Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Anggapan Keliru soal Anak Kelas Akselerasi yang Selalu Keren. Aslinya Ya Begitulah

Muhamad Rezza Atthoriq oleh Muhamad Rezza Atthoriq
2 Februari 2021
A A
Anggapan Keliru Soal Anak Kelas Akselerasi yang Selalu Keren. Aslinya Ya Begitu... terminal mojok.co

Anggapan Keliru Soal Anak Kelas Akselerasi yang Selalu Keren. Aslinya Ya Begitu... terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Banyak yang mengira bahwa menjadi anak kelas akselerasi akan mengalami cerita-cerita prestisius dan elite. Padahal belum tentu, selayaknya slogan salah satu merek keripik kentang, kehidupan kami ya sejalan dengan kalimat “life is never flat”. Sebagai alumni kelas akselerasi, kehidupan sekolah saya bisa dibilang bergelombang seperti bentuk keripik kentang itu. Banyak kejadian yang kurang mengenakan dan unik yang saya alami sebagai alumni.

Saya menjalani program percepatan ketika berada di bangku sekolah dasar. Kebetulan, saat mengikuti tes masuk saya lolos dan bisa merasakan kelas akselerasi. Setelah saya masuk, pun menjalani hari-hari sebagai anak kelas akselerasi ternyata melelahkan. Saya harus menerima pelajaran yang telah dipadatkan agar mampu mengejar kelas satu tingkat di atas.

ADVERTISEMENT

Program tersebut dimulai di kelas 2 sekolah dasar. Saya dan teman-teman akselerasi harus menjalani satu semester selama empat bulan dari kelas 2 sampai kelas 4. Jadi, saya bersekolah di kelas 2 sampai 4 memakan waktu hanya 2 tahun. Sedangkan, di kelas 1,5, dan 6 normal satu semester 6 bulan atau totalnya 3 tahun. So, saya menjalani sekolah dasar selama lima tahun, seperti masa bakti presiden di Indonesia lah, tentu kalau belum ganti kebijakannya.

Selain harus ketat menjalani sekolah. Banyak pengalaman ganjil yang harus saya lalui, terlebih lagi sesudah saya lulus dari bangku sekolah dasar. Kejadian yang tidak menyenangkan pertama, ada kaitannya dengan umur saya yang lebih muda di lingkup pertemanan. Salah kalau ada orang yang bilang jadi anak termuda di kelas itu membanggakan. Soalnya, umur saya yang lebih muda malah membuat saya sering disepelekan.

Mulai di bangku sekolah dasar, saya dipanggil “dek” oleh anak reguler, padahal secara teknis kami sudah sama-sama kelas 6 SD. Berlanjut sewaktu SMP, sering kali ketika saya ingin nimbrung obrolan salah satu teman yang mengetahui umur saya yang muda berkata, “Wis ono bayi, bubar-bubar.” Saya sempat bersyukur karena di sekolah menengah atas tidak mengalami kejadian seperti saat SD dan SMP.

Ndilalah di perkuliahan, saat saya pikir akan bisa bergaul dengan kawan-kawan yang cerdas dan dewasa, teman baik saya malah gantian mempermasalahkan umur saya. Dia selalu mengorelasikan umur saya dengan sifat keras kepala saya. Apa-apa dibilang, “Maklum koe kan iseh enom.” (Maklum, kamu kan masih muda.)

Kalau boleh bertanya, apa perbedaan yang kentara dari seseorang yang lebih muda, tapi menempuh level pendidikan yang sama? Kan nggak seberapa besar to. Perbedaannya paling cuma saya harus kena tilang lebih lama satu tahun dari pada kalian pas ada razia SIM. Malah menurut saya kedewasaan orang-orang yang mempermasalahkan umur itulah yang perlu dipertanyakan.

Ganjalan kedua adalah lulusan kelas akselerasi harus menanggung anggapan bahwa pintar di segala bidang. Ini nggak salah karena memang masuk akselerasi itu ada syaratnya dan salah satu pertimbangan IQ-nya harus di angka tertentu. Tapi, mau dikata apa? Saya memang ambyar dari dulu di pelajaran matematika sejak SD.

Baca Juga:

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

Nggak Usah Ngadi-ngadi. Lembaga Pengawas di Drakor Teach You a Lesson Tidak Mungkin Bisa Ada di Indonesia

Lagi-lagi kejadiannya ketika saya di sekolah menengah pertama. Waktu itu saat pelajaran matematika, ada seorang guru yang menyuruh saya mengerjakan soal matematika di papan tulis. Nah, saya yang memang sedari dulu bosok nilai matematikanya tentu saja nggak bisa mengerjakan soal itu. Beliau kemudian mengatakan, “Cah akselerasi kok raiso.” (Anak akselerasi kok nggak bisa.)

