Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Alasan Saya Memilih Tugas Akhir Skripsi meski Pilihan Lain Terlihat Lebih “Waras”

Raihan Muhammad oleh Raihan Muhammad
22 Maret 2026
A A
7 Kesalahan Kecil dalam Pengerjaan Skripsi yang Sering Bikin Mahasiswa Dapat Banyak Revisi, Baca Baik-baik biar Nggak Makin Stres

7 Kesalahan Kecil dalam Pengerjaan Skripsi yang Sering Bikin Mahasiswa Dapat Banyak Revisi, Baca Baik-baik biar Nggak Makin Stres (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau jadi mahasiswa tingkat akhir hari ini, rasanya hidup agak “dimanjakan”. Pilihan tugas akhir tidak lagi cuma skripsi yang tebal dan penuh revisi, tapi juga proyek, prototipe, sampai publikasi ilmiah.

Bahkan, ada yang sudah membayangkan lulus dengan artikel jurnal atau book chapter—yang selain terdengar keren, pun bisa langsung dipajang di CV tanpa perlu banyak basa-basi. Intinya, jalan menuju wisuda sekarang tidak lagi satu arah, tapi bercabang seperti jalan tikus di perumahan.

Belakangan, fleksibilitas itu memang dilegalkan lewat kebijakan. Dalam Permendikti Nomor 39 Tahun 2025, khususnya Pasal 18 ayat (9), program studi cukup memastikan kompetensi lulusan tercapai—entah lewat skripsi, proyek, prototipe, publikasi ilmiah, seperti artikel jurnal dan book chapter, atau bahkan lewat kurikulum berbasis proyek dengan asesmen tertentu. Di level kampus, aturan ini biasanya diterjemahkan lagi lewat peraturan rektor. Ujung-ujungnya mahasiswa diberi pilihan: mau skripsi, proyek, prototipe, atau publikasi.

Tapi, sebelum ada yang tersinggung duluan, saya perlu kasih disclaimer. Tulisan ini sejatinya bukan mau adu domba mana yang paling bagus atau paling layak. Saya percaya tiap opsi punya ‘medan tempurnya’ sendiri, dan bagi saya, skripsi jelas bukan untuk semua orang.

Hanya saja, di tengah banyaknya pilihan yang terlihat lebih “waras”—terutama yang bisa cepat selesai dan terlihat lebih ‘praktis’—saya justru memilih skripsi. Bukan karena paling keren, tapi mungkin karena saya cukup keras kepala untuk menikmati proses yang tidak selalu cepat selesai.

Skripsi dan keinginan meninggalkan jejak yang tidak sekadar lulus

Kalau jujur, salah satu alasan paling personal saya memilih skripsi adalah soal “legacy”. Ya, meski terdengar agak sok serius untuk ukuran mahasiswa S-1.

Di tengah banyaknya opsi yang serba cepat dan praktis, saya merasa skripsi memberi ruang untuk meninggalkan sesuatu yang lebih dari sekadar tanda centang “lulus”. Bukan cuma output, tapi jejak berpikir yang bisa ditelusuri, diperdebatkan, bahkan—kalau beruntung—dibaca orang lain yang benar-benar peduli.

Proyek bisa selesai, prototipe bisa jadi, artikel jurnal ataupun book chapter bisa terbit. Tapi, skripsi, dengan segala kepanjangannya, memaksa saya untuk duduk lebih lama dengan satu persoalan.

Baca Juga:

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

Pengakuan Joki Skripsi di Jogja: Kami Adalah Pelacur Intelektual yang Menyelamatkan Mahasiswa Kaya tapi Malas, Sambil Mentertawakan Sistem Pendidikan yang Bobrok

Blio tidak memberi jalan pintas. Mau tidak mau, saya harus paham betul apa yang saya tulis, bukan sekadar merakit sesuatu yang “berfungsi” lalu selesai. Ada proses bergulat dengan ide, revisi yang kadang terasa tidak ada ujungnya, dan momen ketika saya sadar bahwa berpikir itu ternyata melelahkan—tapi justru di situ letak nilainya.

