Arsenal, Lupakan Ousmane Dembele, Attitude Itu Segalanya di Sepak Bola

Artikel

Avatar

Terlepas dari keprihatinan ekonomi karena pandemi corona, penurunan harga Ousmane Dembele memang terbilang luar biasa. Sangat jarang terjadi, harga pasar pemain anjlok hingga 50 persen lebih. Meskipun sedang “diskon”, saya berharap Arsenal tidak mempertimbangkan pemain Barcelona itu untuk dibeli.

Januari 2020, harga Dembele ada di sekitar 70 hingga 80 juta paun. Meskipun cedera datang silih berganti, dunia masih ingat kalau pemain Prancis itu adalah salah satu pemuda potensial. Jika menemukan “lingkungan” yang tepat, tidak ada yang meragukan potensi dan kualitas Dembele, misalnya di masa-masa awal bersama Borussia Dortmund.

Akhir Mei 2020, harga pasar Dembele jatuh ke “hanya” 37 juta paun. Bahkan saya rasa, ketika Barcelona harus mengumpulkan uang sekaligus membebaskan jatah gaji, harga pasar Dembele masih bisa merosot lagi. Mungkin di sekitar 30 juta paun. Dan, terlepas dari sosok Dembele, anjloknya harga pasar ini memang menyedihkan.

Tapi, mau dibilang apa, penurunan harga ini memang salah Dembele sendiri….

Sikap negatif yang perlu dijauhi Arsenal

Semuanya kembali ke soal sikap, well, biar keren kita sebut attitude. Saya masih ingat ketika Barcelona mulai menunjukkan ketertarikan kepada Dembele. Dortmund sudah berusaha menahan si pemain. Dortmund memang bukan klub yang akan menahan pemain sekuat tenaga. Namun, mereka masih punya project di mana Dembele penting untuk dilibatkan.

Dembele tahu bahwa dirinya bisa berdiri di panggung yang lebih besar. Mulai saat itu, dia menunjukkan sikap kekanan-kanakan, jauh dari sikap profesional. Bolos dan terlambat latihan. Tidak bermain maksimal di atas lapangan. Hingga tidak disiplin menjaga kebugaran.

Sikap yang terakhir ini ternyata berdampak panjang. Kegagalan Dembele menjaga kebugaran diri sendiri membuatnya menjadi rentan cedera. Tidur larut malam, mengonsumsi makanan tidak sehat, terlalu banyak main game, dan pengaruh orang-orang di sekitarnya yang terbukti sangat negatif. Toxic.

Baca Juga:  Plus Minus Dalam Menggunakan Sistem Pre-order Saat Berwirausaha

Sikap-sikap seperti ini yang perlu ditampik oleh Arsenal. Bakat memang mahal harganya. Namun pada faktanya, attitude jauh lebih mahal, bahkan priceless. Buat Arsenal, kita semua tahu kalau bakat tidak menentukan karier pemain. Kita bisa melihatnya di sosok Ainsley Maitland-Niles. Kurang berbakat apa coba si pemain. Tapi kita tahu bagaimana situasinya saat ini.

“Ability is what you’re capable of doing. Motivation determines what you do. Attitude determines how well you do it,” kata Lou Holtz, seorang pelatih legendaris di dunia American football. Bakat terlihat dari caramu bermain. Motivasi menentukan apa yang terlihat di lapangan. Sikap, menentukan seberapa baik kamu menggunakan bakat.

Punya attitude yang benar bakal membantu seorang atlet tetap fokus di kariernya setelah rentetan kesalahan. Tanpa attitude, kepercayaan diri pemain tidak akan stabil. Ilmu psikologi sepak bola sudah menunjukkan kalau attitude yang positif akan sangat menentukan performa pemain di atas lapangan.

Arsenal seharusnya sangat tahu dengan fakta ini. Kita bisa melihatnya dari sosok-sosok legenda; Martin Keown dan Tony Adams.

Kita tahu kalau Tony Adams sempat punya masalah serius dengan kegemarannya mengonsumsi alkohol. Ketika datang ke Arsenal, Arsene Wenger menuntut komitmen dari Adams. Bebas dari adiksi atau jangan pernah berharap bermain lagi untuk Arsenal. Konfrontasi terjadi karena menyesap bir sudah semacam budaya untuk English man.

Namun, pada akhirnya Adams sadar kalau kariernya mau panjang, adiksi alkohol harus dihilangkan. Kita tahu sejarahnya kemudian. Mister Arsenal, menunjukkan attitude terbaik dari seorang kapten. Komitmen, determinasi, kerja keras, dan pengorbanan. Fans Arsenal tahu sekali bagaimana akhir cerita Tony Adams.

Maka ketika Ousmane Dembele dihubungkan dengan Arsenal, saya justru berdoa tidak terjadi. Sayang sekali jika skuat dengan landasan VCC, kemenangan diawali oleh keharmonisan, berpotensi dirisak oleh kehadiran Dembele. Maaf kalau saya terdengar kejam. Namun pada akhirnya, klub adalah yang utama, bukan pemain.

Baca Juga:  Manchester United dalam Bahaya, FIFA Resmi Ambil Alih VAR karena Inkonsistensi

BACA JUGA Pernikahan Perak Inul Daratista dan Adam Suseno, Ketika Cowok Jadi Diri Sendiri di depan Pasangan dan tulisan Yamadipati Seno lainnya. Follow Twitter Yamadipati Seno.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.