Sistem Ujian di Sekolah yang Ada di Australia dan Jerman

Sekolah di sana mengutamakan proses belajar di kelas. Proses belajarnya menyenangkan dan menumbuhkan minat. Tidak ada ujian, jika ada, itu pun tidak signifikan.

Featured

Ade Kumalasari

Kemarin (11/12/2019) Ujian Nasional (UN) resmi dihapus oleh Mas Menteri Nadiem Makarim. Tahun ini merupakan tahun terakhir pelaksanaan UN. Ada banyak reaksi terhadap kebijakan tersebut.

Banyak yang setuju, seperti aku (Yay!), ada pula yang nggak setuju dengan berbagai alasannya. Tapi sebagian reaksi adalah bingung, terus gimana nanti kalau nggak ada ujian? Anak-anak nggak akan punya motivasi belajar, orang tua tidak akan tahu kompetensi anaknya, dll.

Tentang hakikat ini, sila baca tulisan tentang Ujian Nasional dan Hakikat Pendidikan yang dibikin Mas Doktor @ninoaditomo aja. Aku ora nyandak 😉

Aku cuma ingin berbagi pengalaman anak-anak kami yang pernah dan sedang menempuh pendidikan dasar dan menengah di Australia dan Jerman. Big A pernah sekolah di Marrickville West Primary School (kindergarten – kelas 1) dan Hampden Park Public School (kelas 2 – 5), Sydney Australia.

Sementara itu Lil A lulusan Grundschule IGS Eschersheim (SD) dan sekarang kelas 5 di Gymnasium (sekolah menengah) di Frankfurt, negara bagian Hessen, Jerman.

Sekolah dasar di negara bagian Hessen cuma sampai kelas 4. Aku pernah menulis bagaimana aku terbengong-bengong ketika di hari terakhir Lil A sekolah di Grundschule, nggak ada apa-apa. Maksudku, nggak ada perayaan wisuda, pentas seni akhir tahun ajaran, atau orang tua mengambil rapor.

Nggak ada ijazah SD. Lha gimana, wong ujiannya juga nggak ada! Serius, nggak ada ujian akhir sekolah. Anak-anak melanjutkan ke sekolah menengah dengan sistem zonasi, berdasar rekomendasi dari guru kelas.

Lain lagi dengan SD di Australia. Ada semacam ujian nasional yang disebut NAPLAN. Tapi ujian ini tidak diadakan di akhir jenjang sekolah. NAPLAN diujikan untuk siswa kelas 3 dan kelas 5 di SD, dan siswa kelas 7 dan 9 di Sekolah Menengah.

Tujuan dari ujian ini untuk pemetaan kualitas sekolah di NSW, jadi bukan untuk mengukur kemampuan siswa. Sama sekali bukan untuk ujian kelulusan siswa. Kemarin aku tanya ke Big A yang sempat ikut NAPLAN kelas 3 dan kelas 5, untuk menyegarkan ingatan.

Dia bilang, ujiannya hanya matematika, comprehension (membaca), dan writing (menulis). Tidak ada tekanan yang besar, baik dari guru maupun orang tua untuk ujian ini. Anak-anak hanya dilatih sebentar untuk mengisi lembar jawab komputer, karena mereka tidak pernah mengerjakan soal-soal pilihan ganda.

Baca Juga:  Resep Dalgona Coffee, Kopi Viral Buah Karya Orang yang Bosen Swakarantina

Selebihnya, kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti biasa. Hasil NAPLAN tidak dibuka untuk umum. Orang tua mendapatkan hasil pengerjaan anaknya, dengan skor dan pembahasan soal per butir, dan juga posisi skor anak dibandingkan skor rata-rata di negara bagian.

Tidak ada ranking kelas. Sekolah yang mempunyai skor NAPLAN rendah diberi bantuan lebih banyak oleh pemerintah, untuk meningkatkan performa mereka.

Tapi NAPLAN ini pernah membuat heboh satu negara ketika tiba-tiba pemerintah membuka hasilnya. Dan kemudian surat kabar meranking sekolah-sekolah hanya berdasarkan performa akhir murid-murid mereka di NAPLAN. Hmm… sounds familiar?

