Bagi Saya, Musik 'Indie' Paling Keras ya Efek Rumah Kaca lah – Terminal Mojok

Bagi Saya, Musik ‘Indie’ Paling Keras ya Efek Rumah Kaca lah

Artikel

Bisa jadi saat ini para penggemar dan penikmat lagu ‘indie’, khususnya para penikmat lagu .Feast merasa bahwa lagu-lagu macam Peradaban, Berita Kehilangan, Kami Belum Tentu dan lagu lainnya sebagai musik keras yang penuh dengan kritik sosial, bagi pemerintah atau tatanan sosial masyarakat. Boleh saja beranggapan demikian.

Tapi bagi saya grup musik yang pertama kali Saya dengar dan saya amini lirik-lirik lagunya, baik tentang kritik sosial atau soal kehidupan adalah Efek Rumah Kaca. Bagi saya, sebelum .Feast ada, Efek Rumah Kaca telah mengaung di udara dan menyebarkan lagunya ke jagat antero Indonesia. Wqwqwq, maaf agak sedikit berlebihan.

Saya mengenal Efek Rumah Kaca semenjak masuk kuliah, sekitar tahun 2015. Saat itu selera musik ya masih umum, hanya mengenal musik dari grup musik yang punya label besar yang kebanyakan bergenre pop melayu. Paling banter, saya mendengarkan musik-musik cadas luar, macam Avenged Sevenfold sampai System Of The Down. Barulah saat masuk kampus saya mengenal musik indie.

Dari dulu sebenarnya saya juga tahu, kalau indie bukan genre musik. Indie adalah sebutan independen, yang tidak bernaung kepada label besar. Tapi entah kenapa saat itu saya mengamini saja kalau indie itu adalah genre, hadehhh. Saat itu kalau tidak salah saya mendengar lagu Efek Rumah Kaca dari teman satu tingkat saya, namun beda jurusan. Saya masih sangat ingat, lagu Efek Rumah Kaca yang saya pertama dengar adalah Lagu Cinta Melulu yang sukses membuat saya ketagihan.

Pertama, karena lagu itu tidak cukup familiar di kuping tapi karena saya lumayan cukup suka musik genre rock jadilah saya dengarkan sampai habis. Kedua, lirik-lirik band ini kok tidak seperti grup musik pada umumnya. Isinya aneh, “lagu cinta melulu, kita memang benar-benar melayu?” gumam saya waktu itu. Jadilah saya tanyakan ke teman saya, itu grup musik apa? Dia jawab namanya Efek Rumah Kaca. Saya ingat, dan saya cari lain waktu.

Bermula dari lagu yang berjudul Lagu Cinta Melulu saya mulai penasaran dengan lagu lainnya. Saya mulai mendengar Di Udara, Bukan Lawan Jenis, Kenakalan Remaja di Era Informatika, Sebelah Mata, Desember dan dari album terbaru seperti Putih dan Pasar Bisa Diciptakan yang benar-benar bikin saya pusing. Bisa-bisanya ada grup musik sebagus ini, dan saya telat tahu. Kemana aja sih kamu, Alif.

Sebelum ada lagu Peradaban yang dikenal lirik-liriknya keras dan geram sampai kebas, Efek Rumah Kaca sudah membuat geram itu dengan cara seksama dalam tempo yang teramat baik. Efek Rumah Kaca yang sadar akan pengaruh musiknya cukup besar menjadikannya media untuk bersuara, baik kepada tatanan masyarakat, industri musik atau kepada penguasa. 

Seperti Lagu Cinta Melulu yang mendobrak kebiasaan grup musik kita, yang faktanya memang sangat mendayu-dayu dan penuh lirik-lirik cengeng. Sebuah lagu protes, yang menyatakan kita ini terlalu sendu dalam menikmati musik. Lalu ada lagu Kenakalan Remaja di Era Informatika yang sarat pesan moral, betapa banyak anak remaja utamanya di bawah umur mengekploitasi hal-hal seksual semata demi kesenangan, tanpa sadar akan resiko kehidupan saat birahi yang juara.

Tak hanya soal kritik semata, Efek Rumah Kaca juga membuat lagu yang penuh pesan akan kehidupan dan kematian. Contohnya lagi Putih dari album Sinestasia. Dari lirik pertama, kita sudah disodorkan dengan kalimat ‘kematian’ dan bagaimana saat kita menghadapinya, sungguh lagu ini membuat merinding. Saya mendengarkan lagu ini beberapa kali, dan tetap merinding saat mendengarkan. Tidak lebay, dan jujur adanya.

Dalam lagu itu, digambarkan bagaimana kematian datang dan jika kita diberikan kesadaran saat bisa melihat kematian sendiri. Allahuma, ide yang sangat bikin diri saya sendiri bisa muhasabah. Bayangkan, kematian dibayangkan dan dijadikan lirik-lirik kata yang menegur kita, apa rasanya dan apakah daya kita. Cukup sudah cukup, saya nggak kuat bayangin. Maaf kalau agak berlebihan.

Sampai saat ini saya masih mengamini bahwa memang Efek Rumah Kaca dengan lagu-lagu miliknya adalah sebuah keniscayaan, bahwa musik bukan hanya sekadar musik. Ia dapat menjadi angan, atau gambaran dalam pita suara soal ragam dan macam-macam hal yang tidak bisa kita bayangkan dalam imaji sendiri. Betapa kuat musik dan lirik jika ditempa sedemikian rupa.

Jadi, apa lagu Efek Rumah Kaca favorit kalian?

Sumber Gambar: Wikipedia

BACA JUGA Membayangkan Kehidupan dan Kematian dalam Lagu Putih-nya Efek Rumah Kaca dan tulisan Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Baca Juga:  Al-Quds day: Upaya Merawat Ingatan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
15


Komentar

Comments are closed.