Dari Pengalaman Saya, Ada yang Lebih Penting dari Menyekolahkan Anak di Sekolah Mahal

Uang tidak akan menyelesaikan urusan pendidikan anakmu, malah bisa menjerumuskan kalo ternyata salah milih lingkungan. Nggak semua sekolah mahal means sekolah bagus.

Featured

Iim Fahima Jachja

Anak perempuan saya membuat video untuk menjawab pertanyaan orang-orang tentang homeschooling. “Ngapain aja?”, “Ga punya temen dong?”, “Enak dong bisa malas-malasan?” Gitu pertanyaannya.

Dia jawab, “I have life, and you don’t have to know”.

Kami cuma bisa ketawa sama pertanyaan-pertanyaan itu karena setiap hari dia sangat sibuk melakukan banyak hal untuk mencapai apa yang dia inginkan—dan orang lain tetap menanyakan hal yang sama seakan-akan dia nggak punya banyak aktivitas. Dia tuh yaaa, kegiatannya lebih sibuk dari anak sekolah biasa. Makanya,dia bikin video ini 😂😂

Dalam seminggu, dia olahraga 8 kali: 6 wushu, 2 training sama personal trainer. Dia juga belajar musik, nulis lagu, baca buku, nulis cerita, belum lagi belajar akademis 🙂 dan itu dia lakukan setiap hari. Sabtu minggu pun nggak ada libur karena ada latihan wushu, les science dan matematika juga ngaji. Liburnya cuma kamis 😂

Saya mau cerita tentang alasan saya memilih homeschooling buat dia, sekalian nanggepin soal rame-rame investasi uang buat sekolah mahal anak. Bagi saya, ada yang lebih penting soal itu.

Apa yang saya tulis di sini, bukan berarti saya bilang homeschooling paling bener lho ya. Tergantung kebutuhan anaknya 🙂 dan harus ditekankan kalau homschooling itu PR besar buat orang tua juga, karena bukan hanya butuh uang lebih, tapi juga ilmu dan khadiran orang tua yang harus total. Tanpa tiga itu, nggak akan jalan.

Hal paling rumit, lebih rumit dari ngurus perusahaan dan mungkin, lebih rumit dari ngurus negara, adalah: Ngurus anak! Anak saya paling gede 12 tahun, SMP kelas 1. Homeschooling.

Sebelumnya, dia SD di kawasan kemang. Kelas 4 dia mulai bisa mengkritik kurikulum sekolah, metode guru mengajar dan betapa paginya sekolah di Indonesia harus mulai. Nggak make sense, katanya.

Kritiknya saat itu: “Kenapa banyak pelajaran hapalan? Aku ga suka!”, “Kenapa sekolah pagi banget? I need more sleep!”, “I don’t like sitting down and listening to teachers! Boring”, “Kenapa sekolah bikin aturan without asking if students agree or not? Why only talking 2 parents?”. Untuk nunjukin protesnya saat itu, di kelas 3 SD dia nulis surat ke kepala sekolah “how shcool should be” versinya dia.

Dia bilang, sekolah itu should be fun, masuknya siangan biar boboknya cukup, harus banyak diskusi dan kurangi omongan 1 arah dll. Make sense kan?

Tapi saat itu saya nggak terlalu dengerin, karena ibunya belum pinter 😝 Sampe sekarang belum pinter juga sik. Cuman ya ada progress lah 😝.

Anyways. Intinya dia menolak sistem sekolah yang ada. Padahal sekolahnya dia tuh sekolah modern, guru-gurunya yang juga open atas inputs. Teteuuup aja ga ketemu format yang dia suka.

Kelas 4, saya mulai konsultasi ke psikolog anak. Karena si anak nggak mau ndengerin gurunya ngomong. Maeeeen aja adanya. Paling bikin gemes, pas ulangan ngerjain seenaknya. Kertas digambarin ini itu. Soal nggak dijawab tuntas dll.

Baca Juga:  Orang Indonesia di Mata Orang Korea

Pas ditanya kok ulangan nggak dijawab tuntas kenapa? Dengan santai dia bilang gini lho, “I was busy mom.”, “Busy apaan? Kan lagi ulangan?” Tanya saya dan guru-guru. “Busy thinking of Liam Neeson.” Jawabnya. Ampun kan! Ulangan kok malah mikirin Liam Neeson 😂 Intinya. Dia mau menunjukkan pemberontakan atas sistem, dengan caranya.

Saya lalu datang ke psikolog anak. Oleh psikolog saya disarankan untuk mengubah strategi pendekatan saya. Karena anak sudah paham big picture, jadi ditarik ke small picture.

Misal: soal mengabaikan guru. Anak harus ditanya. Kalau kamu bicara dan nggak didengerin, apa perasaanmu? Kira-kira gitulah tips dari psikolog.

Saya terapkan dong. Saya tanya, “kalo kamu nggak mau dengerin guru, bayangkan kalo kamu bicara dan guru nggak mau dengerin kamu. Gimana perasaanmu?”

Dengan santai, anak kelas 4 SD itu jawab gini, “Kalo aku ngomong dan nggak didengerin, artinya omonganku nggak menarik. Aku harus koreksi dan cari cara supaya omonganku didenger.” DHUAR!!! Ibunya puyeng mau jawab apa 😂

Masa kelas 3-4-5 adalah masa saya sering ke sekolah, nangis-nangis di ruang guru karena bingung musti gimana sama si unyil satu ini. Dia bener-bener memberontak pada sistem.

