Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Banyak Anak Banyak Rezeki Anggapan Kuno, Mending Buang Jauh-jauh

Nila Kartika Sari oleh Nila Kartika Sari
27 Januari 2021
A A
Stop Bilang Banyak Anak Banyak Rezeki, Anak Bukan Barang Dagangan Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Memiliki anak tentu merupakan harapan setiap pasangan dan doa yang pertama kali terucap dari para tamu undangan ketika menghadiri pesta pernikahan. Saya sebenarnya penasaran, kapan pertama kali ucapan semoga segera diberi momongan itu terlontar sebagai syarat ketika menyalami kedua mempelai. Padahal, setiap kita melihat plakat di suatu pesta pernikahan, yang tertulis jelas kedua mempelai meminta doa yang utama, yakni mohon doa restu. Bukan mohon doa segera punya anak, punya rumah, punya mobil, atau bahkan mohon keikhlasan kepada mantan.

Setiap pasangan yang menikah, seolah diwajibkan untuk segera memiliki anak sebagai simbol kesempurnaan rumah tangga. Lebih sempurna lagi ketika memiliki sepasang anak, laki-laki dan perempuan. Jika hanya memiliki anak laki-laki, maka bersiaplah mendengar dengungan yang keluar adalah kasihan ibunya, tidak ada yang bantu mengurusi rumah. Atau jika anaknya perempuan, maka sesumbar yang keluar adalah nanti harus siap repot karena punya utang menikahkan anak dan kemungkinan mengeluarkan biaya lebih banyak untuk keperluan resepsi, yang setelah itu ujung-ujungnya akan dibawa oleh suaminya.

Perilaku menakar rezeki yang dihubungkan dengan keberadaan jumlah anak dan jenis kelamin anak ini, rasanya membuat saya gemas dan ingin berteriak helaaaw… sejak kapan manusia bisa menciptakan anak, menentukan jenis kelamin anak, dan mengukur rezeki yang ketentuannya sudah diatur oleh Tuhan berdasarkan jumlah anak yang dilahirkan? Mengapa keadaan mendesak setiap pasangan untuk segera punya momongan, tetapi kadang lupa mendoakan mereka bahagia, mampu dan kuat mengarungi biduk rumah tangga?

Ketika tekanan meningkat, kadang saya merasa setiap usaha yang dilakukan untuk menghasilkan keturunan malah mengakibatkan emosi jadi tidak stabil, perasaan insecure, dan kelelahan yang berkepanjangan. Lalu, setiap pasangan dilanda perasaan cemas hingga menimbulkan keributan yang lambat laun menyebabkan tujuan menikah untuk menyempurnakan setengah agama, menjadi berubah haluan menyempurnakan harapan para netizen yang menggemaskan.

Memang sih, salah satu tujuan menikah adalah melestarikan keturunan anak cucu Adam agar keseimbangan alam tetap terjaga dan spesies Homo sapiens tidak punah. Namun tolong diresapi, dihayati, dan diamalkan bahwa itu hanyalah salah satu tujuan yang mulia dalam pernikahan, bukan sebagai satu-satunya tujuan pernikahan dan memaksakan persepsi bahwa banyak anak “pasti” banyak rezeki. Benar sesungguhnya jika setiap anak membawa rezekinya masing-masing, namun hal tersebut adalah potongan puzzle, yang apabila setiap pasangan belum dikaruniai anak atau hingga selamanya tidak “dititipi” anak di dunia, tetap memiliki rezeki “sama besarnya” dengan pasangan yang memiliki 13 anak sekalipun. Karena takaran “rezeki” itu pasti adil.

Hal lain yang menyakitkan bagi pasangan yang menikah, tekanan “harus segera” memiliki anak, “kapan” nambah anak, “kurang” anak laki atau perempuan, tidak jarang datang dari pihak terdekat, yaitu kerabat atau orang tua sekaligus mertua. Mereka mendambakan dan memberikan beban yang seringnya di luar nalar hanya untuk mendapatkan predikat tertentu, dengan berpesan ingin segera dipanggil nenek, kakek, tante, om, bude dan pakde.

Menjadi wajar lantaran stereotip dari masyarakat kita pun mendukung untuk selalu menanyakan hal pribadi. Bahkan ketika bertemu orang yang baru dikenal sekalipun di jalan, pertanyaan seperti anaknya berapa, sudah punya cucu atau belum, dan lain sebagainya bakal dilontarkan.

Saya sendiri jelas merupakan salah seorang yang mendapat banyak pertanyaan mengenai “Kapan punya anak lagi?”, “Anaknya sudah besar loh, waktunya punya adik”, “Masih belum lengkap kalau belum punya anak perempuan”, atau “Jangan punya anak kalau sudah umur 30 tahun ke atas, pasti berat.” Saya tentu sangat santai menanggapi kalimat-kalimat seperti itu, menjawab dengan ringan tanpa merasa terbebani, dan menganggap semua pertanyaan adalah bagian dari perhatian dan doa. Namun, tidak semua orang memiliki sifat cuek semacam saya, atau mampu menjawab tegas seperti “Jika yang melahirkan usia muda pun, ketika takdirnya meninggal ya sudah waktunya” atau “Melahirkan setua apa pun, jika dikehendaki sehat dan kuat, pasti akan dimampukan.”

