Alasan Tokoh Antagonis Manga Haikyuu! Itu Loveable Banget

Featured

Gusti Aditya

Manga shonen yang satu ini memang sedang digandrungi hal layak ramai. Seolah, Haikyuu! lah yang mendamaikan duel sengit antara kaum wibu dengan mereka yang tidak menyukai hal-hal yang bertemakan kultur pop Jepang. Bagaimana tidak? Haikyuu! yang mengambil tema olahraga bola voli ini menawarkan sisi lain dari realitas dan kata-kata penyemangat seperti tweets-nya Fiersa Besari. Manga ini dikemas secara sempurna oleh sang mangaka, Haruichi Furudate.

Beranjak dari semua itu, ada nggak sih tokoh dalam manga ini yang bener-bener bikin kalian benci sebagaimana melihat Madara dalam manga Naruto? Susah memang menjawabnya, dalam dunia voli memang tidak ada yang antagonis karena semua pada hakikatnya mengincar kemenangan. Hanya satu yang terkadang bikin clash, yakni ambisi yang tidak satu visi.

Jahatnya antagonis dalam manga Haikyuu! pun dalam kadar yang wajar. Palingan sekadar provokasi kepada tim lawan. Pun provokasi sah-sah saja, bahkan diperlukan dalam olahraga yang satu ini. Tapi, terlepas dari semua itu, ada hal-hal menarik dari masing-masing tokoh antagonis sehingga memiliki daya tarik tersendiri. Nah, saya ingin menghaturkan secara sederhana kenapa tokoh-tokoh antagonis dalam manga ini nggak kalah loveable dari tokoh-tokoh utama seperti Hinata dan Kageyama. Mulai dari karena lucu hingga pembawaannya yang nggak bisa dibenci, berikut daftarnya:

Satu: Toru Oikawa

Oikawa adalah kakak kelas Kageyama yang sifatnya seratus delapan puluh derajat berbeda dengannya. Oikawa adalah setter yang mengandalkan ketenangan dan aura magis yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya mengikuti pola yang ia bangun tanpa paksa. Sedangkan Kageyama, ia dijuluki “pangeran” karena buruknya membangun komunikasi dengan teman-temannya. Kageyama adalah penerus yang gagal dari Oikawa ketika ia lulus SMP Kitagawa Daiichi.

Kapten sekaligus setter SMA Aobajohsai ini memang awalnya menyebalkan. Apalagi jika kita memandang dari sudut pandang Kageyama. Tapi, sehubungan dengan berjalannya cerita, Oikawa justru memberikan saran secara tak langsung kepada Kageyama. Layaknya seorang kakak yang mengayomi adiknya, Oikawa diam-diam menyadari bahwa ia tak sejenius Kageyama. Dan hanya upaya keras yang bisa membuat dirinya terus berdiri dan melawan Kageyama yang jenius.

Kata-katanya tentang bakat bawaan dan kemampuan yang dilatih sangatlah menempel dalam ingatan. Dalam season 1 episode 20, ia berkata, “Bahkan jika saya bukan tandingan bakat bawaannya (Kageyama), setidaknya saya bisa memberikan umpan terbaik untuk rekan satu tim saya.” Walau wajahnya terkadang bikin kzl, Oikawa selalu memberi petuah kepada Kageyama bahwa bakat akan percuma jika tidak melakukan realitas sosial kepada rekan satu timnya.

Dua: Wakatoshi Ushijima

Masuk dalam jajaran top three access, muka yang selalu dingin dan sedikit bicara, nggak bisa bercanda, ambisius, dan sering mengambil maksud perkataan orang tanpa ia saring terlebih dahulu. Apa, sih, yang kurang dari Ushijima untuk tidak disukai? Tapi kenyataannya berbeda, Ushijima malah mendapatkan banyak hati bagi para Haikyuu! Fans. Bukan karena keren atau tampan, tapi bagaimana ia memperlakukan timnya Hinata dan Kageyama secara layak dan tidak dipandang sebelah mata.

Ushijima sebenarnya tidak peduli seberapa kuat atau lemah lawannya. Yang ia bisa hanyalah memberikan seratus persen kemampuannya untuk SMA-nya, Shiratorizawa. Selain itu, kisah masa kecil Ushijima sangat menyentuh. Bagaimana ia mengenal voli seakan menjawab mengapa ia begitu kalem walau sedang dalam situasi terjepit sekalipun.

