Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Aming Salah, Orang Kaya Nggak Matiin Orang Miskin Karena Panic Buying

Rizky Adhyaksa oleh Rizky Adhyaksa
8 Maret 2020
A A
Aming Salah Bilang Orang Kaya Matiin Orang Miskin Karena Panic Buying

Aming Salah Bilang Orang Kaya Matiin Orang Miskin Karena Panic Buying

Share on FacebookShare on Twitter

Tepat setelah Presiden Jokowi mengumumkan dua kasus positif virus corona (COVID-19), Indonesia sontak dilanda gonjang-ganjing. Kepanikan demi kepanikan didemonstrasikan oleh media, pejabat, dan masyarakat. Informasi hoax bertaburan dimana-mana. Pejabat pusat hingga daerah berlomba-lomba berebut panggung politik. Sementara media mainstream membingkai pemberitaan informasi tentang virus corona dengan memainkan emosi dan menghasilkan rasa takut pada masyarakat.

Alhasil, terjadilah fenomena yang disebut dengan “panic buying.” Masyarakat berbondong-bondong membeli komoditas utama guna mengamankan diri dari wabah virus corona yang sedang naik daun. Komoditas utama yang menjadi incaran seperti masker, hand sanitizer, dan bahkan kebutuhan pokok sehari-hari seperti makanan dan minuman. Tak lupa para penimbun dan spekulan turut serta dalam gegap gempita panic buying ini, guna dapat menarik keuntungan lebih.

ADVERTISEMENT

Sobat misqueen hanya dapat bengong dan menahan titihan air mata melihat mereka yang berpunya memborong semua barang kebutuhan, sementara penimbun menjual masker dengan harga selangit. I feel you my friends :”(.

Menyoroti hal tersebut komedian kawakan, idola saya sewaktu membintangi sitkom Extravaganza, Aming menyuarakan keprihatinannya tentang ketamakan mereka yang berpunya. Beberapa hari ini, perkataan Aming ber-sliweran dalam story Whatsapp saya. Kurang lebih, apa yang disampaikan Aming seperti ini:

“Pada akhirnya bukan corona yang membunuh kita, tapi saudara sendiri yang punya duitlah!!! Berbondong-bondong ngeborong ampe stok kosong! Sobat miskin cuma bengong dimatiin sodara sendiri dalam kelaparan. Siapa lebih jahat, corona atau manusia?”

Aming mencemooh sekaligus menghardik perilaku mereka yang serakah dan tidak bermoral (amoral) dan hanya peduli pada kepentingan dirinya masing-masing. Saya angkat topi untuk suara lantang Aming.

Tapi…

(Nah, ‘tapi’nya ini yang bikin seru kan? hehe).

Bukankah sah-sah saja kalau mereka memang punya uang dan membeli barang seisi toko? Apa yang salah dengan menyelamatkan diri sendiri di saat krisis? Oh sobat miskin ga kebagian? Yah kan salah sendiri miskin.

Baca Juga:

Sebuah Rezim Tidak Selalu Jatuh karena Aksi Jalanan

Vaksin Covid-19 Butuh Waktu Lama untuk Dibuat: Penjelasan Sederhana

Wah, dasar ga punya hati! Teriak salah satu sobat miskin. Lah bukankah sistem ekonomi yang kita gunakan saat ini memang bodoh amat dengan masalah moral, keadilan, dan kesejahteraan hidup semua manusia? Terus kenapa orang-orangnya tidak boleh egois?

Sistem ekonomi yang saya bicarakan hari ini adalah sistem ekonomi pasar. Tidak ada istilah “sodara sendiri” seperti yang dikatakan oleh Aming. Dalam sistem pasar, justru yang berlaku adalah “dih siapa loe?”

Sewaktu SMA kita diajarkan kalau pasar bekerja dengan mekanisme permintaan dan penawaran. Harga suatu komoditas banyak dipengaruhi oleh mekanisme ini. Untuk menjelaskannya, saya akan meminjam cerita yang selalu disampaikan oleh Professor ekonomi dari Amerika Richard D. Wolff.

Cerita bermula di saat terjadi kelangkaan susu (entah mungkin karena COVID-20 yang khusus menyerang sapi). Penawaran (jumlah susu yang ada) kurang dari jumlah permintaan (orang-orang yang membutuhkan). Selanjutnya, secara alamiah terjadilah seleksi pasar yakni peningkatan harga susu (price gouging). Pasokan susu yang ada kemudian dijual dengan harga Rp. 500.000 per-liternya. Konsekuensinya adalah sebagian kecil orang berpunya, mengalahkan sebagian lain dalam kompetisi mendapatkan susu yang langkah tersebut. Kelanjutan cerita ini mendemonstrasikan amoralitas dari sistem pasar.