Saya tidak naif menganggap skripsi pasti lebih bermakna dari pilihan lain. Tidak juga. Tapi, setidaknya, lewat skripsi, saya merasa sedang mencoba meninggalkan sesuatu yang lebih “saya”—bukan sekadar memenuhi standar kelulusan, tapi juga merekam cara saya melihat masalah, menyusun argumen, dan bertahan dalam proses yang panjang.

Kalau nanti skripsi itu cuma berdebu di perpustakaan, ya tidak masalah. Setidaknya, saya pernah benar-benar duduk, berpikir, dan tidak buru-buru selesai.

BACA JUGA: Hal-hal yang Perlu Kalian Lakukan agar Skripsi Kalian Lancar dan Tak Jadi Donatur Abadi Kampus

Skripsi sebagai cara melatih kepala

Selain soal legacy, ada satu alasan yang lebih teknis, tapi justru penting: saya ingin benar-benar belajar penelitian. Bukan cuma tahu istilah “metodologi” atau “rumusan masalah”, tapi paham bagaimana sebuah pengetahuan itu dibangun.

Bagi saya, skripsi memberi ruang untuk itu. Dari mulai merumuskan masalah, menyusun kerangka pikir, mencari data, sampai menarik kesimpulan—semuanya tidak bisa asal jadi.

Saya bilang begini bukan tanpa pengalaman. Beberapa kali saya sudah menulis dan menerbitkan artikel jurnal, bahkan ikut terlibat dalam penulisan book chapter. Dan saya akui, prosesnya memang menantang dan memberi banyak pelajaran. Tapi tetap saja, ada perbedaan rasa.

Publikasi sering kali menuntut kita fokus pada output yang rapi dan siap tayang. Sementara skripsi memaksa kita menikmati prosesnya dari nol—lebih panjang, lebih berantakan, tapi justru di situ letak latihannya.

Rasa-rasanya, saya merasa skripsi seperti “gym” untuk otak. Blio tidak hanya melatih bagaimana menulis, tapi juga bagaimana merumuskan masalah secara mandiri, mempertahankan argumen, dan tidak gampang puas dengan jawaban yang setengah matang. Mungkin hasilnya tidak akan revolusioner, tapi setidaknya saya pernah benar-benar belajar penelitian—bukan sekadar menghasilkan tulisan, tapi memahami cara berpikir di baliknya.

Bentuk perlawanan kecil terhadap budaya serba cepat

Kalau dipikir-pikir, memilih skripsi di tengah banyaknya opsi yang lebih praktis itu rasanya seperti melakukan perlawanan kecil—tidak heroik, tapi cukup sadar arah.

Pada saat banyak hal didorong untuk cepat selesai, cepat lulus, dan cepat terlihat “produktif”, skripsi justru memaksa saya berjalan lebih pelan. Ia tidak ramah dengan budaya instan; pun tidak bisa dikebut tanpa konsekuensi.

Hari ini, rasa-rasanya kita hidup di situasi di mana segala sesuatu diukur dari output: seberapa cepat selesai, seberapa cepat bisa dipamerkan, seberapa cepat bisa dikonversi jadi nilai tambah. Bahkan dalam dunia akademik, logika itu pelan-pelan masuk.

Yang penting jadi, yang penting publish, yang penting selesai. Dalam situasi seperti itu, skripsi terasa agak “melawan arus”. Ia tidak selalu efisien, tapi justru karena itu, ia memberi ruang untuk sesuatu yang sering dilupakan: proses berpikir yang utuh.

Buat saya, memilih skripsi bukan berarti menolak opsi lain. Ini lebih seperti cara untuk tidak sepenuhnya tunduk pada logika ‘instan’ itu. Saya ingin tetap punya ruang untuk belajar pelan, memahami lebih dalam, dan tidak selalu tergesa-gesa menyimpulkan.

