Revina VT dan Pendapat Influencer yang Sebaiknya Kita Abaikan – Terminal Mojok

Revina VT dan Pendapat Influencer yang Sebaiknya Kita Abaikan

Artikel

Seorang influencer bernama Revina VT (semoga kalian tahu orangnya) baru-baru ini curhat di Twitter, tentang pengalaman tidak mengenakannya saat berada di gym. Singkat cerita, ia bertemu seorang perempuan yang kondisi fisiknya disebut bikin polusi mata.

Banyak orang menyayangkan sikap Revina VT, tapi ia berpendapat bahwa sah-sah saja jika merasa terganggu atas pemandangan yang dia lihat. Katanya, oke-oke saja curhat tentang hal ini di Twitter, nggak masalah. Tapi netizen membandingkan kejadian ini dengan perundungan yang pernah diterima si influencer beberapa waktu yang lalu.

Katanya, bully yang pernah diterima Revina VT adalah ucapan yang langsung ia terima, makanya ia berhak tidak terima. Sementara bully yang dibalutnya dengan kata “opini” seperti cuitannya itu boleh disampaikan karena tidak dinyatakan langsung ke si perempuan di dalam gym. 

Tapi si influencer ini kan followernya banyak. Kalau si cewek yang dianggap polusi mata ini nyadar bahwa ia sedang disindir gimana?

Ada banyak hal tentang body positivity yang Revina VT bagikan dalam twit, Insta Story, dan video. Ia pernah seolah mendeklarasikan menolak konsep semua perempuan cantik. Sebenarnya, dilihat dari isi twitnya pun si influencer pernah setuju dengan konsep “semua orang berhak merasa cakep”. Tapi dengan adanya kejadian ini, ia terlihat kontradiktif dengan pendapatnya sendiri dan terkesan hipokrit.

Sederhananya, kalau kamu merasa cantik, tapi di mata Revina tidak, Revina tetap berhak bilang kamu jelek. Tapi kayaknya kamu tetap nggak boleh bilang Revina jelek. Eh iya nggak? 

Revina juga bilang soal fat-acceptance yang menurutnya tidak mendidik. Ia menyenggol “kekurangan” lain seperti jerawat dan kulit kusam. Dia merasa kekurangan itu seharusnya diperbaiki atau istilah yang dipakainya adalah ‘upgrade yourself’. Menurutnya kekurangan itu tidak boleh di-embrace.

Ia bahkan dengan ekstrem menyebut orang-orang yang menyuarakan self-acceptance adalah orang-orang yang jahat. 

Hmmm, Revina VT mungkin tidak tahu rasanya berjuang menurunkan berat badan, atau menghilangkan bekas jerawat. Ia mungkin tidak pernah merasakan betapa menderitanya diet ketat dan olahraga yang dilalui seseorang, atau berapa banyak uang yang orang butuhkan untuk membeli skincare dan perawatan hanya untuk menambal kekurangannya dalam penampilan.

Orang yang menyuarakan self-acceptance tahu, Mbak, sulitnya mempercantik diri sesuai dengan “standar” masyarakat yang banyak maunya, sedangkan tidak semua orang bisa mencapai itu.

Kalau yang boleh disebut cantik hanya perempuan berkaki jenjang, apa kabar kami yang rasio panjang kaki dan badan sama? Kami juga mau loh, Mbak, meng-upgrade diri kami, tapi kami masih dalam proses. Terus apakah dalam proses itu kami jadi tidak berhak sama sekali untuk dibilang cantik dan disemangati?

Mbak Revina juga menyarankan kita untuk tidak marah bila ada yang menolak kita karena kita berjerawat kusam dan lain-lain. 

Lah, nyindir aku ya? Hahaha. Biar saya beritahu, Mbak. Selama ini, jangankan berharap untuk dicintai orang lain, kenyataannya, saya sendiri susah untuk mencintai diri saya. Saya sering merasa diri saya hina karena tidak secantik dan semulus, Mbaknya. Tapi self-acceptance yang disebut jahat itu membantu saya melewati masa-masa sulit.

Self-acceptance membantu saya untuk melihat bahwa hidup saya bukan cuma sekadar apa yang terlihat di luar, tapi juga di dalam. Tentang pencapaian saya, tentang kebahagiaan yang nggak bisa dilihat secara kasat mata.

Lalu kalau itu mendatangkan dampak positif terhadap saya, haruskah saya berhenti percaya pada self-acceptance dan fokus mengubah penampilan saya? Padahal selama ini saya sudah cukup menghabiskan banyak uang, waktu, dan pikiran. Yang nyatanya, justru membuat saya tidak produktif dan membenci diri sendiri.

Tapi mari kita kesampingkan Revina. Dia adalah seorang perempuan dewasa yang sadar akan haknya untuk berkomentar apapun yang dia suka, biarkan dia mikir sendiri. Saya merasa, akan sia-sia juga kalau kita berdebat benar atau salahnya. Lagian tidak ada untungnya.

Saya ingin fokus pada teman-teman. Saya harap, apapun yang dikatakan Revina dalam beberapa hari ini tidak ada yang masuk ke dalam hati teman-teman, tidak membuat teman-teman jadi berkecil hati.

Kalau kalian adalah salah satu yang tidak cantik menurut standar Revina VT, saya tahu kamu sedang berjuang menurunkan berat badanmu, menghilangkan bekas jerawat, menebalkan dan melembutkan rambut. Semua itu butuh proses dan dalam prosesnya kamu tetap berhak merasa cantik dan saya nggak akan mengganggu kalian.

Tidak ada salahnya kok menerima kekurangan. Saya pun sudah bertahun-tahun hidup dengan bekas jerawat dan tahu rasa minder itu seperti apa.

Mari kita cari sendiri kebenaran versi kita, bukan kebenaran versi Revina VT.

Sumber gambar: YouTube REVINA VT

BACA JUGA 5 Hal yang Wajib Dilakukan Sebelum Beli Skincare Baru dan tulisan Devia Anggraini lainnya.

Baca Juga:  Pelajaran dari Kasus Akun Twitter yang Suka Menjadikan Artis Meninggal sebagai Becandaan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.