Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Bekerja Sampai Lelah Tidak Pernah Sepadan, tapi Berhenti Bekerja Tidak Membawa Damai

Firmansyah Yedico Putra oleh Firmansyah Yedico Putra
23 Maret 2026
A A
Apa Harga Sepadan untuk Kamu yang Bekerja Sampai Lelah? (Unsplash)

Apa Harga Sepadan untuk Kamu yang Bekerja Sampai Lelah? (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Jadi ceritanya, saya baru dapat cuti setelah cukup lama bekerja sampai tanpa jeda secara harfiah. Cuti ini sudah saya ajukan jauh-jauh hari ke HRD, dan juga saya koordinasikan dengan atasan. 

Dalam satu kesempatan, Mbak Swa (Head HRD kantor saya) sempat bertanya. Apa yang paling ingin saya lakukan saat punya waktu sendiri setelah berhenti sementara dari rutinitas kehidupan dewasa ini?

Jawaban saya sederhana. Minum kopi, baca buku, nulis. Kalau bisa di tempat yang banyak hijau-hijaunya, dengan tenang, tanpa gangguan.

Akhirnya saya menikmati cuti itu di kota hujan, Bogor. Setelah beberapa hari membaca buku fiksi dan nonfiksi, sekadar menyeimbangkan kepala, saya malah teringat diri saya beberapa tahun ke belakang. Saya yang bekerja sampai seperti mesin diesel, jarang berhenti.

BACA JUGA: Percayalah, Jakarta Selatan Bukan Tempat yang Ideal bagi Perantau yang Mulai dari Nol, Hidupmu Bakal Sengsara di Sini!

Untuk apa bekerja sampai seperti ini?

Dari situ, satu pertanyaan eksistensial langsung terpantik. Sudah sekian tahun bekerja sampai seperti ini di ibu kota, sebenarnya untuk apa? Kenapa saya mau sejauh ini capek bekerja? Buat apa saya memilih sakit karena kerja, bukan sakit karena hal lain yang lebih “nyaman” tanpa harus bekerja?

Secara teoritis, selalu ada jalan lain. Misalnya, menikah dengan orang berduit, hidup dari harta warisan orang tua, atau cukup pasrah pada keberuntungan semata. Tapi, semakin kita belajar, baik lewat pendidikan formal maupun informal, semakin terasa bahwa tidak melakukan apa-apa itu sama saja dengan mati perlahan.

Bekerja sampai lelah sering kita pahami sebagai jalan paling masuk akal untuk hidup. Bangun pagi, berangkat, lelah, pulang membawa uang. Sederhana di atas kertas. Di praktiknya, tidak pernah sesederhana itu.

Baca Juga:

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

Jangan Mencari Peruntungan dengan Kerja di Jakarta, Saya Cari Magang di Sini Saja Susah, Sekalinya Dapat Tidak Digaji dan Dijadikan Tenaga Gratisan

Perkara meeting-meeting yang menyita waktu. Deadline yang menggerus tidur dan jam-jam santai. Belum lagi malam-malam ketika pulang, ada yang sengaja mampir sebentar ke Indomaret. Duduk di kursi besi, minum kopi Golda, menunda waktu untuk pulang ke rumah. Atau menyetel musik sepanjang jalan, berharap suara itu cukup keras untuk menenggelamkan skenario terburuk tentang masa depan.

Apakah semua ini sepadan?

Saya bekerja di industri kreatif. Industri yang katanya dinamis, segar, penuh ide. Dan sebagai mana industri lain, ia akan diam-diam mencuri umur dengan cepat tanpa kita sadari. Selalu ada manusia-manusia baru yang lebih muda dan enerjik, lebih lapar akan ide-ide segar dan lebih haus dengan validasi dan bentuk promosi.

Lalu, setelah ini saya mau ke mana? Ketika ide saya sudah tak lagi segesit dulu, ketika stamina dan gairah tak lagi sama, ketika cara berfikir saya tak lagi lagi relevan dan selera pasar yang cepat berubah, apakah saya akan tergantikan begitu saja?

