Arsenal Seperti Dipaksa Menjual Guendouzi, oleh Guendouzi Sendiri

Uncategorized

Avatar

Sudah lumrah jika sebuah klub besar punya identitas untuk dipertahankan. Sudah jamak terjadi pula, klub tersebut tidak akan berpikir dua kali menjual pemain yang dianggap tidak kompatibel dengan identitas. Arsenal, misalnya, seperti dipaksa untuk menjual Matteo Guendouzi. Ironisnya, si pemain sendiri yang memaksa klub untuk melakukannya.

Arsenal dibangun dengan dasar keharmonisan. Jika gentlemen yang hidup di dalamnya tidak menghargai betul identitas tersebut, masuk akal jika klub melakukan segala cara untuk mempertahankan identitas. Pemain, selalu datang dan pergi. Namun, hingga milenia ke depan, klub akan tetap ada.

Bukan preseden yang baik jika sebuah klub dicucuk hidungnya oleh satu pemain. Diapksa memaafkan segala tindakan yang tidak mencerminkan keharmonisan. Meskipun di atas lapangan, si pemain adalah bintangnya. Atau, seperti yang terjadi untuk kasus Guendouzi, Arsenal akan (dipaksa) menjual permata masa depan.

Boleh dikata, Arsenal cukup beruntung bisa mendapatkan tanda tangan Matteo Guendouzi. Pemain muda berusia 21 tahun itu sudah lebih dulu didekati oleh Tottenham Hotspur dan Manchester City, seperti yang diberitakan oleh skysports.com. Diburu lebih dari satu klub besar di Eropa, yang saya maksud tentu saja City dan Arsenal, sudah cukup menggambarkan potensi Guendouzi.

Matteo Guendouzi adalah generasi baru, sesuai dengan napas Arsenal yang juga baru. Setelah resmi melepas Santi Cazorla, manajemen The Gunners juga tidak memperpanjang kontrak Jack Wilshere. Kehilangan dua gelandang senior memang sudah ditutup oleh bergabungnya Torreira. Namun, bukankah akan semakin menyenangkan ketika ada satu pemain muda yang bisa mendobrak kenyamanan pemain senior?

Adaptasi yang cepat dengan perubahan sistem menandakan level kecerdasan yang tinggi. Banyak bermain sebagai gelandang bertahan, atau kamu bisa menyebutnya sebagai pemain #6, Guendouzi memberikan keseimbangan dan menjadi jembatan dari kiper kepada gelandang ketika build-up fase pertama.

Ketika bergerak ke tengah sebagai gelandang sentral, atau pemain #8, sangat cerdik mencari posisi yang enak untuk mempertahankan penguasaan bola. Olah bola untuk pemain berusia 21 tahun sangat meyakinkan. Teknik umpannya termasuk kelas satu untuk pemain yang perkembangannya masih belum bisa ditebak itu.

Baca Juga:  Hal-Hal Baik yang Harusnya Dapat Kita Petik dari Liga Inggris

Ranah “tidak bisa ditebak” itu yang kini merepotkan Arsenal. Jago di atas lapangan bukan penentu masa depan cerah seorang pesepak bola. Terkadang, atau justru sering terjadi, karier pemain hancur karena tidak profesional. Sikap dan sifatnya tidak berkembang semakin dewasa seiring usia.

Si pembangkang ini akan kesulitan beradaptasi di mana saja. Mungkin, kelak, Guendouzi akan bertemu seorang pelatih dan tim yang bisa mengerti dirinya. Namun, kemungkinan itu bersanding dengan kemungkinan dirinya dicampakkan di mana saja kariernya berlabuh. Oleh sebab itu, meski pahit, Arsenal sudah benar jika berencana menjualnya.