Di assembly di sekolah Big A, Kepsek berpidato menentang keras tindakan pemerintah. “Sungguh tidak adil ketika performa kami hanya diukur dari hasil belajar siswa, dan terutama ketika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain yang input siswanya dari kelompok sosial ekonomi yang berbeda.”

Sekolah Big A ini di suburb di Sydney yang mayoritas penduduknya adalah imigran dari negeri muslim. Australia juga menganut sistem zonasi, jadi ‘prestasi’ sekolah biasanya juga tergantung pada faktor sosial ekonomi siswa di lingkungan tersebut.

Kalian bisa bayangkan, pidato dari kepsek Big A tadi mungkin akan sama dengan pidato kepsek dari SD terpencil di Indonesia, yang dipaksa untuk berprestasi sama dengan sekolah-sekolah di Jawa. Semoga obsesi ranking-ranking-an yang merusak ini bisa ditinggalkan.

Yang paling penting adalah bagaimana membantu guru dan sekolah untuk meningkatkan performa mereka. Tentu ada yang perlu bantuan yang lebih besar daripada yang lain, karena adil belum tentu bantuan dalam bentuk yang sama.

Kembali ke soal ujian, apakah anak-anak tidak semangat belajar kalau tidak ada ujian? Sepengamatanku, kasus seperti ini tidak terjadi pada anak-anakku. Sekolah di luar negeri mengutamakan proses belajar di kelas daripada hasil ujian.

Mereka sehari-hari ya belajar di kelas, karena proses belajarnya menyenangkan dan menumbuhkan minat mereka. Mereka tidak belajar hanya ketika ujian. Nggak seperti generasi orang tuanya yang pakai Sistem Kebut Semalam untuk ujian, hayo loh, ngaku aja :p

Baca Juga:  Melihat Bagaimana Sinetron Indonesia Mencekoki Kita dengan Budaya Patriarki

Lalu bagaimana kita bisa tahu kompetensi anak? Tentu saja dari laporan guru. Raport tiap semester berisi laporan apa saja yang sudah dipelajari anak, dan bagaimana kemampuan anak di bidang tersebut. Nggak ada ranking, karena yang lebih penting dari ranking adalah kemajuan anak secara individu.

Guru-guru di sekolah Lil A & Big A di Luar Negeri bisa menulis raport yang bermakna karena mereka bisa mengamati anak didik mereka secara individual (jumlah anak per kelas tidak begitu banyak) dan beban kurikulum tidak begitu berat. Dan terutama karena beban administrasinya tidak mencekik guru dan menjauhkan mereka dari tujuan utama pekerjaannya: mendidik siswa..

Jadi kurasa, arah kebijakan Mas Menteri sudah benar, tentang penghapusan UN dan USBN, perbaikan sistem zonasi, dan penyederhanaan RPP. Sekarang tinggal memberi resources sebanyak-banyaknya untuk guru dan sekolah untuk mengembalikan tujuan pendidikan, sesuai hakikatnya.

Aku kutipkan tulisan Nino aja ya, menurutnya ada 2 hakikat tujuan sekolah. (1) Kemampuan untuk belajar sepanjang hayat. Ini mencakup kecakapan untuk mendeteksi keterbatasan pengetahuan diri sendiri, untuk mencari dan mensintesis informasi baru, dan untuk memotivasi diri untuk melakukannya.

(2) Terkait dengan nilai-nilai intelektual seperti apresiasi akan ilmu, penghargaan akan proses merumuskan pertanyaan dan mencari jawaban secara sistematis, kekaguman terhadap buah pemikiran cerdik cendekia kontemporer atau pun yang hidup di masa lalu, kepuasan yang spontan terasa ketika mata batin terbuka untuk memahami hal baru.

Whoah, nggak pengen kah kalian menuju ke sana? Jalan masih panjang, tapi arah nakhkoda kurasa sudah benar.

BACA JUGA Berkaca dari Jepang tentang Bagaimana Pendidikan Karakter Dilakukan atau tulisan Ade Kumalasari lainnya. Follow Twitter Ade Kumalasari.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
17


Komentar

Comments are closed.