Apakah bekerja seperti ini memang sepadan? Semua stres, cemas, kurang tidur, bahkan bagi sebagian orang, menangis hampir saban malam, adalah harga wajar untuk sesuatu yang kita sebut “bekerja sampai lelah”? Lalu, bekerja punya garis finis, atau kita hanya terus berlari sampai tubuh atau usia yang akhirnya menghentikan?

Buku-buku pengembangan diri dan filsafat populer sering menawarkan ketenangan: fokus pada proses, mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti yang ditulis Henry Manampiring dalam “Filosofi Teras”, atau membangun kebiasaan-kebiasaan kecil ala James Clear lewat “Atomic Habits”. Semua itu cukup membantu, namun hanya sampai pada beberapa aspek tertentu.

Bekerja sampai lelah bukan semata soal uang. Benarkah?

Kegelisahan ini memantik rasa penasaran saya. Saya coba iseng berkeliling dengan membaca forum diskusi di Facebook, X, sampai Reddit. Dari sana saya sadar, pertanyaan tentang bekerja sampai lelah ini ternyata bukan kegelisahan pribadi semata. 

Ia muncul di banyak ruang dan ditulis oleh banyak orang. Mulai dari filsuf, peneliti, sampai penulis esai. Mereka sama-sama mencoba menjawab satu hal. Kenapa manusia tetap bekerja, bahkan ketika kerja itu melelahkan?

Banyak yang menyebut bahwa bekerja sampai lelah itu bukan cuma soal cari uang, tapi soal bentuk aktualisasi diri. Ruang itu menjadi tempat seseorang menguji kapasitasnya, merawat keterampilannya, dan merasa dirinya tidak sepenuhnya terbuang dari peradaban.

Walaupun paradoksnya, setiap upaya untuk mengaktualisasikan diri hampir selalu berisiko bersinggungan dengan orang lain. Gesekan, konflik, salah paham. Semuanya ikut jadi satu paket. Apakah bekerja sampai lelah itu memang sepadan?

Bekerja tidak selalu soal hasil akhir

Albert Camus, lewat “The Myth of Sisyphus”, menulis tentang manusia yang terus mendorong batu ke atas bukit. Bukan karena batunya akan sampai, tapi karena kesadaran akan dorongan itu sendiri.

Saya tidak tahu apakah Camus sedang bicara soal kerja seperti yang kita kenal hari ini, tapi gagasannya cukup relevan, sih. Kerja tidak selalu dibenarkan oleh hasil akhirnya, melainkan oleh sikap kita saat menjalaninya. Bukan karena ia menyelesaikan segalanya, tapi karena ia membuat kita tetap bergerak di saat dunia terasa sedang melawan kita.

Mungkin, bekerja sampai lelah juga bukan ibadah karena hasilnya. Dalam “Robohnya Surau Kami”, AA Navis justru menyinggung manusia yang melarikan diri dari tanggung jawab duniawi dengan berlindung sepenuhnya pada ibadah. 

Tokohnya tekun berdoa, tapi lupa bahwa hidup juga menuntut adanya usaha. Dari situ, bekerja tidak ditempatkan sebagai lawan iman, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia di dunia.

Kalau saya pikir lagi, mungkin pertanyaannya bukan lagi soal “apakah bekerja sampai lelah itu sepadan”, tapi lelah atau sakit mana yang sanggup kita tanggung. Karena nyatanya, hampir setiap aspek hidup menuntut tenaga. Ada lelah mencari uang, ada lelah menjaga relasi, ada lelah berkarya tanpa kepastian, dan ada juga lelah yang datang dari tidak melakukan apa-apa.

BACA JUGA: 3 Pekerjaan yang Bisa Bikin Kamu Kaya di Jogja Tanpa Jadi Budak Freelance

Tidak ada posisi yang benar-benar bebas dari beban

Yang ada hanya transaksi. Bekerja sampai capek memang melelahkan, tapi berhenti bergerak juga tidak otomatis membawa damai. Mungkin itu sebabnya banyak orang memilih bercanda dengan imannya sendiri. Biar lelah jadi lillah, katanya. Selalu ada cara manusia untuk memberi makna.