Sebetulnya kalau urusan nggak bisa matematika nggak usah dibantu perjelas. Lha saya sendiri sudah menyadari bahwa matematika itu musuh alami saya. Ujian nasional saat SD saja matematika hanya dapat 6 di saat nilai Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam saya bisa dapat 9.

Masalah ketiga adalah soal percintaan. Menjalani sekolah yang lebih cepat satu tahun membuat saya ketika lulus mendapatkan lingkaran pertemanan yang setahun di atas juga. Rata-rata teman saya berumur satu tahun sampai dua tahun lebih tua. Hal itu menyebabkan ketika saya menyukai teman perempuan bisa dipastikan dia lebih tua.

Jangan disalahartikan dengan saya yang menjadi merasa keberatan dengan itu. Nggak kok, saya tidak ada masalah dengan umur pasangan yang lebih tua dari saya. Bagi saya kedewasaan itu juga dipengaruhi oleh cara berpikir seseorang bukan dari umurnya saja.

Nah, pada bagian percintaan ini banyak kisah lucu daripada cerita melasnya. Barangkali karena faktor keadaan, saya hampir nggak punya mantan yang berumur lebih muda dari saya. Semua lebih tua satu sampai dua tahun. Pacaran sama teman satu kelas saat SMP? Lebih tua, CLBK dengan teman SD saat di SMA? Lebih tua. Bahkan, ketika saya pacaran dengan adik kelas, saat duduk di bangku SMA yang pada waktu itu saya kelas satu SMA dan dia kelas 3 SMP, malah lebih tua dia beberapa bulan dari saya. Hayo gimana?  

Lalu, bagaimana anggapan bahwa menjadi anak kelas akselerasi itu selalu prestisius? Bagi saya itu kembali ke diri masing-masing. Memang banyak teman-teman saya yang masih mlethek otaknya sampai saat ini dan barangkali ceritanya lebih masyhur ketika diceritakan. Tapi, ada kalanya anak-anak alumni kelas percepatan macam saya mendapatkan pengalaman yang nano-nano. Nggak semuanya keren-keren, ada yang malesin, ada juga yang lucu.

BACA JUGA Buat Apa Sekolah Jika Hanya Jadi Penurut? atau tulisan Rezza Atthoriq lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Februari 2021 oleh

Tags: akselerasiPendidikan
Muhamad Rezza Atthoriq

Muhamad Rezza Atthoriq

Bekerja di ranah digital, mengikuti Arsenal, dan menjalani hidup dengan tubuh gempal serta ritme yang santai.

ArtikelTerkait

belajar di sekolah

Buat Apa Sekolah Jika Hanya Jadi Penurut?

9 Mei 2019
pjj kurikulum darurat mendikbud nadiem makarim duganti reshuffle menteri dan najwa shihab

Nadiem Makarim Beri Pengumuman Kece soal PJJ

9 Agustus 2020
Kenapa Contoh Orang DO tapi Sukses Dikit dan Itu-itu Saja?

Kenapa Contoh Orang DO tapi Sukses Dikit dan Itu-itu Saja?

27 Februari 2022
Orang Tua Menggugat Pihak Sekolah ke Meja Hijau, Akibat Sistem Pendidikan yang Kompetitif, pertanyaan di kelas

Orang Tua Menggugat Pihak Sekolah ke Meja Hijau, Akibat Sistem Pendidikan yang Kompetitif

31 Oktober 2019
Logo Tut Wuri Handayani dan Tebakan Makna Filosofisnya terminal mojok.co

Logo Tut Wuri Handayani dan Tebakan Makna Filosofisnya

16 November 2021
rapor murid wali murid mojok

Beberapa Alasan untuk Orang Tua Murid agar Sebaiknya Tidak Percaya pada Nilai Rapor

21 Juli 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Gara-gara industri, matcha kini jadi overrated (Unsplash)

Matcha layak dicintai, hanya saja industri membuatnya jadi overrated

23 Agustus 2026
Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru Mojok.co

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru

22 Agustus 2026
Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

21 Agustus 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah miskin, saya begitu benci dengan keadaan itu, dan tak pernah ingin jadi miskin lagi

23 Agustus 2026
Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura Mojok.co

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura

20 Agustus 2026
Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku Mojok.co

Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku

18 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.