Potensi racun di tubuh Arsenal

Sebetulnya, secara pribadi, saya selalu yakin seorang manusia pasti bisa berubah. Namun, jika bicara konteks dunia profesional, keyakinan saya tidak bernilai. Kehidupan di dunia profesional tidak bisa menunggu seseorang menghabiskan banyak waktu hanya untuk sekadar menekan ego dan menjadi lebih dewasa.

Rekam jejak sifat negatif Guendouzi sudah terekam sejak masih membela FC Lorient. Bernard Casoni, mantan pelatih Guendouzi menjelaskan dengan begitu gamblang. Masalah si bocah bukan di atas lapangan, tetapi sikapnya. Menurut Casoni, sikap ini tidak baik untuk staf pelatih dan klub itu sendiri.

“Suatu kali, saya memainkannya di sebuah laga cup melawan Nice dan dia mendapatkan kartu kuning di awal pertandingan. Wasit memberitahu saya ketika jeda pertandingan bahwa dia sudah memperingatkan Guendouzi. Sekali lagi pelanggaran, kartu merah. Dan di babak kedua, tidak ada berubah,” jelas Casoni.

“Saya tidak punya pilihan lain selain menariknya keluar. Setelah saya menariknya keluar, dia tidak mau bersalaman dengan saya,” terang Casoni. Kini, hubungannya dengan si pemain tidak terlalu baik.

Casoni tidak bertahan lama bersam Lorient. Dia digantikan oleh Mickaël Landreau. Pergantian pelatih tidak berpengaruh kepada sikap Guendouzi. Antara Landreau dan Guendouzi terjadi perselisihan. Akibatnya, si pemain diasingkan selama 3 bulan dari tim.

“Dia sangat serius dengan sepak bola, latihannya juga tidak ada masalah, karakternya memang selalu ingin memang. Caranya cenderung baik, tapi kadang bisa sangat buruk. Dia terlalu banyak omong,” kenang Landreau.

Baca Juga:  Arsenal, Lupakan Ousmane Dembele, Attitude Itu Segalanya di Sepak Bola

“Tidak ada yang mempertanyakan talentanya. Dia bisa menjadi pemain top dan saya rasa dia akan sukses di luar negeri. Semuanya kembali ke dirinya sendiri untuk mengubah sikap buruknya,” tegas Landreau.

Namun, sayang, harapan Landreau belum akan terjadi dalam waktu dekat. Bersama Arsenal (ketika dilatih Unai Emery dan Mikel Arteta), Guendouzi berulah lagi. Edu Gaspar sempat mengingatkan Guendouzi untuk tidak mempermalukan diri sendiri juga tidak digubruis. Terakhir, nasihat David Luiz dianggap angin lalu.

Ketika sempat bermasalah dengan Sokratis di Dubai (tur pra-musim Arsenal), David Luiz mengingatkan Guendouzi untuk lebih profeisonal. Kini, terbukti, nasihat pemain senior Arsenal itu tidak pernah didengar. Lantaran ego yang begitu tinggi, Guendouzi bahkan tidak mau meminta maaf setelah ngamuk pasca-pertandingan melawan Brighton.

Kalau sudah begitu, keputusan Arsenal untuk menjualnya jadi semakin kuat. Toh di luar sana, masih banyak pemain berusia muda dengan sikap yang lebih baik. Inilah salah satu bukti sebuah kalimat bijak bahwa di atas langit masih ada langit. Guendouzi harus sadar di luar sana banyak pemain sebagus dirinya dengan sikap yang lebih terpuji.

Sebagai fans, saya berharap Guendouzi sadar kalau dirinya merugikan Arsenal. Segera mengubah sikap adalah syarat utama menjadi pemain Arsenal. Namun, jika sikap buruknya tidak juga berubah, move on, masa depan klub tidak boleh didikte oleh satu pemain dengan sikap buruk.

Sumber gambar: Wikimedia Commons.

BACA JUGA 8 Menit 46 Detik George Floyd Meregang Nyawa Adalah Sebuah Pengkhianatan dan tulisan Yamadipati Seno lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
10


Komentar

Comments are closed.