Datang sekolah telat tiap hari, pe er nggak dikerjakan, nggak mau belajar, ulangan nggak pernah serius dll. Berbagai hukuman dari baris di lapangan sampai disuruh ngepel lapangan sudah dikasih, cueeeek aja anaknya. Adaaa aja alasan buat melihat hukuman sebagai something easy.

Hukuman baris? Enak ga masuk kelas. Ngepel? Enak maen aer. Nggak boleh masuk kelas? Enak bisa bolos. Dll.

Kelas 5, saya mulai main otoriter. Harus nilai 9-10. Nggak terima nilai 8. Kan udah mau UN kelas 6 nanti, saya nggak mau dia ketinggalan. Bener-bener saya paksa.

Bisa sih. Nilainya 9-10 semua karena basically si unyil ini anaknya cerdas cuman dia nggak mau blajar aja selama ini. Ada satu titik, nilainya 8. Saya marah. Saya bilang, nilaimu 8 lagi, ibuk ambil hapenya, nggak usah punya hape! Tanpa ekspresi, dia kasih hapenya ke saya. “Take this, mom. I am tired.”

JLEB. Saat itu saya ngeliat matanya yang sedih. Saya baru ngeh anakku stress 😢 Segera saya singkirkan hapenya dan saya peluk erat. “Kakak capek ya? Kakak stress?” Kata saya. “Iya, aku capek melakukan sesuatu yang aku nggak suka, mom. I just want to make you happy.” Kata dia. Ibunya nangis. Anaknya juga nangis. Kami nangis bareng sambil pelukan. 😢

“OK, sekarang gini kak, kita fokusnya diganti ya, yang penting kakak lulus aja ya? Nggak usah dipikirin harus sekolah di mana, yang penting ntar kelas 6 lulus, OK?” Kata saya sambil terus memeluknya erat.

Si Kakak mengangguk, masih lemes, tapi keliatan wajahnya lega.

Sejak saat itu, saya nggak ada tuntutan akademis sama sekali. Yang penting dia happy. Masuk sekolah telat mulu biarin. I follow her rhythm. Sambil tiap malam tahajud, nangis minta pentunjuk harus gimana mengurus si Kakak. Minta petunjuk sekolah yang terbaik, untuk dunia dan akhiratnya.

Baca Juga:  Mencoba Berdialog dengan Para Pengusung Khilafah

Pararel saya riset sekolah, dari yang kurikulum IB, Cambridge, Nasional, gabungan, dll. Ketemu sejumlah pakar pendidikan anak juga. Ikhtiar fisik lah. Spiritual dan Fisik, semua jalan. Tapi ikhtiar spiritual mendahului ikhitiar fisik.

Hingga suatu titik…

…Ada teman cerita soal home schooling. Singkat cerita, saya riset lagi. Banyak hal. Hasil riset saya share ke si Kakak, saya minta dia yang putuskan sekolah apa yang dia mau.

Si Kakak akhirnya pilih homeschooling. Biar bisa fokus ke minatnya, olahraga dan musik. She is now happy dengan pilihannya meski kadang-kadang bosen. Biasalah.

Si kakak suka wushu. Beberapa bulan lalu menang 3 gold di Singapore. Juga suka musik, dapet dari bapaknya. Most importantly, di rumah dia punya lawan diskusi yg sepadan, bapak ibunya.

si Kakak terbiasa lingkungan yang demokratis dan kritis. Nggak basa basi. Kami biasa diskusi tentang sex, narkoba, spiritualism, politik, dll dengan enteng di meja makan atau sebelum tidur. Kedalaman diskusi ini yang dia nggak dapatkan dengan mudah di sekolah biasa. Why?

1. Guru-guru belum tentu punya ilmunya.

2. Kultur Indonesia yang harus pakai sopan santun dalam diskusi, kaget dengan pertanyaan-pertanyaan kritis.

3. Kita nggak biasa terbuka dengan topik yang sensitif

4. Guru harus ngurus banyak anak, waktu dan tenaganya nggak cuma buat fokus ke anak saya aja.

Lalu apa kaitannya story saya dengan “ada investasi yang lebih penting sebelum bicara investasi uang?” yaitu investasi mindfulness orang tua. Orang tua yang tenang, nggak gelisah, paham apa yang harus dilakukan, paham kebutuhan anak. Ini investasi mahal dan terpenting!

Menjadi orang tua yang punya mindfulness yang baik, sepengetahuan saya, harus dimulai dengan pemahaman diri sendiri. Memahami diri sendiri ini, adalah journey yang panjang.

Kita nggak bisa mengarahkan anak saat our feet don’t stand firmly on the ground. Kita nggak bisa mengarahkan anak, saat jiwa kita sendiri guncang, berantakan, lelah, tidak tenang, tidak firm. Ini bagian terberat jadi orangtua. At least itulah yang saya pahami, sependek pengalaman saya jadi ibu 2 anak.

Buat yang sekarang lagi nabung uang buat sekolah anak, jangan lupa nabung kesehatan jiwa, kesehatan spiritual. Uang tidak akan menyelesaikan urusan pendidikan anakmu, malah bisa menjerumuskan kalo ternyata salah milih lingkungan. Nggak semua sekolah mahal means sekolah bagus.

Begicyuuuu.

BACA JUGA Berkaca dari Jepang tentang Bagaimana Pendidikan Karakter Dilakukan atau tulisan Iim Fahima Jachja lainnya. Follow Twitter Iim Fahima Jachja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
52

Komentar

Comments are closed.