Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Alasan Penting Sistem Ranking di Rapor Anak SD Harus Dihapus

Asep Meshuri oleh Asep Meshuri
12 Februari 2020
A A
Alasan Penting Sistem Ranking di Rapor Anak SD Harus Dihapus
Share on FacebookShare on Twitter

Saya kadang berpikir, bagaimana kalau seandainya rapor SD tidak dikasih pemeringkatan (rangking)? Supaya anak-anak dari usia dini, tidak diajarkan untuk saling berkompetisi. Dengan tidak adanya pemeringkatan, anak-anak tidak akan terbebani dalam proses belajar. Tentu mereka juga jangan lalai dan jangan lupa dengan tugas utamanya yaitu belajar.

Kadang kita juga banyak menemui orang tua yang marah pada anaknya karena anaknya tidak masuk sepuluh besar dalam kelasnya. Karena, bagi orang tua, anak bisa dibilang pintar kalau ia masuk peringkat sepuluh besar di kelasnya. Dan hal ini yang membuat para anak terbebani. Ini adalah fenomena yang terjadi di negeri ini.

ADVERTISEMENT

Saya lebih setuju kalau seandainya pemeringkatan itu dihapus. Selain karena sikap orang tua yang menyebabkan para anak terbebani. Hal yang lebih penting lagi, supaya para anak tidak diajarkan untuk saling berkompetisi. Seperti apa yang sudah saya utarakan di atas.

Saya cenderung lebih suka, kalau masa-masa SD, lebih diajarkan ke pendidikan karakter. Misalnya saja, seperti memperbanyak tugas kelompok untuk para siswa dibanding tugas individu. Itu akan membuat para siswa terbiasa melakukan kerja sama. Itu juga bisa membuat para siswa lebih akrab dan saling membantu.

Dengan kita diajarkan berkompetisi dari usia dini, secara tidak langsung itu akan diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita akan saling menjatuhkan teman-teman kita sendiri. Kita lihat saja, seandainya di kantor, yang seharusnya kita bisa bekerja sama malah kita saling menjatuhkan untuk memperoleh simpati atasan kita. Itu akan juga membuat hubungan pertemanan yang semula baik menjadi tidak baik.

Kita juga bisa lihat, ketika ada kegiatan bersih-bersih di kampung kita. Yang seharusnya kita bekerja sama dan saling membantu, supaya cepat selesai. Malah kita dihadapkan dengan sebuah peristiwa saling klaim, siapa yang sedari pagi—lebih dulu—mulai, untuk memperoleh simpati kepala desa. Itu juga akan membuat hubungan antar masyarakat tidak baik.

Dan lagi, kita lihat, ada dua orang pemuda yang masing-masing membawa sepeda motor. Mereka berdua adalah seorang sahabat yang sama-sama ingin melakukan interview kerja. Dalam sebuah perjalanan salah satu dari mereka mengalami kebocoran ban. Yang seharusnya, yang satunya memberikan tumpangan, malah berangkat duluan, alasannya takut terlambat. Ini akan merusak persahabatan mereka. Dan banyak lagi contoh-contoh lain.

Dalam tiga peristiwa di atas, mereka memiliki motif yang sama. Sama-sama ingin yang terdepan dan berlomba-lomba untuk mendapatkan simpati. Dan yang terjadi, tentu saja mereka saling meniadakan, menjatuhkan, dan seterusnya. Padahal mereka berteman bahkan bersahabat dan tentu peristiwa seperti itu akan merusak tali pertemanan mereka yang sedari dulu mereka jalin.

Baca Juga:

Jabatan korlas SD kini jadi momok bagi orang tua murid karena ada saja dramanya

Andai dapat rezeki nomplok Rp100 miliar, saya akan bangun sekolah yang kesejahteraan gurunya terjamin

Ini adalah fenomena yang sering terjadi di negeri ini. Saling meniadakan dan menjatuhkan satu sama lain demi meraup simpati. Mungkin budaya ini juga yang mengakibatkan negeri ini susah maju—selain faktor-faktor lain. Seandainya kita melakukan kerja sama dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, kita akan lebih mudah untuk menggapai apa yang kita ingin capai. Dan kehidupan kita akan diselimuti kedamaian karena tidak ada saling sikut di antara kita.

