Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Apakah Kampanye Body Positivity Harus Dilakukan dengan Busana yang Minim?

M. Farid Hermawan oleh M. Farid Hermawan
6 Maret 2020
A A
Apakah Kampanye Body Positivity Harus Dilakukan dengan Busana yang Minim?
Share on FacebookShare on Twitter

Beranda Twitter saya beberapa hari ini dipenuhi dengan cuitan-cuitan yang menjelaskan betapa kerennya dan dahsyatnya kampanye body positivity yang dilakukan seorang Tara Basro. Foto Tara Basro memang bikin geger sekaligus bikin banyak yang bersimpati kepadanya. Saya pun mencoba mencari tahu, Tara Basro lagi bagiin foto apa sih sampai bikin Kominfo ikutan nimbrung. Setelah saya cek, foto Tara Basro yang bikin heboh itu sebenarnya foto hitam putih seorang Tara Basro dengan hanya menggunakan bra dan celana dalam. Bagi saya itu foto yang bisa dibilang tidak bikin horny atau semacamnya seperti yang diteriakkan oleh Kominfo lewat UU ITE-nya. Apalagi ketika membaca caption di bawah foto Tara Basro yang heboh itu. Intinya Tara Basro lewat fotonya sedang mengajak semua orang untuk mencintai tubuh mereka masing-masing.

Apa yang dilakukan Tara Basro sejauh yang saya pikir sih baik-baik saja. Saya yakin niatan dia membagi foto yang pada awalnya lebih ekstrem dengan pose setengah bugil yang akhirnya ia revisi dengan foto hanya menggunakan bra dan celana dalam adalah niatan bukan dengan maksud menyebarkan virus pornografi ke masyarakat. Saya juga yakin, Tara Basro tahu konsekuensinya ketika ia dengan berani melempar foto yang mungkin bagi orang-orang Indonesia yang notabene bukan orang barat, melihat foto setengah telanjang bukanlah hal yang lumrah.

Cuma yang menjadi pertanyaan saya, apakah gerakan kampanye body positivity itu harus banget dilakukan dengan pakaian yang minim bahkan bisa dikatakan hampir mau telanjang?

Social movement semacam kampanye body positivity ini menurut saya fine-fine saja dilakukan oleh siapa pun. Apalagi ketika menengok isi gerakannya yang dengan lantang menyuarakan untuk lebih mencintai tubuh apa adanya tanpa melihat warna kulit, gemuk atau kurus, hingga jelek atau cantik. Ya ini gerakan yang sangat positif. Tapi dengan betapa positifnya gerakan ini untuk kita semua. Lantas apakah orang-orang Indonesia tidak punya cara yang lebih jitu guna mengakali rongrongan Kominfo? Apakah gerakan kampanye body positivity di Indonesia harus template banget dengan kampanye ala barat yang di sana mereka memang biasa ngelihat orang pakai bikini dan bra?

Menelan mentah-mentah gaya dunia barat dalam mengkampanyekan body positivity bukanlah hal bijaksana khususnya di Indonesia. Apa salahnya mengakulturasikan kampanye body positivity ala barat dengan ala Indonesia. Ambil positifnya lalu sesuaikan gayanya. Kadang kita sering kali mendewakan sesuatu yang asing lalu melupakan gaya lokal yang sebenarnya bisa lebih kena di hati. Bisa saja kita mengkampanyekan gerakan body positivity lewat aksi-aksi kreatif semacam lewat video inspiratif, lewat gerakan yang dibangun melalui media sosial, lewat komik, film, buku, melalui wayang hingga lewat berbagai hal yang tidak mengharuskan lepas baju dan celana.

Ketika beragamnya respons terhadap apa yang dilakukan Tara Basro lewat foto yang bikin ketar-ketir Kominfo. Saya melihat gerakan body positivity alangkah lebih baik jika didengungkan menggunakan gaya yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, bukan dengan kondisi yang sesuai dengan masyarakat barat. Saya yakin di luar sana masih banyak mereka yang mengkampanyekan body positivity tanpa harus lepas baju dan hanya meninggalkan celana dalam dan bra.

Gerakan body positivity memang bukanlah gerakan baru. Gerakan ini sudah ada benihnya sejak tahun 1850-an. Dan terbukti, dengan masih didengungkannya kampanye ini hingga sekarang, berarti masih ada saja populasi manusia yang suka mendiskriminasi seseorang karena bentuk tubuhnya. Kita memang memerlukan orang-orang yang berani bersuara lantang terkait gerakan body positivity ini. Namun sekali lagi, kita seharusnya juga bisa mengemas gerakan ini ala Indonesia yang di mana kita tidak perlu harus memamerkan lekukan tubuh, bokong, dan dada ke semua orang lalu berteriak cintai tubuhmu.