Baca Juga:

4 Hal Menyebalkan yang Membuat Ibu-ibu Kapok Pergi ke Posyandu

Alasan Banyak Nama Anak Zaman Sekarang Semakin Rumit

Ada seorang teman saya yang bahkan merasa trauma jika bertemu dengan kerabat dan menghindari segala macam acara, lantaran merasa tidak sanggup menjawab pertanyaan “Sudah punya anak?”, atau apabila ada yang perhatian, mereka akan memberikan solusi pada teman saya ini mengenai obat, dokter, dan segala alternatif kiat-kiat agar segera diberi momongan.

Saya yakin hal tersebut tulus disampaikan dengan niat membantu. Namun, bukankah kita juga harus menyadari bahwa mereka pun tidak berhenti berusaha dan berdoa agar disegerakan mendapat “titipan”? Selama tidak diminta pendapat atau pertolongan, ada baiknya kita menjaga lisan dan mendoakan dalam hati tanpa menanyakan hal-hal sensitif, sehingga memberikan perasaan nyaman pada seseorang yang memang belum waktunya diberi anak. Secepat atau selambat apa pun, pasti semua akan sampai pada rezeki yang memang ditentukan oleh Tuhan tidak kurang atau lebih.

Sebagai sesama manusia, tugas kita tentu sangat mudah memahami bahwa apabila anak adalah bagian adalah rezeki, maka biarlah tangan Tuhan yang menentukan. Cukup bagi kita menjaga perasaan untuk tidak terlalu mencampuri urusan perkara anak, seperti menahan lisan kita untuk tidak menanyakan mencapai umur berapa seseorang meninggal dunia.

BACA JUGA Dari Pengalaman Saya, Ada yang Lebih Penting dari Menyekolahkan Anak di Sekolah Mahal atau tulisan Nila Kartika Sari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2021 oleh

Tags: Anakbanyak anak banyak rezekirezeki
Nila Kartika Sari

Nila Kartika Sari

Intuiting introvert yang pernah bercita-cita menjadi dokter jiwa dan suka mojok ngadem di perpustakaan.

ArtikelTerkait

baca buku orang tua anak minat baca mojok

Bertobatlah wahai Orang Tua yang Tidak Suka Baca Buku tapi Menuntut Anaknya Suka Baca

14 Oktober 2020
Jenis-jenis Orang Tua Saat Menghadapi Kenakalan Anaknya terminal mojok

Jenis Orang Tua Saat Menghadapi Kenakalan Anaknya

26 Mei 2021
Dear Bu Risma Mensos, Anak yang Menitipkan Orang Tua ke Panti Jompo Nggak Melulu Durhaka Mojok.co

Dear Bu Risma Mensos, Anak yang Menitipkan Orang Tua ke Panti Jompo Nggak Melulu Durhaka

1 Juni 2024
Pamekasan Madura Katanya Kabupaten Layak Anak, tapi Taman Bermainnya Nggak Ramah Anak karena Diisi Muda-mudi Mesum

Pamekasan Madura Katanya Kabupaten Layak Anak, tapi Taman Bermainnya Nggak Ramah Anak karena Diisi Muda-mudi Mesum

7 Februari 2024
Ilmu Parenting Hanya untuk Orang Kaya? Ngawur! anwar zahid

Parenting menurut K.H. Anwar Zahid: Menuntun, Bukan Menuntut

15 April 2023
gaji dua digit staf admin Dear Fresh Graduate, Gaji Pas-pasan Belum Tentu Rezeki Juga Pas-pasan

Dear Fresh Graduate, Gaji Pas-pasan Belum Tentu Rezeki Juga Pas-pasan

2 Desember 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang  Mojok.co

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang 

13 Maret 2026
Apa itu Selat Hormuz dan Kenapa Posisinya Strategis?

Apa itu Selat Hormuz dan Kenapa Posisinya Strategis?

9 Maret 2026
Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

9 Maret 2026
Bantu yang Bawah, tapi Jangan Ganggu yang Atas

Bantu yang Bawah, tapi Jangan Ganggu yang Atas

8 Maret 2026
Vespa Matic Dibenci Banyak Orang, Hanya Orang Bodoh yang Beli (Unsplash)

Vespa Matic Adalah Motor yang Paling Tidak Layak untuk Dibeli karena Overpriced, Boros, dan Paling Dibenci Tukang Servis Motor (Bagian 2)

11 Maret 2026
Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Pahit (Unsplash)

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer

12 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto
  • Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah
  • Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata
  • Perantau Minang Gabut Mudik Bikin Tanduk Kerbau dari Selimut KAI, Tak Peduli Jadi Pusat Perhatian karena Suka “Receh”
  • Rangkaian Penderitaan Naik Travel dari Jogja Menuju Surabaya: Disiksa Selama Perjalanan oleh Sopir Amatiran, Nyawa Penumpang Jadi Taruhannya. Sialan!

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.