Mungkin, bekerja sampai lelah memang bukan soal mencapai sesuatu yang final. Ini bukan vonis telak dari hakim, dan juga bukan pembenaran moral. Lebih ke soal memilih untuk tetap bergerak meski sambil mengeluh, capek, sesekali berhenti minum kopi di kursi besi depan Indomaret. Lalu meneguhkan ulang dan menguat-nguatkan diri sendiri: “sampai di sini dulu capeknya, nanti kita lanjut lagi.”

Sisanya, seperti biasa, waktu yang akan menjawab.

PS: Jujur, tulisan ini tidak disponsori oleh Indomaret, maupun Golda. Kalau mau menenangkan diri, pilih air mineral atau kopi hitam tanpa gula. Setidaknya stres tidak disertai dengan kehadiran penyakit diabetes, King.

Penulis: Firmansyah Yedico Putra

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Maret 2026 oleh

Tags: bekerjabekerja sampaihustle cultureibu kotaJakartakerjakerja keras
Firmansyah Yedico Putra

Firmansyah Yedico Putra

Pernah jadi tukang berita, kuli kata, sekarang kang suting di barat Jakarta.

ArtikelTerkait

Tebet, Sebaik-baiknya Daerah di Jakarta untuk Merantau Mojok.co

Tebet, Sebaik-baiknya Daerah di Jakarta untuk Merantau

14 Agustus 2024
Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh Obsesi yang Dipaksakan (Unsplash)

Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh Hanya Sebatas Ambisi yang Manfaatnya Sangat Minim dan Kerugian yang Dirasakan Indonesia Bisa Sampai Kiamat

23 April 2024
4 Alasan Duren Sawit Jadi Daerah Ternyaman di Jakarta Timur yang Kacau, Cocok Dijadikan Tempat Tinggal Mojok.co

4 Alasan Duren Sawit Jadi Daerah Ternyaman di Jakarta Timur yang Kacau, Cocok Dijadikan Tempat Tinggal

19 Februari 2024
Tempat Ngopi Favorit di Jakarta Pusat

Tempat Ngopi Favorit di Jakarta Pusat

31 Oktober 2019
Apa yang Sebenarnya Perlu Kita Lakukan untuk Mengatasi Kemacetan?

Apa yang Sebenarnya Perlu Kita Lakukan untuk Mengatasi Kemacetan?

27 Mei 2022
4 Orang yang Sebaiknya Nggak Usah Ngide Liburan ke Jakarta Mojok.co

4 Tipe Orang yang Sebaiknya Nggak Usah Ngide Liburan ke Jakarta

22 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

21 April 2026
Resign demi Jadi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

Resign demi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

18 April 2026
3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

Bantul Tidak Butuh Mall untuk Bisa Disebut Beradab dan Maju, Standar Konyol kayak Gitu Wajib Dibuang!

15 April 2026
5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi (Wikimedia Commons)

5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi, Wajib Kamu Coba Saat Berwisata Supaya Lebih Mengenal Sejarah Panjang Kuliner Nikmat Ini

21 April 2026
Kelas Menengah Dimatikan dengan Pajak dan Kenaikan BBM (Unsplash)

Kenaikan Harga Pertamina Turbo dan DEX Mendorong Kelas Menengah Menuju Kemiskinan dan Kematian

20 April 2026
Karimun Wagon R: Mobil Kecil yang Menyelamatkan Pemiliknya dari Gosip Kampung

Karimun Wagon R, Rekomendasi Cerdas Mobil Pertama untuk Kaum Mendang-mending yang Belajar Punya Mobil

15 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • WNA Malaysia Pilih Lanjut S2 di UNJ, Penasaran Ingin Kuliah di PTN karena Dosen Indonesia yang “Unik”
  • Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga
  • Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!
  • Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran
  • Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang
  • Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.