Alasan Petani di Desa Saya Tak Kunjung Kaya – Terminal Mojok

Alasan Petani di Desa Saya Tak Kunjung Kaya

Artikel

Punya orang tua yang profesinya sebagai petani di desa memberikan saya banyak pengetahuan. Hidup seorang petani itu, harus banyak-banyak bersyukur. Sebab, hasil dari bertani itu terkadang nggak seberapa. Ya pokoknya di tataran cukup untuk kebutuhan sajalah. Dan kalau suatu waktu lagi bejo, hasil panen melimpah, dan harga pasar cukup tinggi, ya lumayan buat menambah kebutuhan-kebutuhan sekunder dan nambah sesuatu yang memang tak terlalu dibutuhkan.

Kalau di desa saya, biasanya para petani tak jauh-jauh dari menanam padi, jagung, dan cabai. Penentuan apa yang akan ditanam, biasanya tergantung dengan musim yang sedang berlangsung. Kalau lagi kemarau, biasanya sih tanam jagung yang nggak butuh air banyak. Untuk kebutuhan air yang nggak terlalu banyak ini, biasanya petani disini menggunakan mesin bor untuk menaikkan air dari dalam tanah. Jadi, walaupun kemarau, tumbuhan masih dapat pasokan air.

Beda lagi kalau musim penghujan. Biasanya yang ditanam adalah padi. Padi butuh banget sama yang namanya air, tapi nggak boleh kebanyakan juga. Di masa awal penanaman aja, tanah yang akan ditanami itu harus basah untuk nancepin bibit padinya. Kalau kering, kayaknya nggak bisa deh, dan kayaknya juga nggak bakal tumbuh. Sebab biasanya, yang saya lihat itu, bibitnya udah punya akar dan udah ada daunnya. Kan kalau udah ada akar, berarti dia udah butuh “makanan” dan “minuman”. Jadi kalau ditanam tanpa ada “minumannya”—dalam hal ini tanah yang basah—dia bakal kehausan dan bibitnya bakal mati kehausan. Apasih~

Hal ini nggak seperti si jagung yang menanamnya itu dari biji. Biasanya, kalau menanam biji jagung, itu tanahnya harus dilobangi dulu untuk tempatnya berkembang. Setelah dilubangi, baru deh ditaruh sekitar dua atau tiga biji. Kalau jagung itu kayaknya main peluang deh. Di antara dua sampai tiga biji jagung itu, biasanya yang tumbuh hanya satu, lainnya nggak. Nggak tau kenapa, mungkin kalah berantem atau sering di-bully sama kawan jagungnya yang tumbuh.

Lalu, kenapa nggak satu aja? Saya bukan anak pertanian, jadi ya mungkin aja kalau biji jagungnya sendirian, dia bakal kesepian dan nggak ada teman untuk tumbuh. Dan si biji jagung ini merasa dirinya nggak pantes untuk hidup karena nggak ada pendamping atau teman yang bisa diajak ngobrol. Repot sih sebenarnya si jagung ini. Sendirian bisa nggak hidup, berdua atau bertiga malah yang tumbuh hanya satu. Hmm~

Cukup dulu penjelasan ngaconya, kita lanjut ke titik permasalahan. Di desa saya, biasanya dalam seluruh proses awal hingga panen, para petani atau pemilik sawah bakalan menyewa orang-orang yang terampil dalam setiap proses bertaninya. Misal dalam menanam, itu ada ahli menanamnya. Dalam ngebor air dan jagain bor biar nggak dicuri orang, itu ada pendekarnya. Dalam panen, bungkus-membungkus ketika panen, membersihkan hama dan segala hal yang mengganggu proses bertani, itu ada ahlinya masing-masing.

Jadi, dalam satu proses, ada beberapa orang yang akan direkrut untuk menjalankannya. Nah ini masalahnya. Kenapa di judul saya bilang bahwa petani disini tak kunjung kaya, itu karena kebanyakan pakai tenaga manusia untuk proses bertaninya. Sebagai anak kuliahan FEB yang baik hati dan lurus-lurus aja dan ingin menerapkan ilmunya dengan baik, saya cari-cari aja tuh biar pengerjaan beberapa proses bertani bisa lebih cepat.

