harganya Mahal Kopinya Biasa Aja

Sobat Misqueen Nggak Perlu FOMO Ngopi di Harlan + Holden Coffee. Harganya Mahal, Kopinya Biasa Aja

19 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026
Mal-Mal Jombang Kelewat Jadul Bikin Warlok Lebih Senang Ngemal di Mojokerto atau Kediri Mojok.co

Mal-Mal Jombang Kelewat Jadul Bikin Warlok Lebih Senang Ngemal di Mojokerto atau Kediri

19 Mei 2026
Kos Murah yang Diidamkan Berujung Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang Mojok.co

Rasa Syukur Tinggal di Kos Murah Berubah Jadi Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang

20 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri, alias Menyulitkan Diri Sendiri!

Mahasiswa Akuntansi yang Menghindari Bahasa Inggris Tak Ubahnya Menembak Kaki Sendiri

20 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.