Gudeg Jogja memang mewakili daerah di mana ia besar: sabar dan halus tutur katanya. Tapi, ternyata, kota ini mampu melahirkan makanan pedas yang bahkan sekarang menjadi kuliner Jogja yang khas, yaitu ayam geprek.
Bahkan pedasnya bukan pedas yang “sopan”. Ia bisa membuatmu bercucuran keringat, hidung meler, dan lidah jadi kebas seperti kena hukuman dari dosa masa lalu. Pedasnya nendang, nggak kayak kuliner khas Jogja, tergantung seberapa tinggi level kepedasan yang kamu mampu.
Baca juga 4 Rekomendasi Ayam Geprek Jogja dengan Rasa Sambal Paling “Nendang”
Menjadi khas karena ayam geprek menjadi pengalaman kolektif seperti gudeg Jogja
Ayam geprek bukan sekadar makanan. Ia pengalaman kolektif. Terutama bagi mahasiswa.
Hampir setiap orang yang pernah hidup di Jogja, entah untuk kuliah, merantau, atau sekadar numpang tumbuh dewasa, pasti punya kenangan dengan ayam geprek. Oleh sebab itu, ia tumbuh dan menjadi ingatan bersama akan Kota Pelajar.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang sering bikin orang gatal berdebat. Apakah aman menyebut ayam geprek sejajar dengan kuliner khas seperti gudeg Jogja?
Pertanyaan ini pasti melahirkan perdebatan. Banyak yang belum rela kalau dua kuliner ini sudah sejajar. Pasalnya, kalau memasak gudeg Jogja, kamu harus sangat sabar, prosesnya pelan, dan kuliner ini mengandung filosofi.
Gudeg Jogja adalah simbol. Ia tak hanya mengenyangkan perut, tapi juga membawa narasi sejarah, budaya, dan identitas. Maka, ia sudah menjadi tradisi. Sama seperti ayam geprek yang menjadi pengalaman kolektif.
Sementara ayam geprek? Ia lahir dari dapur sempit, wajan kecil, dan cobek yang tertempa entakan demi hentakan dari ulekan yang bukan seperti sapaan rasa sayang. Tak ada kisah budaya, tak ada ritual adat. Yang ada cuma kebutuhan: lapar, uang pas-pasan, dan waktu yang mepet antara kelas dan tugas. Maka, ia lebih dekat ke dunia mahasiswa alih-alih keluhuran budaya seperti gudeg Jogja.
Ayam geprek itu yang pragmatis
Belum lama ini, Noor Annisa Falachul Firdausi pernah menulis di Terminal Mojok pada 10 Januari 2026 tentang ayam geprek. Dia bilang kalau ayam geprek lebih layak menjadi oleh-oleh khas ketimbang gudeg Jogja.
Kalian mau memperdebatkan pendapat Noor Annisa? Kalau saya, sih, mending menikmati daripada berdebat.
Jogja hari ini bukan hanya kota tradisi, tapi juga kota transit. Ia juga kota kos-kosan, menjadi rumah mahasiswa dan perantau. Setiap tahun, ribuan orang datang dengan latar belakang berbeda, membawa kebiasaan, selera, dan cara hidup masing-masing. Jogja menampung semuanya, termasuk selera makan.
Ayam geprek lahir dari realitas itu. Ia murah, cepat, fleksibel, dan kita bisa menyesuaikan dengan selera. Mau pedas level satu sampai level neraka? Bisa. Pakai keju, saus, atau topping aneh-aneh? Silakan. Ia tidak sakral, tapi pragmatis.
Mempertimbangkan itu semua, kita nggak perlu memperdebatkan gudeg Jogja. Keduanya lahir dari konteks yang berbeda. Gudeg Jogja tumbuh dari masyarakat agraris, kelimpahan nangka, dan waktu yang tidak tergesa. Geprek tumbuh dari ritme kota modern yang selalu cepat, dari mahasiswa yang hidup dengan jadwal padat dan dompet ekonomis.
Baca juga Melihat Persaingan Ayam Geprek Bu Rum dan Ayam Geprek Bu Made di Sleman dari Berbagai Sisi
Keduanya menjadi simbol budaya
Banyak yang menganggap berlebihan ketika ada yang bilang geprek sebagai kuliner khas. Katanya, ia belum punya akar tradisi panjang.
Tapi kalau kita mau jujur, tidak semua yang “khas” harus tua. Tidak semua identitas harus berumur ratusan tahun. Ada identitas yang lahir dari kebiasaan, pengulangan, dan ingatan kolektif.
Bagi banyak orang, geprek sudah layak menyandang status kuliner khas. Ia tidak mengajarkan filosofi kesabaran seperti gudeg Jogja, tapi mengajarkan bertahan.
Dan bukankah itu juga nilai hidup?
Mungkin kita terlalu sering mengukur “khas” dengan ukuran masa lalu. Padahal, kebudayaan juga bergerak ke depan. Kalau suatu hari nanti, 50 tahun dari sekarang, orang mengenang masa mudanya di Jogja dengan menyebut ayam geprek, seperti kita hari ini menyebut gudeg, siapa yang berani bilang itu bukan bagian dari identitas?
Pada akhirnya, gudeg dan ayam geprek bukan soal mana yang lebih Jogja. Keduanya justru menunjukkan wajah kota yang sama. Yang satu penuh tradisi, yang lain penuh adaptasi.
Gudeg itu tradisi. Ayam geprek itu realitas. Dan Jogja, seperti biasa, punya ruang untuk keduanya.
Penulis: Supriyadi
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