Sekelompok orang yang telah mendapatkan susu tersebut, pulang kerumah dan memberikannya kepada kucing peliharaan mereka agar bulu lebat nan-unyu kucing peliharaan mereka dapat tetap terjaga. Sementara mereka yang pulang dengan tidak membawa susu, hanya memberikan anak balitanya yang sedari pagi menangis dengan air putih. Pasar inheren di dalam dirinya amoral. Tidak peduli apakah susu tersebut akan dikonsumsi oleh kucing atau bayi yang baru lahir.

Kondisi yang hampir serupa saya pikir terjadi di Indonesia. Harga satu box masker yang biasanya berkisar di harga 20.000-30.000, dua hari ini melonjak naik ke harga 300.000 per-boxnya. Tentu saja semua dipicu kelangkaan dan permintaan yang tinggi atas masker.

Pasar tidak peduli jika terdapat spekulan tiba-tiba memborong stok masker sampe ludes. Ya emang punya uang kok, tidak ada yang jahat dari itu semua. Kemudian, menjualnya dengan harga selangit. Ya kalau emang ga kuat beli, silahkan mengadu daya tahan tubuh anda dengan virus corona. Jangan lupa doa yaaa…

Poin utama tulisan saya ini adalah, bukan corona atau manusia yang jahat—seperti yang dipertanyakan oleh Aming. Corona hanya berlaku sesuai khodratnya (hah, khodrat?) sebagai virus. Para pemborong juga hanya berlaku sesuai insting mereka, bertahan hidup plus kalau bisa cari untung. Bahwa mereka menjadi manusia yang tidak bermoral, adalah konsekuensi sistemik dari sistem pasar yang kita gunakan sekarang.

Dalam situasi krisis, adalah lumrah saat sebagian orang menyelamatkan dirinya sendiri meskipun mengorbankan sebagian yang lain. Ironinya adalah, kita tidak sadar bahwa kita sebagai SATU SODARA (sengaja saya over-highlight karena penting) dapat bekerja sama untuk menyelamatkan diri kita semua tanpa perlu ada yang harus dikorbankan. Entah dengan intervensi yang tepat terhadap pasar, atau menggantikan pasar itu sendiri. We the people can and should do better than the market itself.

BACA JUGA Yang Tidak Mereka Katakan tentang Kapitalisme atau tulisan Rizky Adhyaksa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Maret 2020 oleh

Tags: ekonomi pasarsistem ekonomivirus corona
Rizky Adhyaksa

Rizky Adhyaksa

ArtikelTerkait

ngeyel keluar rumah

Yang Harus Dilakukan Pemerintah biar Nggak Ada Lagi Orang yang Ngeyel Keluar Rumah

25 Maret 2020
Pengalaman Menyenangkan Selama Lockdown di Desa Konoha

Pengalaman Menyenangkan Selama Lockdown di Desa Konoha

26 Maret 2020
darurat sipil

Yang Terjadi Kalau Darurat Sipil Betulan Dilakukan

31 Maret 2020
diimbau jangan mudik

Diimbau Jangan Mudik Tapi Boleh Mudik Itu Maksudnya Gimana, sih?

3 April 2020
Seandainya Pohon dan Hewan Bisa Komentar Soal Banjir Jakarta dan Virus Corona

Seandainya Pohon dan Hewan Bisa Komentar Soal Banjir Jakarta dan Virus Corona

30 Januari 2020
Pengalaman Saya Sidang Proposal Online karena Harus Sosial Distance

Pengalaman Saya Sidang Proposal Online karena Harus Sosial Distance

19 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Cikarang Menyimpan Salah Paham yang Bikin Iri sama Jakarta (Unsplash)

Di balik gaji besar operator industri di Kawasan Industri Cikarang, ada harga mahal yang harus dibayar

4 Agustus 2026
Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

10 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Pemilik kos nggak problematik, fasilitas yang seharusnya tercantum dalam brosur Mojok.co

Pemilik kos nggak problematik, fasilitas yang seharusnya tercantum dalam brosur

8 Agustus 2026
Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

Di kala ekonomi yang sulit ini, bisnis nasi bungkus 7 ribu malah cuan selangit

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.