Aming Salah, Orang Kaya Nggak Matiin Orang Miskin Karena Panic Buying

Aming Salah Bilang Orang Kaya Matiin Orang Miskin Karena Panic Buying

Aming Salah Bilang Orang Kaya Matiin Orang Miskin Karena Panic Buying

Tepat setelah Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus positif virus corona (COVID-19), Indonesia sontak dilanda gonjang-ganjing. Kepanikan demi kepanikan didemonstrasikan oleh media, pejabat, dan masyarakat. Informasi hoax bertaburan dimana-mana. Pejabat pusat hingga daerah berlomba-lomba berebut panggung politik. Sementara media mainstream membingkai pemberitaan informasi tentang virus corona dengan memainkan emosi dan menghasilkan rasa takut pada masyarakat.

Alhasil, terjadilah fenomena yang disebut dengan “panic buying.” Masyarakat berbondong-bondong membeli komoditas utama guna mengamankan diri dari wabah virus corona yang sedang naik daun. Komoditas utama yang menjadi incaran seperti masker, hand sanitizer, dan bahkan kebutuhan pokok sehari-hari seperti makanan dan minuman. Tak lupa para penimbun dan spekulan turut serta dalam gegap gempita panic buying ini, guna dapat menarik keuntungan lebih.

Sobat misqueen hanya dapat bengong dan menahan titihan air mata melihat mereka yang berpunya memborong semua barang kebutuhan, sementara penimbun menjual masker dengan harga selangit. I feel you my friends :”(.

Menyoroti hal tersebut komedian kawakan, idola saya sewaktu membintangi sitkom Extravaganza, Aming menyuarakan keprihatinannya tentang ketamakan mereka yang berpunya. Beberapa hari ini, perkataan Aming ber-sliweran dalam story Whatsapp saya. Kurang lebih, apa yang disampaikan Aming seperti ini:

“Pada akhirnya bukan corona yang membunuh kita, tapi saudara sendiri yang punya duitlah!!! Berbondong-bondong ngeborong ampe stok kosong! Sobat miskin cuma bengong dimatiin sodara sendiri dalam kelaparan. Siapa lebih jahat, corona atau manusia?”

Aming mencemooh sekaligus menghardik perilaku mereka yang serakah dan tidak bermoral (amoral) dan hanya peduli pada kepentingan dirinya masing-masing. Saya angkat topi untuk suara lantang Aming.

Tapi…

(Nah, ‘tapi’nya ini yang bikin seru kan? hehe).

Bukankah sah-sah saja kalau mereka memang punya uang dan membeli barang seisi toko? Apa yang salah dengan menyelamatkan diri sendiri di saat krisis? Oh sobat miskin ga kebagian? Yah kan salah sendiri miskin.

Wah, dasar ga punya hati! Teriak salah satu sobat miskin. Lah bukankah sistem ekonomi yang kita gunakan saat ini memang bodoh amat dengan masalah moral, keadilan, dan kesejahteraan hidup semua manusia? Terus kenapa orang-orangnya tidak boleh egois?

Sistem ekonomi yang saya bicarakan hari ini adalah sistem ekonomi pasar. Tidak ada istilah “sodara sendiri” seperti yang dikatakan oleh Aming. Dalam sistem pasar, justru yang berlaku adalah “dih siapa loe?”

Sewaktu SMA kita diajarkan kalau pasar bekerja dengan mekanisme permintaan dan penawaran. Harga suatu komoditas banyak dipengaruhi oleh mekanisme ini. Untuk menjelaskannya, saya akan meminjam cerita yang selalu disampaikan oleh Professor ekonomi dari Amerika Richard D. Wolff.

Cerita bermula di saat terjadi kelangkaan susu (entah mungkin karena COVID-20 yang khusus menyerang sapi). Penawaran (jumlah susu yang ada) kurang dari jumlah permintaan (orang-orang yang membutuhkan). Selanjutnya, secara alamiah terjadilah seleksi pasar yakni peningkatan harga susu (price gouging). Pasokan susu yang ada kemudian dijual dengan harga Rp. 500.000 per-liternya. Konsekuensinya adalah sebagian kecil orang berpunya, mengalahkan sebagian lain dalam kompetisi mendapatkan susu yang langkah tersebut. Kelanjutan cerita ini mendemonstrasikan amoralitas dari sistem pasar.

Sekelompok orang yang telah mendapatkan susu tersebut, pulang kerumah dan memberikannya kepada kucing peliharaan mereka agar bulu lebat nan-unyu kucing peliharaan mereka dapat tetap terjaga. Sementara mereka yang pulang dengan tidak membawa susu, hanya memberikan anak balitanya yang sedari pagi menangis dengan air putih. Pasar inheren di dalam dirinya amoral. Tidak peduli apakah susu tersebut akan dikonsumsi oleh kucing atau bayi yang baru lahir.

Kondisi yang hampir serupa saya pikir terjadi di Indonesia. Harga satu box masker yang biasanya berkisar di harga 20.000-30.000, dua hari ini melonjak naik ke harga 300.000 per-boxnya. Tentu saja semua dipicu kelangkaan dan permintaan yang tinggi atas masker.

Pasar tidak peduli jika terdapat spekulan tiba-tiba memborong stok masker sampe ludes. Ya emang punya uang kok, tidak ada yang jahat dari itu semua. Kemudian, menjualnya dengan harga selangit. Ya kalau emang ga kuat beli, silahkan mengadu daya tahan tubuh anda dengan virus corona. Jangan lupa doa yaaa…

Poin utama tulisan saya ini adalah, bukan corona atau manusia yang jahat—seperti yang dipertanyakan oleh Aming. Corona hanya berlaku sesuai khodratnya (hah, khodrat?) sebagai virus. Para pemborong juga hanya berlaku sesuai insting mereka, bertahan hidup plus kalau bisa cari untung. Bahwa mereka menjadi manusia yang tidak bermoral, adalah konsekuensi sistemik dari sistem pasar yang kita gunakan sekarang.

Dalam situasi krisis, adalah lumrah saat sebagian orang menyelamatkan dirinya sendiri meskipun mengorbankan sebagian yang lain. Ironinya adalah, kita tidak sadar bahwa kita sebagai SATU SODARA (sengaja saya over-highlight karena penting) dapat bekerja sama untuk menyelamatkan diri kita semua tanpa perlu ada yang harus dikorbankan. Entah dengan intervensi yang tepat terhadap pasar, atau menggantikan pasar itu sendiri. We the people can and should do better than the market itself.

BACA JUGA Yang Tidak Mereka Katakan tentang Kapitalisme atau tulisan Rizky Adhyaksa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version