Baca Juga:  Menghitung Penghasilan Tobio Kageyama ‘Haikyuu!’ di Schweiden Adlers (Spoiler Alert!)

Benar-benar epic apa yang tersaji pada chapter 77 di mana ketika Hinata dan Kageyama bersaing dalam lomba lari, mereka tak sengaja bertemu dengan Ushijima. Di sana, mereka menegaskan bahwa tidak menganggap Karasuno adalah underdog yang hanya kebetulan saja sampai final. Dengan wajah kalem dan terkesan tidak ramah, ia berkata, “Tidak peduli seberapa pesat progres kalian, yang harus kalian tahu adalah kami juga tidak melemah.”

Tiga: Atsumu Miya

Ketika karakter ini muncul, saya kira Miya adalah orang yang paling tepat untuk dibenci. Bagaimana tidak, keahliannya sebagai setter yang baik dan provokasi lawan khas satir yang dia ucapkan, adalah kombinasi sempurna untuk dibenci. Miya Atsumu adalah kembarannya Osamu Miya yang sama-sama memiliki ketertarikan terhadap voli. Justru respect mulai muncul ketika kolom flasback menampilkan bagaimana dirinya bertemu dengan voli. Kekalahan memperebutkan posisi sebagai setter utama dengan saudara kembarnya dan bagaimana dirinya bangkit menemukan jalannya.

Jika Kageyama SMP, ia memperlakukan teman-temannya seperti budak yang mengharuskan mengikuti kejeniusannya dalam menerima bola, Miya malah sebaliknya. Ia akan memberikan umpan sesuai dengan kemampuan spiker, tapi ketika spiker justru tidak melakukan pukulan terbaiknya, Miya akan ngamuk. Wajar, bukan? Marahnya ini seakan memiliki dasar, rekan satu timnya justru menghargai dirinya alih-alih membenci sepeti apa yang dilakukan kawan-kawan Kageyama ketika SMP.

Satu kata-kata yang membuat saya hormat kepada dirinya, yakni ketika dirinya bicara kepada Hinata dalam chapter 365. “Kami ubah… kumpulan dari kucing-kucing… kami memerlukan waktu untuk mengalahkan tiga monster itu,” dengan senyuman khasnya, terselip sisi optimis walau sebenarnya dirinya paham bahwa kesempatan melawan pemain-pemain hebat kesempatannya hampir mendekati tidak ada.

Empat: Tetsuro Kuroo

Kuroo adalah kapten tim bola voli Tokyo SMA Nekoma. Tim ini memiliki rivalitas khusus dengan Karasuno. Keduanya, dianggap sebagai “pertempuran tong sampah” karena penjabaran khusus antara kucing dan gagak yang sering dijumpai berebut makanan di tong sampah. Bagi Kuroo, tidak peduli ia kalah ketika melawan tim top daerah Kanto, asal ketika melawan Karasuno, kemenangan adalah kewajiban.

Jika keempat tokoh di atas berkonfrontasi langsung dengan Hinata dan Kageyama, maka Kuroo memiliki sisi yang berbeda, yakni provokasi dengan middle-blocker Karasuno, Tsukishima. Baiklah, patut diakui bahwa momen itu benar-benar menyebalkan. Sampai-sampai attitude buruk dan sikap skeptis terhadap voli Tsuki keluar dalam summer training camp. Namun, Kuroo seakan bertanggung jawab atas hal ini. Ia seakan peduli kepada pemain lawan karena ia melihat potensi, tapi Tsuki seakan ogah-ogahan dalam merawat potensinya tersebut.

Teringat betul perkataannya kepada Kenma, setter Nekoma sekaligus teman karibnya, “…bukankah mengasyikkan memiliki lawan yang sulit dikalahkan?” Rasanya mak nyess mendengar kata-kata ini. Bagaimana tidak? Ketika kebanyakan orang berlomba-lomba untuk saling mengalahkan, Kuroo justru memberi tahu sahabatnya ini bahwa hal itu kurang keren. Kemenangan dari lawan yang lebih lemah itu nggak enak, tapi menang melawan tim yang sulit dikalahkan adalah puncak kenikmatan dalam olahraga.

