Alasan Tidak Penting Mengapa Ujian Nasional Sebaiknya Jangan Dihapus

Featured

M. Farid Hermawan

Ribut-ribut soal penghapusan Ujian Nasional belakangan ini ramai diperdebatkan. Tentu seperti biasanya, ada kubu yang pro dan ada kubu yang kontra. Semua punya argumen masing-masing terkait isu penghapusan atau penggantian Ujian Nasional di tahun 2021. Sebagai manusia yang juga pernah merasakan situasi UN, saya tentu mengikuti berita, artikel, hingga berbagai pendapat banyak orang terkait penghapusan UN.

Saya melihat kebijakan Pak Menteri Pendidikan yang baru ini memang mengundang senyum di kalangan siswa dan siswi. Namun juga mengundang cemberut bagi golongan tua. Ketika banyak orang saling adu argumen menyoal perlu atau tidaknya Ujian Nasional dihapus. Ketika banyak orang mulai berpikiran negatif bahwa sistem pengganti UN cuma sebuah make-up yang pada dasarnya hanya mengubah sedikit wajah si Ujian Nasional ini.

Saya sebagai orang yang pernah merasakan Ujian Nasional itu sendiri sebenarnya merasa kecewa kenapa ia harus dihapus. Padahal banyak pengalaman menarik dan seru menjelang UN. Ujian Nasional sebenarnya tidak melulu menimbulkan mudarat, ada maslahatnya, kok. Apa saja maslahatnya? Ini jawabannya~

Momen Mendekatkan Diri Kepada Tuhan Yang Maha Esa

Kata siapa Ujian Nasional cuma tentang mudarat? Coba kalian yang pernah ikut UN, ingat-ingat kembali. Waktu mau UN dulu pasti kalian pernah melakukan kegiatan wajib ini. Benar, salat hajat. Momen UN membuat seluruh siswa di Indonesia kembali ke jalan yang lurus dan benar secara instan. Semua mengucap doa-doa dengan khusyuk diiringi dengan lantunan ayat suci. Momen yang sangat penting dan spesial ketika musim UN datang ini sudah menjadi budaya yang mengakar ketika menjelang UN.

Bayangkan jika UN dihapus, momen seperti ini akan mulai pudar. Mungkin kelak salat hajat nasional yang dilakukan para siswa dan siswi menjelang ujian nasional menjadi pemandangan yang sangat langka untuk disaksikan. Sayang, kan. Ini nambah pahala, lho. Apalagi selain salat hajat, siswa dan siswi jadi lebih rajin salat wajib, dhuha, dan salat malam. Ujian Nasional bisa jadi pemantik untuk kembali ke jalan yang benar.

Baca Juga:  Sistem Ujian di Sekolah yang Ada di Australia dan Jerman

Lebih Mencintai Orang Tua

Ini momen yang cukup menarik. Ketika Ujian Nasional menjadi wadah untuk para siswa kembali menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Biasanya nakal dan sering ngeyel sama orang tua, eh tiba-tiba minum air basuhan kaki orang tuanya. Yak, UN punya tuah yang ampuh untuk membuat siswa dan siswi di Indonesia menjadi baik mendadak. Biasanya sama orang tua cium tangan lupa. Saat mau UN tiba-tiba nangis sesenggukan di pangkuan ibu dan bapak. Di momen apa hal itu terjadi? Ujian nasional! Jadi buat Pak Menteri Pendidikan, tolong UN jangan dihapus.

Tiba-Tiba Sadar Akan Kemampuan Diri Sendiri dan Meningkatkan Semangat Hidup

Angkat tangan kalian yang saat menjelang Ujian Nasional mendapat motivasi yang bikin kalian sadar akan kemampuan diri kalian. Bikin kalian nangis sendiri ketika sang motivator membuat kalian mengingat kesalahan-kesalahan kalian di masa lalu. Hingga kalian dibuat sadar bahwa kalian adalah manusia yang beruntung dan memiliki banyak potensi. UN membuat siswa dan siswi di Indonesia percaya diri dalam sekejap. Lengkingan suara motivator yang memotivasi siswa dan siswi yang beberapa hari lagi mau UN seolah menjadi hal lumrah untuk disaksikan. Coba kalau UN dihapus. Lagu-lagu sedih yang disetel motivator untuk mengeluarkan air mata siswa dan siswi mungkin jadi hal yang jarang ditemui. Sangat disayangkan.

Padahal dulu saya sempat mendapatkan manfaat ketika motivator menyuruh saya menutup mata lalu menyebutkan kalimat-kalimat sedih tentang orang tua. Di usia remaja yang biasanya saya jarang nangis, akhirnya dibuat menangis saking sedihnya mendengar lagu yang diputar sang motivator sambil diiringi ucapan, “Bagaimana ketika ibumu sakit, bagaimana ketika ayahmu kesulitan mencari sesuap nasi di luar sana, Nak.” Selain itu, menjelang Ujian Nasional semangat hidup saya meningkat. Tapi pas saat itu aja. Waktu hari-H UN, ya tetap, saya keringat dingin. Ujian Nasional memang dabest, jadi jangan dihapus, dong.

Baca Juga:  Alasan Saya Menulis 248 Tulisan dan Mengirim Lebih dari 1 Naskah per Hari di Terminal Mojok

Mematikan Ladang Usaha para Penjual Kunci Jawaban Ujian Nasional

Waini, penghapusan Ujian Nasional mungkin membuat para penjual kunci jawaban tidak punya pemasukan lagi. UN yang biasanya membuat para penjual ini meraup banyak untung, kok tiba-tiba dimatikan ladang usahanya. Janganlah. Kasihan para penjual kunci jawaban ini. Susah payah buka bisnis. Susah-susah nawarin ke para siswa dan siswi yang membutuhkan. Eh, tahun 2021 bisnisnya mau di-stop. Kasihanilah mereka-mereka ini Pak Menteri Pendidikan. Bisnis mereka bisa terganggu.

Ketika berbicara saya masuk kubu yang pro atau yang kontra terkait penghapusan Ujian Nasional. Sejak dahulu saya selalu ingin agar UN dihapuskan. Tapi ketika saya pikir-pikir lagi. Ternyata kalau UN dihapus, kegiatan-kegiatan di atas pada akhirnya bisa terhapus juga dalam sejarah bangsa ini. Padahal sebenarnya, kegiatan-kegiatan menjelang UNl itu seru abis. Kapan lagi seorang manusia yang biasanya jarang salat, tiba-tiba rajin salat? Kapan lagi seorang manusia yang sering membantah nasihat orang tua secara mendadak berubah jadi orang yang sangat berbakti kepada orang tua? Dan yang terpenting, ketika jumlah pengangguran semakin banyak di Indonesia, Ujian Nasional bisa menjadi pembuka lapangan pekerjaan yang menjanjikan. Contohnya buka bisnis jualan kunci jawaban UN, gitu.

BACA JUGA Sistem Ujian di Sekolah yang Ada di Australia dan Jerman atau tulisan M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
33


Komentar

Comments are closed.