Mungkin terdengar sederhana, tapi di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk cepat-cepat selesai, kemampuan untuk berhenti sejenak dan berpikir lebih lama justru terasa seperti bentuk perlawanan yang cukup berarti.

BACA JUGA: Unpopular Opinion: Skripsi Adalah Matkul Favorit Saya Sampai Rela Kuliah 7 Tahun

Penutup

Sebagai penutup, saya rasa perlu saya tegaskan lagi: tulisan ini bukan ajakan. Saya tidak sedang mengampanyekan skripsi, apalagi sampai ingin mengajak orang berbondong-bondong ikut jalan yang sama. Saya pun bukan (seolah) tokoh yang sedang mencari pengikut, bukan siapa-siapa yang layak dijadikan rujukan hidup. Ini murni soal pilihan personal—yang mungkin cocok buat saya, tapi belum tentu relevan untuk orang lain.

Karena sejatinya, setiap orang punya cara masing-masing untuk sampai ke garis akhir. Mau lewat proyek, prototipe, publikasi ilmiah, atau skripsi—rasa-rasanya semuanya sah. Tidak ada yang lebih mulia, tidak ada yang lebih rendah. Tinggal soal kita mau menjalani proses seperti apa, dan sejauh mana kita siap menanggung konsekuensinya.

Kalau saya memilih skripsi, kendati pilihan lain terlihat lebih “waras”, mungkin karena saya melihatnya sebagai satu hal yang semakin langka: kesempatan untuk benar-benar berproses dan berpikir. Pun, di tengah dunia yang serba cepat ini, saya percaya satu hal—skripsi adalah kemewahan terakhir yang dimiliki mahasiswa S1: waktu untuk tidak buru-buru, untuk bingung, dan untuk benar-benar memahami sesuatu sebelum selesai.

Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya Bukan Mahasiswa Pintar, tapi Bisa Menyelesaikan Skripsi dalam 2 Minggu, Sini Saya Kasih Tahu Strateginya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Maret 2026 oleh

Tags: cara menyelesaikan skripsiDosen PembimbingSkripsitugas akhir
Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan. Pemerhati politik dan hukum. Doyan nulis secara satire/sarkas agar tetap waras. Aku menulis, maka aku ada.

ArtikelTerkait

Nggak Bisa Ngerjain Skripsi karena Nggak Punya Laptop? Itu Cuma Pembenaran untuk Malasmu! Buktinya Saya Bisa Ngerjain Skripsi dan Lulus Kuliah Modal HP doang

Nggak Bisa Ngerjain Skripsi karena Nggak Punya Laptop? Itu Cuma Pembenaran untuk Malasmu! Saya Bisa Lulus Kuliah Modal HP doang

14 September 2023
Ada Nama Pacar di Skripsi Itu Nggak Dosa Kok Mojok.Co

Ada Nama Pacar di Skripsi Itu Wajar, kalau Putus Pikir Belakangan

23 Oktober 2023
pesan WhatsApp

Kiat Berbahagia Ketika Pesan WhatsApp Hanya Dibaca Oleh Dosen Pembimbing

28 Agustus 2019
memilih dosen pembimbing

Pembimbing Skripsimu Bilang ACC, Pas Ujian Kamu Dibantai

21 Juni 2019
dosen penguji

Ketahui Tipe Dosen Penguji Skripsi dan Kerja Praktik, Supaya Tidak Dibantai Saat Ujian

4 Agustus 2019
software statistika legal mojok

Software Statistik Legal dan Gratis yang Bisa Digunakan Saat Skripsian

5 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Terbiasa Naik Kereta di Stasiun Tugu Jogja Bikin Saya Kaget dengan Stasiun Lempuyangan yang Chaos Mojok.co

Terbiasa Naik Kereta di Stasiun Tugu Jogja Bikin Saya Kaget dengan Stasiun Lempuyangan yang Chaos

12 April 2026
Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa Mojok.co

Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa

9 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok (Wikimedia Commons)

4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok

11 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM
  • Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung
  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.