Alasan Saya Menyukai Festival Film yang Diselenggarakan secara Daring – Terminal Mojok

Alasan Saya Menyukai Festival Film yang Diselenggarakan secara Daring

Artikel

Muhammad Ikhsan Firdaus

Walau dilanda pandemi, nyatanya berbagai kegiatan festival film tetap terus berjalan. Setidaknya mulai dari, Europe on Screen 2020, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, hingga Japanese Film Festival 2020, tetap diselenggarakan.

Berbicara tentang festival film, saya pernah memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan. Padahal saya sangat suka menonton film, setidaknya seminggu bisa dua atau tiga film saya tonton. Namun, film yang saya suka kebanyakan film populer yang biasa diputar di bioskop. Hampir tidak pernah saya menonton film art house atau film indie, yang biasa diputar di suatu festival.

Pengalaman buruk tersebut terjadi sekitar tahun 2017. Bermula dari keinginan saya untuk merasakan sensasi festival film. Kebetulan, festival tersebut memang rutin diselenggarakan tiap tahunnya, juga lokasi pemutaran film tersebut dapat dikatakan masih dekat dengan tempat tinggal saya. Maka dari itu, saya putuskan untuk mencoba berkunjung ke festival tersebut.

Kesalahan pertama saya adalah, saya tidak mencari tahu terlebih dahulu film apa saja yang diputar pada festival tersebut. Padahal, setiap film yang diputar pada suatu festival, umumnya memiliki tema khusus, dan pastinya juga memiliki begitu banyak perbedaan dengan film yang biasa diputar di bioskop, atau platform streaming populer.

Saat tiba di lokasi pemutaran, saya langsung mencari tiket untuk menonton dan mendapatkannya. Saya baru tahu, ternyata ada peraturan di situ yang melarang para penonton untuk makan dan minum di ruang pemutaran film. Seharusnya, hanya menahan untuk tidak ngemil bukanlah suatu masalah bagi saya. Tidak berselang lama, akhirnya saya masuk juga ke studio pemutaran film.

Dua puluh menit film berjalan, sepertinya ada yang salah dari film yang saya tonton. Kebetulan, film yang saya tonton saat itu memang tidak cocok dengan selera saya. Saya lupa dengan judul film yang saya tonton saat itu, tapi yang jelas itu adalah film drama dengan alur yang sangat lamban.

Selain tidak sesuai dengan selera, saya juga tidak mengerti cerita dari film tersebut. Di dalam studio, saya benar-benar merasa bosan, ditambah lagi saya tidak boleh ngemil, atau main ponsel, ingin rasanya untuk cepat-cepat keluar dari studio. Akan tetapi, saat itu saya merasa malu, sekaligus gengsi untuk meninggalkan studio. Selain itu, saya juga takut kalau saja nanti malah mendapatkan komentar bahwa saya tidak menghargai penyelenggara festival film tersebut. Akhirnya, saya memilih hanya duduk diam di studio sekitar 100 menit lebih. Setelah film selesai rasanya lega sekali, saya merasa bebas.

Pengalaman tersebut membuat saya lebih berhati-hati memilih film yang diputar di suatu festival. Ini juga yang membuat saya, paling hanya datang ke Japanese Film Festival. Lantaran di festival tersebut, umumnya banyak juga film populer Jepang yang diputar. Sebagaimana kita tahu, film populer tentu sudah pasti memiliki berbagai ulasan. Jadi, saya tidak lagi merasa memilih kucing dalam karung.

Hal ini juga yang membuat saya cukup menikmati festival yang dilaksanakan secara daring. Berbagai macam festival film yang diselenggarakan tahun ini dilaksanakan secara daring. Umumnya, penonton akan diarahkan ke suatu website, lalu penonton akan memilih film yang ingin ditonton, setelah itu barulah membayar dengan jumlah tertentu. Berikut beberapa alasan saya lebih senang menikmati festival film secara daring.

#1 Bebas dari segala macam aturan

Alasan saya menyukai festival film yang diselenggarakan secara daring, yakni saya bisa menonton sambil melakukan kegiatan lainnya. Mungkin film yang saya tonton tidak seru, tapi walau tidak seru mungkin saja saya masih penasaran akan cerita film tersebut. Maka, saya masih bisa menonton film tersebut sambil makan, minum, main ponsel, atau bahkan sambil nyetrika.

Hal ini bisa terjadi, karena saat menonton daring saya melakukannya di rumah saya sendiri, bukan di studio. Jadi, ya tidak ada peraturan yang bisa melarang saya untuk melakukan kegiatan apa pun selama film diputar. Intinya, selama menonton dari website resmi dan tidak membajak, maka sudah cukup.

#2 Tidak rugi banyak

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saat mengunjungi suatu festival film akan ada rasa tidak enak untuk keluar studio ketika film masih berjalan. Ini terjadi, karena status dari festival itu sendiri umumnya dilaksanakan untuk mendapatkan sensasi menonton yang lebih. Jadi kalau tidak suka dengan film yang diputar, secara terpaksa harus ditahan-tahan hingga film berakhir.

Berbeda dengan menonton film melalui daring. Kalau memang tidak suka dengan film yang diputar, saya bisa menutup browser saya, tidak perlu lagi melanjutkannya. Saya bisa mencari film lainnya atau melakukan kegiatan lain. Paling, saya hanya rugi uang untuk menonton film, tapi tidak rugi waktu karena harus melakukan hal yang tidak disukai.

#3 Jadwal lebih luwes

Festival film biasanya bukan hanya dilaksanakan pada akhir pekan, tapi juga berjalan saat tengah pekan. Menonton saat tengah pekan, tentu saja rawan akan jadwal yang bentrok. Ada saja, jadwal yang tak terduga yang bisa didapatkan saat tengah pekan, entah itu meeting mendadak, ada kerumunan massa, atau sesederhana transportasi umum yang digunakan mengalami kerusakan. Kalau begitu pilihannya, bisa saja tetap menonton film tersebut meskipun telat, atau tidak menontonnya sama sekali.

Sedangkan festival yang dilakukan secara daring tentu memiliki jadwal yang lebih luwes. Beberapa festival ada yang membuat film kurasinya dapat terus disaksikan selama 24 jam ke depan, atau ada yang bisa terus disaksikan hingga beberapa hari setelahnya. Jadi, tidak ada lagi masalah untuk hadirnya jadwal yang berantakan.

Ya sudah, itu saja alasan mengapa saya menikmati festival film yang diadakan secara daring. Akan tetapi, walau banyak kelebihannya, menonton secara daring, tentu tidak akan bisa menggantikan sensasi secara luring. Apalagi kalau sudah berbicara mengenai sound dan layar yang lebar. Betul, tidak?

BACA JUGA Daripada Nonton Bokep, Mending Nonton Serial Watchmen dan tulisan Muhammad Ikhsan Firdaus lainnya.

Baca Juga:  Ospek Marah-marah Nggak Jelas ke Mahasiswa Baru Itu Udah Nggak Zaman
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
1


Komentar

Comments are closed.