Lima: Kenma Kozume

Seperti yang disebutkan, Kenma ini karibnya Kuroo. Memiliki fisik yang lebih lemah dari pemain voli pada umumnya, dirinya dijebak oleh Kuroo untuk bermain voli. Ketika waktu kecil dihabiskan untuk bermain video game di kamar, Kuroo seakan menyeret Kenma untuk keluar dan memaknai persaingan dalam bola voli lebih menegangkan ketimbang menyelesaikan stage terakhir sebuah game. Barangkali jadinya dijebak yang enak, Kenma pun memutuskan untuk menekuni voli bersama karibnya yang satu ini.

Baca Juga:  Sebelum "Marriage Story", Ada "The Wife" yang Cerita Soal Perempuan dan Rumitnya Pernikahan

Memang susah membenci Kenma. Selain perwatakan yang lucu dan marah-marahnya yang kadang membuat gemas, ia adalah sahabat dari Hinata. Jika Kuroo yang menjebak Kenma untuk keluar kamar dan meninggalkan konsol video game, Hinata yang menyeretnya untuk membuka mata bahwa voli juga harus melibatkan rasa ingin menang. Tidak hanya sekadar main, mengumpan, tapi juga harus melibatkan perasaan. Apa bisa membenci antagonis yang justru di-push oleh tokoh protagonis?

Memang sih, antagonis itu pada dasarnya jahat, tapi dalam manga Haikyuu! kalian harus legawa bahwa antagonis adalah tokoh yang kontra dengan tokoh utama. Laiknya Jun Misugi yang nggak antagonis-antagonis amat, dilabeli antagonis karena melawan tokoh utama, Tsubasa Ozora. Kenma bahkan menunjukan ketidakmampuannya menjadi antagonis yang sebagaimana mestinya—memiliki maksud jahat, mengerjai protagonis, dan lainnya. Kenma menghadirkan suatu babak bahwa antagonis yang menggemaskan kadang diperlukan. Ia berkata, “Lapangan voli itu terlalu luas, itu yang menyebabkan aku tidak memotong rambut panjangku.”

Enam: Kotaro Bokuto

Satu pertanyaan terhadap Bokuto, bagaimana cara membenci antagonis yang satu ini?

Ia adalah salah satu ace terbaik bersama dengan Ushijima. Ia adalah kapten sekaligus ace di tim Fukurodani Academy. Berpenampilan enerjik, menyenangkan, kuat, dan pemberani. Yang menyebabkan dirinya kalah adalah dirinya sendiri karena mood swing parah tentang kemampuannya bermain voli. Bokuto juga secara terselubung adalah mentor bagi Hinata. Selain mengajarkan bagaimana cara melakukan block-out dalam dunia voli, ia juga mengajarkan kepada Hinata bagaimana cara menjadi ace yang keren.

Tingkahnya ini out off the box, kadang melakukan hal-hal yang sulit dijelaskan dalam nalar. Ia ingin terlihat keren, tapi jatuhnya malah lucu. Kata teman-temannya, Bokuto memiliki dua fase. Pertama, ia selalu menunjukkan 100% dalam hidupnya, baik hanya untuk bernapas sekalipun. Kedua, 0% ketika tertidur dan mood swing-nya kumat. Memang sih, Bokuto ini belum pernah melawan Karasuno dalam kompetisi resmi. Namun, ia sempat menjadi lawan sengit Karasuno dalam summer training camp di Tokyo. Jadi, bolehkan menyebutnya sebagai antagonis?

Well, manga Haikyuu! memang memiliki sejumlah antagonis lain yang belum saya sebutkan dalam daftar. Pun, kebanyakan dari mereka malah memiliki sisi yang bikin respek dan selalu muncul di akhir. Sebagaimana penjelasan KBBI tentang apa itu antagonis; tokoh dalam karya sastra yang merupakan penentang dari tokoh utama; tokoh lawan, merujuk pada suatu sifat yang tidak melulu seperti antagonis yang tersaji dalam sinetron Indonesia. Haikyuu! memberikan satu tahapan baru dalam dunia manga jejepangan, bahwa keseruan tidak selalu dimunculkan penumpasan kejahatan. Sebaliknya, ambisi yang saling tumpang tindih, desakan bakat bawaan dan perjuangan keras, terkadang lebih ngena atas apa yang sering kita alami dalam kehidupan nyata. Bagaimana menurutmu, Haikyuu! fans?

BACA JUGA Panduan Melawan Rasa Penasaran yang Menyiksa Saat Serial Manga Favorit Anda Ditunda Tayang atau tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
42


Komentar

Comments are closed.