Mungkin itu semua bisa diubah, seandainya sedari dini kita menanamkan pendidikan karakter di sekolah. Saya rasa, kita harus memulainya dengan menghapus pemeringkatan di rapor SD. Saya juga yakin, secara psikologis, itu akan sangat membantu. Para siswa tidak diajari berkompetisi bila kita menghapus pemeringkatan itu. Dan, mereka juga akan merasakan keasyikan dalam belajar karena tidak ada beban atau tekanan dari orang tua.

Di sisi lain kita perbanyak tugas kelompok. Itu akan membuat mereka selalu bekerja sama. Ini juga akan mempererat tali pertemanan mereka. Mereka juga akan lebih kompak dan tidak saling menjatuhkan. Pasalnya, yang saya tau, tugas individu masih sangat mendominasi di sekolah dasar (SD). Yang juga, hal ini tidak memberikan nilai tambah kekompakan pada para siswa.

Saya meyakini, kalau hal-hal yang sudah saya utarakan di atas dilakukan, ini akan sangat berdampak dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak akan ada lagi saling sikut-sikutan, saling meniadakan, saling menjatuhkan di antara kita. Yang ada kita akan saling membantu, saling menolong, saling mendukung, saling kompak di antara kita. Ini juga akan menjaga tali pertemanan dan persahabatan kita semakin harmonis.

BACA JUGA Sistem Ujian di Sekolah yang Ada di Australia dan Jerman atau tulisan Asep Meshuri lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2020 oleh

Tags: peringkatraporSDSekolah
Asep Meshuri

Asep Meshuri

Lahir di Sampang, Madura, Pada 24 0ktober 1993. Pendiri Rumah Pena Pinggiran—Kegiatan belajar-mengajar dan literasi bagi anak-anak di luar kelas formal (bertempat di desa labuhan, kecamatan sreseh, kabupaten sampang, madura).

ArtikelTerkait

5 Alasan Mengapa Siswa Ogah Berak di Toilet Sekolah, Kamu Pasti Pernah Mengalaminya

5 Alasan Mengapa Siswa Ogah Berak di Toilet Sekolah, Kamu Pasti Pernah Mengalaminya

21 Agustus 2024
Keluh Kesah Alumni Program Akselerasi 2 tahun di SMA, Kini Ngenes di Perkuliahan

Keluh Kesah Alumni Program Akselerasi 2 tahun di SMA, Kini Ngenes di Perkuliahan

18 Desember 2025
Guru Bimbel, Profesi Paling Pengertian di Dunia

Kalau Mau Anak Pintar Cukup Ikut Les atau Bimbel Saja, Sekolah Cuma buat Formalitas

23 Mei 2026
Praktik Akad Nikah di Sekolah Nggak Berfaedah, yang Lebih Penting Masih Banyak!

Praktik Akad Nikah di Sekolah Nggak Berfaedah, yang Lebih Penting Masih Banyak!

9 November 2022
yang menang lomba siswa, yang dapet piala sekolah

Siswa yang Menang Lomba, Sekolah yang Dapat Piala

21 Oktober 2021
Petugas TU, Tugasnya Begitu Penting, tapi Kadang Bertingkah seperti Orang (Sok) Penting

Petugas TU, Tugasnya Begitu Penting, tapi Kadang Bertingkah seperti Orang (Sok) Penting

18 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026
Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Ra srawung rabimu suwung adalah jokes tongkrongan yang sudah tidak relevan dan sebaiknya tidak usah disampaikan

16 Agustus 2026
Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku Mojok.co

Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku

18 Agustus 2026
Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1 Mojok.co

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

18 Agustus 2026
Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026
Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat stres untuk wargi Jogja

Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan

19 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.