Kampanye body positivity nyatanya sangat bisa dikemas dengan gaya ala Indonesia. Ketika kampanye ini tidak ditampilkan dengan pamer bikini dan bra tapi dengan gaya yang lebih sopan tapi dengan bobot yang serupa, mengapa tidak? Saya yakin di Indonesia sudah sangat banyak kampanye-kampanye body positivity yang tidak melulu memerkan ketelanjangan. Saya yakin para pegiat gerakan body positivity di Indonesia sudah sangat cerdas mengemas gerakan mereka agar bisa lebih mengena dan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia tanpa harus melepas baju dan celana.

Baca Juga:

Sungguh Memalukan, Operator Warnet 3 Ribu Sejam Ternyata Lebih Jago ketimbang PDN Kominfo yang Anggarannya 700 Miliar!

Kominfo dan Logika Permainan: Jangan Bodoh Warga Indonesia, Mari Kita Judi!

Saya sangat mendukung gerakan body positivity yang dilakukan oleh siapapun. Hanya saja, gaya kampanye yang memamerkan ketelanjangan khususnya di Indonesia alangkah baiknya lebih dipertimbangkan lagi. Buatlah kampanye body positivity yang lebih menyatu dengan kondisi psikologis masyarakat Indonesia.

Memaksakan idealisme yang sangat jauh berbeda dengan akar rumput pola pikir masyarakat Indonesia memang sulit. Akan tetapi, mengemas kampanye ini jadi lebih mudah diterima masyarakat Indonesia bukanlah hal yang mustahil. Tidak dengan ketelanjangan, tapi dengan kekreatifan tentu akan sangat relevan. Karena kadang niatan awal ingin mengkampanyekan body positivity lewat sebuah foto yang hampir bugil bukannya bikin pikiran positif tapi justru bisa bikin otak beberapa oknum negatif. Ya, Indonesia nyatanya bukanlah Amerika.

BACA JUGA Pesan yang Gagal Ditangkap Kemenkominfo dari Unggahan Foto Tara Basro atau tulisan M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2020 oleh

Tags: Body Positivitykominfoself loveTara Basro
M. Farid Hermawan

M. Farid Hermawan

Saat ini aktif menangani proses rekrutmen harian serta seleksi kandidat.

ArtikelTerkait

Mari Merayakan Valentine dengan Memberi Hadiah pada Diri Sendiri

Mari Merayakan Valentine dengan Memberi Hadiah pada Diri Sendiri

14 Februari 2020
Perempuan dengan Badan Kurus juga Jadi Korban Julid dan Cibiran Orang terminal mojok.co

Perempuan dengan Badan Kurus juga Jadi Korban Julid dan Cibiran Orang

17 Februari 2021
Jujur Pada Perasaan Diri Sendiri

Selamat Hari Kesehatan Jiwa, Mari Berani Jujur Pada Perasaan Sendiri!

10 Oktober 2019
Cara Menilai Diri Sendiri Rupawan atau Jelek terminal mojok

Cara Menilai Diri Sendiri Rupawan atau Jelek Berdasarkan Tren Perkembangan Zaman

17 Maret 2021
Membaca Kanal Hoaks di Web Kominfo Itu Hiburan, Lho! terminal mojok.co

Membaca Kanal Hoaks di Web Kominfo Itu Hiburan, Lho!

5 Oktober 2020
Kominfo dan Logika Permainan Jangan Bodoh Warga Indonesia, Mari Kita Judi! (Unsplash.com)

Kominfo dan Logika Permainan: Jangan Bodoh Warga Indonesia, Mari Kita Judi!

1 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Keistimewaan Jadi Driver Ojol yang Saya Yakin Nggak Dirasakan Pekerja Lain Mojok.co

4 Keistimewaan Jadi Driver Ojol yang Saya Yakin Nggak Dirasakan Pekerja Lain

27 Januari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
Kos LV di Jogja Isinya Maksiat, tapi Tetap Laku Diburu Mahasiswa (Unsplash) kos campur

Pindah dari Kos LV ke Kos Campur Ternyata Keputusan Buruk, Bukannya Tenang dari Desahan, Malah Tambah Sengsara

29 Januari 2026
8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Mengecewakan Pembeli (Danangtrihartanto - Wikimedia Commons)

8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Sering Disepelekan Penjual dan Mengecewakan Pembeli

30 Januari 2026
Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.