Ketika saya cari-cari, ada beberapa metode pertanian anyar yang saya rasa bisa untuk diterapkan, yakni dengan membeli mesin untuk menanam dan memanen secara otomatis. Jadi yang gerakin ya si yang punya sawah sendiri dan nggak butuh orang banyak untuk prosesnya. Selain itu, kalau pakai mesin, bisa lebih efisien dengan menekan modal dan mempersingkat waktu menanam. Jadi, intinya nggak ada modal dan waktu yang terbuang sia-sia.

Merasa bakal membawa angin perubahan, dengan menggebu-gebu saya langsung aja bilang sama ayah untuk membeli alat tersebut. Saya jelaskan kegunaannya sekalian menyebut harganya. Untuk harganya, ya, pokoknya masih bisa kebeli lah. Saya juga bilang sama Ibu, bahwa dengan begini, pokoknya hasilnya bisa lebih banyak dengan alasan efisiensi tadi. Kadang juga saya bilang sama beberapa petani biar barengan sepakat untuk beli itu alat.

Yang bikin saya kaget adalah jawaban dari kedua orang tua saya dan para petani lainnya. Mereka menjawab, “Jangan, kasihan. Nanti pekerjaan dan pendapatan mereka berkurang. Kamu mau liat mereka tambah sengsara? Kita nggak tega.” Ini alasan pertama. Kedua orangtua saya dan beberapa petani lainnya, dalam beberapa hal masih punya rasa nggak tegaan dan nggak enakan sama orang.

Malah kalau di sini, minjemin uang yang nggak sedikit, bisa bertahun-tahun nggak kunjung dilunasi. Pengalaman Ibu sih sebenarnya. Saya bilang ke Ibu agar menyuruh orang yang ngutang ini bayar. Orang yang ngutang ini, kayaknya udah sekitar lima tahun lalu minjemnya. Dan ibu saya bilang kalau dia merasa nggak enak kalau diminta, biar orangnya bayar sendiri, katanya. Lah, padahal kan kurs duit itu berubah-ubah. Seratus ribu sekarang, nilainya bisa jadi beda di lima tahun mendatang. Bagi saya sih, selain diminta balik, harusnya yang minjem itu juga nambah, dan ini saya katakan juga. Tapi, malah dijawab, nggak baik kalau ambil bunga. Di sini istilahnya “mabuduk” atau dalam bahasa Indonesianya menjadikan duit yang dipinjam jadi beranak-pinak dan jadi banyak. Dan ibu saya nggak mau ambil itu karena nggak enak minta bunga dan katanya nggak baik kalau ambil bunga. Padahal kan, bunga harusnya jadi kewajiban si peminjam kan ya? Maaf kalau salah, hehe~

Nah, nggak enakan itu alasan pertama. Untuk yang kedua ini, jarang banget saya lihat di daerah saya kuliah, yakni syukuran. Setelah panen, kebanyakan petani sini biasanya hasil dari panen itu nggak semuanya langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan plus sedikit keinginan, tapi biasanya langsung dipotong untuk entah itu untuk mengundang tetangga untuk mabar (makan bareng) yang dibarengi memanjatkan doa-doa, atau langsung diberikan begitu saja.

Saya yang udah dikuliahin di Fakultas yang selalu merujuk pada UUD ( Ujung-Ujungnya Duit) ini tambah penasaran. Dan langsung aja saya tanya sama kedua orangtua saya, kenapa sih harus nggak enakan, bilang ini nggak baik, sama sering-sering bikin acara gituan? Kalau kalau secara itungan bisnis ini memotong keuntungan? Dengan santai mereka menjawab, “Meskipun keuntungan berkurang, tapi hasilnya masih cukup buat hidup selama ini, kan?”

BACA JUGA Mobile Legends dan Orang-orang Menjengkelkan di Dalamnya dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Baca Juga:  Sebenarnya Bisa Nggak sih Kaya Hanya Modal Rebahan?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.