Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ava Korea Sudah Biasa Dikambing Hitamkan, Termasuk Soal Omnibus Law

Jasmine Nadiah Aurin oleh Jasmine Nadiah Aurin
7 Oktober 2020
A A
Ava Korea Sudah Biasa Dikambing Hitamkan, Termasuk Soal Omnibus Law terminal mojok.co

Ava Korea Sudah Biasa Dikambing Hitamkan, Termasuk Soal Omnibus Law terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak disahkannya Omnibus Law tanggal 5 Oktober kemarin, dunia persilatan maya kembali gonjang ganjing bahkan lebih heboh dari sebelum-sebelumnya. Bagaimana tidak, Omnibus Law ini mengandung banyak sekali poin-poin kontroversial yang kalau direnungi kembali, poin-poin tersebut lebih banyak mudaratnya bagi rakyat ketimbang maslahatnya. Iya, kemaslahatan hanya berlaku untuk pengusaha dan pemerintah termasuk 575 anggota DPR yang merupakan the real Impostors Among Us.

Belum lagi waktu pengesahan yang seharusnya dilakukan tanggal 8 Oktober, tiba-tiba dimajuin jadi tanggal 5 kemarin. Apakah kalian tidak curiga? Pastilah pemerintah buru-buru mengesahkan UU tersebut agar rakyatnya tidak ada yang demo mengingat situasi sedang pandemi begini. Cukup dilawan dengan kalimat: Patuhi protokol kesehatan.

Makanya, saya tergelitik ketika ada seseorang yang nge-tweet, “Kalau 575 orang anggota DPR RI naik pesawat, kemudian pesawatnya jatuh, berapa banyak yang selamat? Yaaa, 268.583.016 jiwa penduduk Indonesia yang selamat.” Saya sangat setuju dengan tweet tersebut.

Belum lagi banyak cacian dan hujatan yang dilayangkan kepada DPR seiring naiknya tagar #tolakomnibuslaw bahkan menjadi trending nomor wahid di dunia. Gile, kan? Kekuatan netizen +62 memang nggak perlu diragukan lagi. DPR juga capek kayaknya nge-report akun rakyatnya satu per satu.

Saya juga nggak heran, sih, kenapa dulu Soekarno dan Gus Dur sempat ingin membubarkan DPR. Pada zaman itu, alasannya produktivitas DPR dinilai buruk serta adanya rasa tidak puas dari pihak pemerintah dengan kinerja lembaga yang katanya mewakili aspirasi rakyat itu. Tunggu, rakyat yang mana, nih?

Sedikit bercerita tentang sejarah masa lalu, hitung-hitung pemanasan sebelum masuk ke inti. Tahun 1960 Soekarno ingin membubarkan DPR hasil Pemilu 1955 karena adanya anggota DPR yang ngotot menolak RAPBN yang diajukan oleh pemerintah, tapi habis itu Soekarno nyusun lagi daftar anggota DPR baru yang diberi nama DPR Gotong Royong. 

Selain itu, Gus Dur pernah mengeluarkan dekret pada tahun 2001, serupa dengan Dekret 1955 dan dikecam oleh beberapa pihak di antaranya Megawati Soekarnoputri dan Amien Rais. Amien Rais “menghasut” rakyat untuk memboikot isi dekret tersebut dan berujung pada penggulingan Gus Dur sebagai presiden. Penggantinya? Ya Bu Mega, lah. Wqwqwq.

Melihat fenomena ini, saya setuju DPR dibubarkan, kalau perlu sekarang juga. Lha wong rapat biasa aja sering bolos, nonton video dewasa, atau tidur dengan posisi perut mencuat dan mulut terbuka. Giliran rapat untuk menghancurkan rakyat langsung semangat nggak pakai mangkir. Mana ngumpul-ngumpul tanpa pakai masker pula ketika pengesahan. Jadi, jangan salahkan rakyat apabila masih ada yang bandel nongkrong-nongkrong tanpa jaga jarak. Eh.

Baca Juga:

Pengesahan RUU Kesehatan Bukan Salah DPR Saja, tapi Juga Salah Rakyat

Permenaker, Kenaikan Upah, dan Kebijakan yang Bikin Bingung

Fyi, tagar-tagar yang sedang viral di Twitter itu, nggak lepas dari peran kami para ava Korea. Jangankan naikin hashtag, disuruh streaming idol comeback saja sanggup dan bisa meraih jumlah viewers hingga jutaan dalam hitungan jam. Sesuatu yang viral di Twitter tidak terlepas dari peran ava Korea sebagai retweeters maupun likers. Akan tetapi, sebesar apa pun kekuatan kami dalam menguasai Twitter, kami tetaplah dihujat dan dijadikan kambing hitam.

