Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Guru Honorer Adalah Calon Penghuni Surga, Lainnya Hanya Sampai Gerbang

Sabrina Mulia Rhamadanty oleh Sabrina Mulia Rhamadanty
14 Oktober 2019
A A
guru honorer

guru honorer

Share on FacebookShare on Twitter

Saya ingat dulu di Sekolah Menengah Atas saya punya seorang guru honorer. Beliau mengajar mata pelajaran yang paling saya benci, Matematika. Tapi karena si Bapak baik, ya saya menghargai beliau mengajar walaupun otak saya tidak pernah mau bekerja kalau sudah melihat angka, apalagi angka campur huruf (Aljabar). Sorenya beliau melanjutkan mengajar di tempat bimbel, saya kebetulan mengambil tambahan di tempat beliau mengajar juga. Kalau dihitung-hitung jam kerja si Bapak sudah 13 jam (7 pagi – 8 malam). Pernah suatu ketika di tempat bimbel saya dan salah satu teman saya meminta jam tambahan kemudian beliau yang mengajari kami. Tapi beliau tampak tidak fokus menjelaskan, terlihat lelah. Teman saya yang kebetulan satu SMA itu bertanya, “Pak, nggak capek apa ngajar dobel gini?” Jawaban beliau ya tidak lain tidak bukan karena alasan ekonomi. Mengajar sebagai guru honorer tidak akan mencukupi kebutuhan beliau sampai kapanpun, jadi memang harus cari seseran.

Ingatan ini kembali terputar di kepala saya ketika Bapak Muhadjir Effendi berkata dalam acara peringatan hari guru Internasional, beliau bilang.

“Saya ‘agak’ yakin bahwa orang yang pertama masuk surga itu adalah guru. Kalau sekarang gajinya sedikit, apalagi kalau honorer (gajinya) seratus lima puluh ribu. Nikmati saja, nanti masuk surga.”

Setidaknya itu adalah sebuah kalimat menenangkan hati dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Muhadjir Effendi tanggal 10 kemarin ketika ditanya mengenai gaji kecil guru honorer.

Pernyataan ini adalah salah satu pernyataan yang paling menenangkan untuk para pencari kerja. Karena jawaban dari kalimat “muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga” adalah suatu hal yang hampir mustahil setidaknya diakhir cerita kita tahu bahwa ada kemungkinan ketika kita mengambil guru spesialisasi honorer sebagai pekerjaan kita bisa mati masuk surga walaupun tidak bisa foya-foya dan kaya raya.

Tapi nampaknya masalah surga adalah masalah yang sensitif, pasalnya Bapak Muhadjir masih menambahkan kata “agak” di depan kalimat beliau. Ini patut dipertanyakan, seperti kata-kata mantan yang berjanji mencintai sehidup semati tapi ditambah kata “agak” akhirnya tidak jadi sehidup tapi mungkin jadi bisa semati.

Urusan masuk surga atau masuk neraka sejatinya menurut saya sama polanya dengan masuk kerja. Ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh guru-guru honorer ini agar bisa masuk surga. kriteria dalam memenuhi amal jariyah tidak perlu dilakukan lagi, yang jadi masalah sekarang adalah pemenuhan kriteria dalam berjibaku mengatur keuangan dengan gaji 150.000 ribu per bulan di dunia kapitalis yang kejam ini. Tidak semua orang bisa tahan.

Bayangkan, jika seorang guru calon penghuni surga ini memiliki setidaknya dua anak dan satu istri berarti ada empat orang dalam rumah tangga itu yang harus dinafkahi. Uang 150 ribu dibagi empat sama dengan 37,5 ribu rupiah kemudian harus dibagi lagi dengan 30 hari menjadi 1,25 ribu rupiah. Harga gorengan masa kini saja paling murah 1.000 rupiah, jadi satu hari satu anggota keluarga makan seharga 1 seperempat potong gorengan. Kalau di Sunda terdapat jenis gorengan yang mirip dengan bakwan tapi lebih hemat bahan baku soalnya dibentuk bulat-bulat kecil jadi tidak terlalu banyak menggunakan tepung dan bahan-bahan lainnya, namanya bala-bala, sekali “hap” ke mulut langsung hilang, sama seperti besar gaji guru honorer.

