Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Anak Sekolah Ikut Demonstrasi karena Khawatir akan Masa Depan Mereka

Rusmanto oleh Rusmanto
21 Oktober 2020
A A
hormat tiga jari demonstrasi anak sekolah mojok

hormat tiga jari demonstrasi anak sekolah mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Saya kemarin sempat membaca tulisan Hasanudin Abdurakhman yang mengkritisi anak sekolah ikut demo. Dia bertanya-tanya, kok bisa anak sekolah yang seharusnya sekolah daring di rumah ikut demonstrasi, orang tua mereka ke mana? Apakah orang tua yang membiarkan anak ikut demo adalah orang tua yang tidak bertanggung jawab? Apakah orang tua yang tidak tahu ke mana anaknya pergi saat meninggalkan rumah juga tidak bertanggung jawab?

Pada 1998, saya adalah anak SMA yang ikut demo. Orang tua saya di mana? Tentu saja di rumah, jualan di warung untuk menghidupi setiap anggota keluarga. Orang tua saya khawatir saat saya ikut demo. Namun, ikut demonstrasi adalah keputusan yang saya ambil sendiri.

ADVERTISEMENT

Sebagaimana orang tua mengkhawatirkan saya, saya juga mengkhawatirkan orang tua. Tentu saja nggak ketinggalan, saya mengkhawatirkan diri sendiri. Sebab itulah, dulu saya ikut demo. Kehidupan zaman itu sungguh mencekam, terutama untuk rakyat biasa. Tapi, saya nggak tahu apakah ada di pelajaran sejarah yang katanya mau dihapuskan itu.

Di zaman ini, ke mana orang tua saat anaknya yang masih sekolah ikut demonstrasi? Kenapa mereka tidak melindungi anak mereka, dengan membiarkan ikut demo? Sebegitu parahkah komunikasi dalam keluarga hingga orang tua tidak bisa mengendalikan anak?

Saat anak sekolah demonstrasi, orang tua mereka sedang sibuk menjadi buruh. Sibuk menambah penghasilan agar bisa menyambung hidup. Itu terjadi karena negara ini begitu perhatian kepada kaum buruh. Saking perhatiannya banyak buruh yang terlantar. Jadi saat anak mereka demo, sebagai orang tua mereka nggak bisa mendampingi.

Bekerja dengan jam kerja yang terlalu panjang, kelebihan jam kerja tidak dihitung adalah hal yang biasa. Kalau nggak mau bekerja lebih, akan banyak orang yang menggantikannya. Oleh karena itu mereka bertahan.

Jadi kenapa anak sekolah berdemo? Mereka mencemaskan orang tua dan diri mereka sendiri di masa depan. Bukankah hal itu merupakan kondisi yang wajar? Atau mungkin harus didramatisir agar demonstrasi terlihat sebagai suatu kejahatan?

Kesibukan orangtua yang menjadi buruh memang luar biasa. Mereka nggak sempat ikut panduan parenting yang banyak diadakan via daring itu. Akhirnya anak akan tumbuh dengan kemampuan dan kemauan mereka sendiri. Apakah hal itu membuat orangtua menjadi tidak bertanggung jawab? Itu adalah pertanyaan yang sangat bisa diperdebatkan.

Baca Juga:

Terminal Jombor Jogja, Terminal Murah Primadona Pelajar yang Kini Berkawan Sepi

5 Kejadian Luar Biasa yang Bikin Ospek UIN Gempar dan Viral, Ada Apa dengan UIN (yang Sekarang)?

Kehidupan dan komunikasi keluarga kelas bawah memang berbeda jauh dengan kelas menengah. Apalagi bila dibandingkan dengan kelas atas secara ekonomi. Jadi, akan sangat naif bila melihat hanya dari kacamata orang yang nggak pernah jadi buruh. Mereka yang bekerja setiap hari untuk hidup pas-pasan tanpa kepastian kalau hidup mereka ke depan bakal baik-baik saja.