Pertama, jika ava Korea berargumen, meskipun argumennya valid dan berdasarkan fakta, biasanya orang awam yang terlanjur benci banget sama hal-hal yang berbau Korea pasti akan menghujat ava-ava Korea ini. Argumen invalid lah, inilah, itulah.

Ava Korea juga dianggap sebagai orang yang nggak percaya diri memasang wajah sendiri karena dianggap jelek. Padahal ketika suatu fandom mengadakan Selca Day, beuh pada cetar semua itu mbak-mbaknya, Wajahnya bahkan lebih glowing daripada yang ngehujat.

Kedua, masih dalam masalah berargumen. Biasanya jika lawan debat (non Kpopers) kalah telak, si lawan tersebut akan menutup perdebatan dengan kalimat: “Dasar pecinta plastik joget!” Terus kenapa kalau kami suka plastik joget? Kesenangan kami tidak akan mengganggu hidup Anda, kan?

Ketiga, dituduh buzzer sama buzzer pemerintah. Maling teriak maling. Hellow, ava Korea biasanya jarang mengkritik soal pemerintah atau isu politik yang nggak begitu ‘wow’ lho. Namun, Omnibus Law ini benar-benar sudah menggegerkan satu negara. Kalau ava Korea sampai ikutan berisik artinya negara ini sedang tidak baik-baik saja. Naiknya tagar berbau penolakan UU Cipta Kerja atau Omnibus Law membuat para buzzer kepanasan dan menuduh bahwa tagar tersebut dibuat oleh buzzer yang oposisi dengan pemerintah.

Coba dong mikir kalian, Wahai para buzzer. Jumlah akun ava Korea yang begitu banyak ditambah akun-akun ava kocheng, wibu, dan lain-lain apakah mereka adalah buzzer? Apakah masuk akal seseorang atau suatu kelompok yang oposisi dengan pemerintah mampu membayar massa yang jumlahnya hampir seluruh penduduk Indonesia? Bukankah bos kalian yang dapat menyimpan uang sebanyak itu? Saya haqqul yaqin anggaran negara pastilah dipakai juga untuk membayar perut kalian, Wahai buzzer-buzzer maniez.

Nah, karena situasi perang online ini semakin memanas, akhirnya beberapa buzzer konon katanya menyamar sebagai ava Korea juga. Benar-benar kambing hangus, bukan kambing hitam atau gosong lagi. Mereka berusaha cerdas dengan berkamuflase, tetapi bodoh untuk melontarkan argumen. Padahal, sering kali argumennya juga nggak masuk akal. Pasalnya, yang penting bisa menyelamatkan pemerintah dari imej buruk dan men-cap orang-orang lurus a.k.a oposisi pemerintah dengan sebutan SJW.

Ngomong-ngomong, kami sudah biasa kok, difitnah, dicaci maki, bahkan dikambing hitamkan begini. Bagaimanapun juga, ava Korea memang selalu salah di mata netizen non-Kpopers.

BACA JUGA Mau Bersaing dengan K-Pop? Dukung Industri Kreatif, Bukan Bikin Wajib Militer dan tulisan Jasmine Nadiah Aurin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Oktober 2020 oleh

Tags: Ava Koreaomnibus law
Jasmine Nadiah Aurin

Jasmine Nadiah Aurin

Suka nulis yang iya-iya.

ArtikelTerkait

Solusi Untuk Mengakhiri Penolakan Omnibus Law yang Bisa Digunakan BuzzeRp

Solusi Untuk Mengakhiri Penolakan Omnibus Law yang Bisa Digunakan BuzzeRp

10 Maret 2020
Kenaikan Upah Bukan Kiamat: 3 Kekeliruan tentang Kenaikan Upah yang Harus Diluruskan permenaker

Permenaker, Kenaikan Upah, dan Kebijakan yang Bikin Bingung

25 November 2022
Suka Duka Saya Ketika Menjadi Fans DPR RI, Biasmu Siapa, Hyung? terminal mojok.co satir omnibus law UU ciptaker puan maharani Azis Syamsuddin

Surat Terbuka untuk Pak Azis Syamsuddin: Terima Kasih, Pak!

15 Oktober 2020
Bersama Ardhito Pramono Gagalkan Omnibus Law

Bersama Ardhito Pramono Gagalkan Omnibus Law

11 Maret 2020
mixtape untuk anggota dpr agar sahkan ruu pks Mixtape untuk para BuzzerRp Pendukung RUU Omnibus Law

Mixtape untuk para BuzzerRp Pendukung Omnibus Law

11 Maret 2020
puan maharani dpr Pak RT mojok

4 Alasan Puan Maharani Adalah Ketua DPR RI Terbaik Sepanjang Sejarah

7 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.