Baca Juga:

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

PPG dan Dapodik, Kombo Maut Penentu Nasib Guru Honorer yang Meresahkan dan Menakutkan 

Surga mungkin adalah tujuan utama dari orang beragama dan beriman terhadap tuhannya. Tapi tidak seorangpun dapat menjamin bahwa sebuah profesi dapat masuk surga. kriteria untuk bertahan hidup dengan 150 ribu per bulan nampaknya terasa sangat menyiksa di saat sekarang. Sekarang kalau misalnya saya balik pernyataan Bapak Kemendikbud, karena Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan adalah kementrian yang mengatur calon-calon penghuni surga (dalam kasus ini guru honorer) ya seharusnya tidak apa-apa kalau gajinya lebih murah dari guru honorer yang diaturnya, atau sekalian tidak usah digaji.

Seorang guru memiliki amal jariyah kepada setiap murid yang diajarnya, apalagi kementrian yang mengurus sumber-sumber amal jariyah itu. Pasti lebih banyak amalnya. Kalau saya ditanya wartawan mengenai gaji guru honorer sekarang saya akan menjawab, “saya ‘agak’ yakin bahwa orang yang pertama masuk surga itu yang bekerja di Kemendikbud, karena merekalah yang mengurus calon-calon penghuni surga. Kalau sekarang gajinya lebih besar dari para guru yang diaturnya, apalagi sampai jutaan rupiah mungkin lebih baik tidak usah digaji. Nikmati saja, nanti masuk surga.”

Lalu mungkin ada pegawai Kemendikbud yang misuh-misuh atau mungkin Menterinya, karena tidak ada uang makan, uang transport tunjangan atau yang lain-lain. Anak-anak mereka butuh makan tapi makan tidak bisa dibeli dengan amal jariyah kemudian cicilan mobil mereka tidak bisa dibayar, cicilan rumah tingkat tiga mereka tidak bisa dilunasi kemudian disita oleh bank.

Kemudian kalau ada kesempatan bertemu saya akan menepuk pundak Pak Muhadjir dengan pelan sambil tersenyum, saya akan berkata, “nikmati saja, nanti masuk surga.” (*)

BACA JUGA Menjadi Seorang Guru TK atau tulisan Sabrina Mulia Rhamadanty lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2019 oleh

Tags: Guru Honorermenteri pendidikanMuhadjir Effendipenghuni surga
Sabrina Mulia Rhamadanty

Sabrina Mulia Rhamadanty

ArtikelTerkait

guru kampung

Surat Cinta Dari Guru Honorer di Kampung: Hadiah Spesial Untuk Bapak Jokowi

21 Juni 2019
Guru Honorer Minggat, Digusur Negara dan Guru P3K (Unsplash) dapodik

Guru Honorer Newbie di Sekolah Negeri Siap-Siap Mampus dan Minggat. Serbuan P3K Sudah Menanti di Tahun Ajaran Baru

26 April 2024
Siluman Dapodik, Sebuah Upaya Curang agar Bisa Lolos PPG Guru Tertentu yang Muncul karena Sistem Pengawasan Lemah guru honorer ppg

PPG dan Dapodik, Kombo Maut Penentu Nasib Guru Honorer yang Meresahkan dan Menakutkan 

21 Januari 2026
Bajingan! Gaji Guru Honorer Jauh di Bawah Tukang Parkir Liar! (Unsplash) finlandia sekolah swasta

Normalisasi Upah Rendah sebagai Jalan Terjal Karier Guru Honorer Adalah Sesat Pikir yang Dibangga-banggakan

13 Agustus 2024
fresh graduate

Galaunya Fresh Graduate Sarjana Pendidikan: Gaji Idealis vs Gaji Realis

13 Agustus 2019
Bajingan! Gaji Guru Honorer Jauh di Bawah Tukang Parkir Liar! (Unsplash) finlandia sekolah swasta

Bagaimana Bisa Gaji Guru Honorer Jauh Lebih Rendah dari Tukang Parkir Liar? Mau Mencerdaskan Kehidupan Bangsa kok Harus Sengsara

2 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026
Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas” Terminal

Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas”

11 Mei 2026
Wahai BKN dan Panitia CPNS, Percuma Ada Masa Sanggah CPNS kalau Tidak Transparan! soal TWK daftar cpns pppk pns cat asn

Terima Kasih untuk Siapa pun yang Mencetuskan dan Melaksanakan Ide CAT CPNS, Tes yang Tak Pandang Bulu, Tak Pandang Siapa Dirimu

13 Mei 2026
Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

14 Mei 2026
Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Pernah Menyetir Mobil Adalah Red Flag Sesungguhnya di Jalan Raya Mojok.co

Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Paham Logika Nyetir Mobil Lebih Red Flag di Jalan Raya

14 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.