Semua pekerja yang bekerja untuk mendapatkan upah adalah buruh. Tapi, arti kata “buruh” yang masyarakat tahu bukan macam itu. Mereka yang bekerja dan rawan dipecat adalah arti buruh sesungguhnya yang saya yakini. Diperparah lagi dengan penghasilan yang di bawah standar penghidupan.

Buruh macam inilah yang paling banyak dijumpai di Indonesia. Sebetulnya untuk apa dan untuk siapa Undang-undang kejar tayang itu dibuat? Yang jelas bukan untuk kebanyakan rakyat yang hidup di pelukan Bunda Pertiwi.

Demonstrasi menempatkan anak dalam kondisi rawan kekerasan dan berbahaya. Hal itu memang tidak bisa dimungkiri. Namun, bukankah sebagai orang tua, aparat harus bisa melindungi anak muda yang sedang tumbuh ini? Kenapa aparat bisa terpancing melakukan tindakan represif pada anak remaja yang baru tumbuh ini?

Kalau Hasanudin Abdurakhman bertanya ke mana orangtua saat anak sekolah demonstrasi, saya balik bertanya, ke mana negara hingga anak sekolah harus ikut demonstrasi? Begitu merasa tidak amankan anak muda hingga mereka harus demo untuk mengemukakan pendapat agar keinginan dan kekhawatiran mereka didengar?

Menurut saya, anak sekolah ikut demonstrasi adalah sebuah kemajuan. Dengan begitu, mereka bisa terlatih berpikir kritis. Saya kira tugas negara bukan untuk membendung dan merepresi pemikiran kritis para pemuda ini. Bila dapat diakomodasi dengan benar, negara memiliki memiliki sebuah generasi dengan kemampuan berpartisipasi dalam “pembangunan”.

BACA JUGA Apa Bedanya Demo 1998 dengan Demo 2020? dan tulisan Rusmanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2020 oleh

Tags: demonstrasipelajarUU cilaka
Rusmanto

Rusmanto

Penulis lepas.

ArtikelTerkait

reformasidokorupsi polisi gembosi lemahkan mahasiswa pelajar video pengakuan kantor polisi polda metro jaya demonstrasi aksi mojok

Polisi Libatkan Orang Tua untuk Gembosi Gerakan Mahasiswa/Pelajar #ReformasiDikorupsi

28 April 2020
kotak pensil

Menebak Kepribadian Pelajar Berdasarkan Isi Kotak Pensil

20 September 2019
aksi massa

Orang-Orang Berjasa di Balik Panggung Aksi Massa

30 September 2019
sonny boy anime musim panas 2021 mojok

Sonny Boy, Anime Buatan Sutradara One Punch Man yang Layak Ditonton Musim Ini

28 Juli 2021
ha milik tanah klitih tingkat kemiskinan jogja klitih warga jogja lagu tentang jogja sesuatu di jogja yogyakarta kla project nostalgia perusak jogja terminal mojok

Mengungkap Perusak Jogja yang Sebenarnya

11 Oktober 2020
aksi mahasiswa

Balada Semangat Aksi Mahasiswa Zaman Now

18 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga Mojok.co yusril fahriza

Lamongan butuh dipimpin Yusril Fahriza agar makin maju dan kalcer, dan saya serius!

20 Juli 2026
Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

Nongkrong sama teman yang lagi mabuk dan banyak bacot benar-benar bikin emosi

20 Juli 2026
Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja nggak suka makan gudeg, padahal tahu gudeg yang enak, gurih, dan murah?

19 Juli 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan

21 Juli 2026
Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

20 Juli 2026
Seminggu buka jastip sudah cukup membuat saya paham kenapa jastiper sering pasang fee mahal

Seminggu buka jastip sudah cukup membuat saya paham kenapa jastiper sering pasang fee mahal

18 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.